Penyakit Kronis Ini Dapat Sebabkan Sarkoma Kaposi

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Penyakit Kronis Ini Dapat Sebabkan Sarkoma Kaposi

Halodoc, Jakarta - Sarkoma kaposi memengaruhi pembuluh darah dan bisa berkembang pada jaringan lunak di beberapa area tubuh dan terjadi sekaligus. Kondisi ini biasanya terjadi sebagai akibat dari adanya jaringan abnormal yang tumbuh pada bagian bawah kulit, sepanjang area mulut, tenggorokan, hidung, atau organ tubuh lainnya. Umumnya, tumor sarkoma kaposi muncul dengan warna merah atau ungu pada permukaan kulit. 

Jaringan yang berwarna merah atau ungu ini sering kali tidak menimbulkan gejala, meski bisa terasa sangat menyakitkan. Apabila sel kanker sudah menyebar sampai saluran pencernaan atau pada organ paru-paru, perdarahan sangat mungkin terjadi. Sementara itu, tumor yang bersarang pada bagian paru-paru bisa membuat kamu kesulitan bernapas. 

Baca juga: Mengenal Lebih Dalam Tentang Sarkoma Kaposi

Penyakit Kronis yang Sebabkan Sarkoma Kaposi

Sarkoma kaposi sering terjadi karena virus herpes (HHV-8) yang bisa menular dengan mudah melalui hubungan intim yang tidak sehat dan kontak langsung non-seksual seperti yang terjadi pada ibu dan sang janin. Ada empat jenis sarkoma kaposi dengan penyebab yang berlainan, yaitu: 

  • Sarkoma kaposi epidemik. Merupakan bentuk sarkoma kaposi yang umum terjadi. Tipe ini berkembang pada orang-orang yang memiliki penyakit HIV/AIDS stadium 3.

  • Sarkoma kaposi klasik. Jenis ini terutama terjadi pada orang dewasa yang lebih tua dengan keturunan darah yang berasal dari Eropa Timur, Mediterania, dan Timur Tengah. Sarkoma kaposi klasik lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Ciri khasnya adalah munculnya lesi yang pertumbuhannya lebih lambat dari jenis sarkoma kaposi lainnya. 

  • Sarkoma kaposi endemik. Dikenal juga dengan sarkoma kaposi Afrika, karena umum terjadi di Afrika dan lebih sering ditemui pada orang-orang berusia di bawah 40 tahun. 

  • Sarkoma kaposi iatrogenik. Dikenal juga sarkoma kaposi yang terkait dengan transplantasi organ. Pengidap bisa mengembangkan kelainan ini setelah mengonsumsi obat yang menekan sistem imunitas setelah menjalani transplantasi organ.

Baca juga: Apa Hubungannya Sarkoma Kaposi dengan HIV?

Gejala dan Penanganan Sarkoma Kaposi

Sebenarnya, gejala dari sarkoma kaposi beragam, bergantung pada organ yang terinfeksi, dan bergantung pada jenisnya. Namun, gejala awal yang bisa dikenali adalah munculnya bercak pada kulit atau pada mulut bagian dalam dengan warna merah atau ungu, tidak ada tonjolan dan tidak menimbulkan rasa nyeri. Bercak ini kemudian menonjol dan saling mengait menjadi satu. 

Oleh karena termasuk jenis kanker, jadi kamu tidak boleh menganggap kelainan ini remeh. Kamu bisa bertanya langsung pada dokter tentang sarkoma kaposi dengan fitur Tanya Dokter yang ada di aplikasi Halodoc. Bisa juga membuat janji langsung dengan dokter di rumah sakit terdekat. Biasanya, dokter melakukan berbagai pemeriksaan, termasuk biopsi kulit, endoskopi, dan CT scan

Sayangnya, kanker ini secara umum tidak bisa disembuhkan. Meski begitu, perkembangan penyakitnya bisa dilambatkan dengan penanganan yang benar, misalnya dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sarkoma kaposi yang terjadi pada pengidap HIV juga diberi pengobatan untuk mencegah kemunculan virus sekaligus memulihkan kembali imunitas tubuh. 

Baca juga: Jangan Sepelekan, Ini Penyebab Sarkoma Kaposi

Jika ukuran sarkoma kaposi masih relatif kecil dan jumlahnya terbilang tidak terlalu banyak, ada beberapa prosedur yang bisa dilakukan untuk mengobatinya. Ini termasuk kemoterapi, radioterapi, dan krioterapi. Namun, kamu tentu saja harus bertanya dulu pada dokter, supaya penanganan yang kamu lakukan sudah benar. 

Referensi: 
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Kaposi’s Sarcoma.
WebMD. Diakses pada 2019. What Is Kaposi’s Sarcoma?
Cancer. Diakses pada 2019. What Is Kaposi Sarcoma?