• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Penyebab Air Ketuban Habis Sebelum Melahirkan
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Penyebab Air Ketuban Habis Sebelum Melahirkan

Penyebab Air Ketuban Habis Sebelum Melahirkan

2 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 28 Juli 2022

“Jumlah air ketuban selama kehamilan tidak boleh berlebihan apalagi habis. Pasalnya, hal ini bisa membahayakan kondisi janin di dalam rahim.”

Penyebab Air Ketuban Habis Sebelum Melahirkan

Halodoc, Jakarta – Air ketuban adalah cairan yang punya peranan penting dalam pertumbuhan janin. Mulai dari menunjang perkembangan paru-paru, membuat bayi bergerak bebas, menjaga suhu rahim sampai mencegah cedera dari luar.

Jumlahnya pun tidak boleh berlebihan atau kekurangan. Pasalnya, hal ini berpotensi berbahaya bagi si jabang bayi. Ketika air ketuban habis sebelum bayi lahir, dikhawatirkan risiko komplikasi kehamilan semakin tinggi.

Penyebab Air Ketuban Habis Sebelum Persalinan

Jumlah air ketuban yang normal tergantung pada usia kehamilan. Tubuh mulai membuat cairan tersebut sekitar 12 hari setelah pembuahan. Kadarnya terus meningkat hingga puncaknya pada usia kehamilan 36 minggu. Lewat dari itu, kadar air ketuban biasanya menurun.

Melansir dari Cleveland Clinic, cairan ketuban sedikit atau oligohidramnion mempengaruhi sekitar 4 persen ibu hamil. Kondisi ini sering terjadi dalam tiga bulan terakhir kehamilan. Angka ini meningkat menjadi  12 persen pada ibu hamil yang telah melewati due date

Faktor-faktor di bawah ini ditengarai menjadi penyebab oligohidramnion:

  • Kelainan ginjal atau saluran kemih bayi 
  • Masalah plasenta
  • Due date atau tanggal jatuh tempo terlewat lebih dari dua minggu
  • Preeklamsia.
  • Diabetes Dehidrasi
  • Ketuban pecah sebelum persalinan.
  • Twin-to-twin transfusion syndrome, yaitu ketidakseimbangan aliran darah pada bayi kembar dengan satu plasenta.

Bahaya Oligohidramnion yang Tidak Segera Ditangani

Kondisi ini kemungkinan tidak begitu berbahaya jika usia kehamilan sudah cukup untuk dilakukan persalinan. Jika terjadi pada enam bulan pertama kehamilan, risiko komplikasinya bisa berupa:

  • Cacat lahir akibat tekanan di dalam rahim.
  • Kelahiran prematur.
  • Keguguran.
  • Kelahiran mati.
  • Infeksi air ketuban jika pecah lebih awal.

Oligohidramnion yang terjadi pada trimester terakhir (minggu 28 hingga 40) kehamilan, komplikasi dapat mencakup:

  • Tekanan pada tali pusat.
  • Pertumbuhan janin terhambat atau berhenti.
  • Masalah pernapasan akibat paru-paru yang kurang berkembang.
  • Meningkatkan risiko persalinan sesar.
  • Persalinan dini
  • Risiko infeksi jika ketuban pecah terlalu dini

Kenali Tanda-Tandanya

Air ketuban sedikit jarang menimbulkan gejala. Namun, dokter dapat mengindikasikannya melalui tanda-tanda berikut:

  • Keluarnya cairan dari vagina.
  • Rahim berukuran kecil.
  • Bayi sangat jarang bergerak
  • Berat badan tidak bertambah
  • Pernah megalami oligohidramnion di kehamilan sebelumnya

Tidak ada cara yang mampu mencegah oligohidramnion. Meskipun kurangnya cairan ketuban berpotensi serius, kebanyakan kasusnya mudah diobati.  Itu sebabnya, penting untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan setiap bulan supaya kondisi ini cepat terdeteksi. Semakin cepat terdeteksi, oligohidramnion bisa ditangani dengan baik. 

Selain pemeriksaan rutin, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa minum air putih dapat membantu meningkatkan kadar cairan ketuban pada ibu hamil. Penanganan setiap ibu hamil bisa berbeda-beda tergantung pada usia kehamilan. Jika hal ini terjadi di usia 37 minggu, dokter umumnya menginduksi persalinan lebih awal atau operasi caesar.

Punya pertanyaan seputar kehamilan lainnya? Hubungi dokter kandungan melalui aplikasi Halodoc saja. Dokter yang ahli di bidangnya akan menjawab pertanyaan dan mencari solusi terbaik atas keluhan ibu. Jangan tunda agar pertumbuhan janin tetap terpantau, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Oligohydramnios.
Cedars Sinai. Diakses pada 2022. Oligohydramnios.