• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Penyebab Cedera Operasi Bisa Sebabkan Bells Palsy

Penyebab Cedera Operasi Bisa Sebabkan Bells Palsy

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Penyebab Cedera Operasi Bisa Sebabkan Bells Palsy

Halodoc, Jakarta – Operasi dilakukan untuk mengatasi beberapa kondisi medis. Namun, tak jarang ada efek samping yang muncul setelah prosedur operasi dilakukan. Benarkah bell’s palsy salah satunya? Mengapa prosedur operasi bisa menyebabkan seseorang mengalami bell’s palsy? Cari tahu jawabannya di artikel berikut! 

Bell’s palsy berisiko terjadi pada operasi di wajah. Kondisi ini umumnya terjadi karena ada kesalahan selama operasi yang kemudian menyebabkan masalah pada saraf. Nah, gangguan atau kerusakan pada saraf tersebut yang bisa meningkatkan risiko bell’s palsy, yaitu kondisi yang menyebabkan kelumpuhan pada satu sisi wajah. Biasanya, kondisi ini hanya berlangsung sementara. 

Baca juga: Kenali 5 Fakta Penting Bell’s Palsy yang Sebabkan Kelumpuhan Wajah

Mengapa Bell’s Palsy setelah Operasi bisa Terjadi?

Bell’s palsy adalah kondisi yang menyebabkan kelumpuhan atau kelemahan pada salah satu sisi wajah. Penyakit ini juga disebut dengan lumpuh wajah idiopatik. Bell’s palsy terjadi karena ada disfungsi pada saraf wajah. Hal itu kemudian membuat otot-otot di satu sisi wajah menjadi kaku. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan kondisi ini, salah satunya cedera operasi. 

Pengidap bell’s palsy akan kesulitan untuk mengedipkan atau menutup mata. Orang dengan gangguan ini juga akan kesulitan untuk tersenyum karena kekakuan pada wajah. Meski begitu, bell’s palsy umumnya hanya akan berlangsung dalam waktu sementara. Lantas, apa alasan cedera operasi bisa menyebabkan seseorang mengalami bell’s palsy?

Dalam prosedur operasi, ada kemungkinan terjadi kesalahan atau kecelakaan. Pada operasi pada bagian wajah, misalnya operasi plastik, kesalahan seperti itu bisa memicu tekanan atau gangguan pada saraf dan berujung pada kekakuan wajah. Meski begitu, tidak semua operasi pada wajah pasti menyebabkan gangguan ini, tergantung pada lokasi operasi, bagian yang mendapatkan operasi, hingga seberapa rumit operasi tersebut dilakukan.

Baca juga: Inilah Jenis Infeksi yang Berisiko Sebabkan Bell's Palsy

Selain cedera operasi, ada beberapa faktor lain yang bisa memicu bell’s palsy atau peradangan pada saraf wajah. Ada beberapa hal lain yang bisa memicu kondisi ini, salah satunya infeksi virus yang mengakibatkan penyakit, seperti herpes simplex, herpes zoster, adenovirus, rubella, hingga virus gondong. Saat saraf meradang dan membengkak, saraf yang mengontrol otot-otot wajah kesulitan untuk melewati koridor tulang yang sempit dan berujung pada gangguan fungsi. 

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini, salah satunya dengan mengamati gejala yang muncul serta kondisi fisik pengidap penyakit ini. Pemeriksaan berfokus pada area wajah, yaitu dengan meminta melakukan beberapa gerakan, seperti menutup mata atau mengernyitkan kening. Selain itu, ada beberapa tes khusus yang bisa dilakukan untuk memastikan bell’s palsy, di antaranya: 

  • Elektromiografi: Tes ini dilakukan untuk menentukan sejauh mana kerusakan saraf penyebab bell’s palsy terjadi.
  • MRI atau CT scan: Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan jika terdapat gangguan struktural untuk gejala yang timbul.
  • Tes Darah: Pemeriksaan ini untuk menentukan jika terdapat kondisi lainnya yang bisa memicu gangguan pada saraf. 

Diagnosis perlu segera dilakukan jika seseorang menunjukkan tanda bell’s palsy, terutama setelah menjalani prosedur operasi. Dengan begitu, risiko terjadinya komplikasi lain yang lebih parah bisa dihindari. 

Baca juga: Jangan Keliru, Ketahui Mitos Tentang Bell's Palsy

Jika itu yang terjadi, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Biar lebih mudah, kamu bisa menemukan rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc. Atur lokasi dan cari tahu daftar rumah sakit sesuai kebutuhan. Ayo, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Bell's palsy.
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2021. Bell's Palsy.