Penyebab Lansia Rentan Terkena Difteri

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Penyebab Lansia Rentan Terkena Difteri

Halodoc, Jakarta - Bakteri yang masuk ke tubuh kebanyakan dapat menyebabkan infeksi dan penyebarannya terbilang mudah dan cepat. Gangguan ini dapat menyebabkan tersendatnya pernapasan yang mungkin saja berisiko terhadap kematian. Selain itu, semua orang dapat terserang difteri, terutama pada anak-anak dan lansia.

Seseorang yang telah berusia lebih dari 60 tahun memang berisiko terhadap banyak penyakit, termasuk juga difteri. Maka dari itu, pencegahan dari hal-hal yang menjadi penyebab difteri harus terus dilakukan. Berikut adalah beberapa penyebab dari gangguan pernapasan pada lansia!

Baca juga: Ini Penyebab Munculnya Wabah Difteri di Indonesia

Penyebab Lansia Dapat Rentan Mengidap Difteri

Difteri adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri ketika menginfeksi tubuh. Penyebaran dari bakteri ini terbilang mudah dan cepat, sehingga harus segera mendapatkan pengobatan. Gangguan ini dapat memengaruhi hidung dan tenggorokan yang rentan terjadi pada anak-anak dan seseorang di atas usia 60 tahun atau lansia.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae ini akan menyerang hidung dan tenggorokan. Bakteri tersebut akan menyebabkan peradangan pada area tersebut dan mengganggu jalannya pernapasan. Selain itu, kerusakan lainnya mungkin saja terjadi, seperti miokardium, sistem saraf, serta ginjal.

Apa penyebab lansia lebih rentan untuk mengidap difteri? Lansia seperti halnya anak-anak, yaitu memiliki sistem imunisasi yang terbilang lebih lemah. Hal tersebut terjadi pada lansia karena faktor usia yang membuat tubuhnya tidak terlalu kuat untuk melawan bakteri yang masuk ke tubuh. Dengan begitu, ketika bakteri masuk ke tubuh, pertahanannya tidak sekuat ketika muda dulu.

Beberapa hal yang menjadi penyebabnya adalah tidak pernah mendapatkan imunisasi untuk menangkal difteri, yaitu vaksin DTaP. Jika sudah mendapatkan vaksin tersebut tetapi tidak mendapatkan vaksin booster, kemungkinan mengalami difteri saat tua juga dapat terjadi.

Tiap orang harus mendapatkan vaksin yang dapat mencegah difteri setiap 10 tahun sekali. Dengan begitu, tubuhnya akan menjadi lebih kuat untuk menahan bakteri-bakteri merugikan yang dapat mengganggu jalannya pernapasan. Memang, pencegahan lebih baik daripada pengobatan nantinya.

Jika kamu mempunyai pertanyaan perihal gangguan difteri pada lansia, tanyakan saja pada dokter di Halodoc. Caranya mudah, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang kamu gunakan! Selain itu, kamu juga dapat melakukan pemesanan online untuk pemeriksaan fisik terhadap difteri pada beberapa rumah sakit yang bekerjasama dengan Halodoc.

Baca juga: Gejala Difteri pada Anak yang Perlu Ibu Waspadai

Pengobatan terhadap Difteri pada Lansia

Setiap orang yang mengidap difteri harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Hal tersebut dilakukan setelah dipastikan diagnosis yang dilakukan terjadi gangguan pada tenggorokan yang disebabkan infeksi bakteri. Umumnya, dokter akan langsung memberikan anti-toksin khusus melalui suntikan atau infus untuk menetralkan racun.

Apabila infeksi yang terjadi berlanjut, seseorang yang mengidap difteri memerlukan bantuan ventilator yang berguna untuk membantu pernapasan. Pada beberapa kasus, racun tersebut mungkin menyebar ke organ penting lainnya yang membutuhkan perawatan lebih eksklusif pada pengidapnya.

Seseorang yang mengalami difteri harus dalam keadaan isolasi agar tidak menyebarkan penyakitnya. Selain itu, orang sekitarnya yang belum mendapatkan imunisasi harus menghindari kontak dengan orang tersebut. Dengan begitu, penyakit tersebut tidak menyerang orang lain.

Setelah itu, perawatan akan dilakukan untuk menilai status kekebalan pada tubuh, keadaan tenggorokan, dan dosis yang diberikan untuk mencegah difteri. Selain itu, antibiotik mungkin juga akan diberikan sebagai tindakan untuk mencegah gangguan yang lebih parah terjadi.

Rawat inap segera dan intervensi dini memungkinkan seseorang yang terserang difteri untuk cepat pulih. Setelah antibiotik dan anti-toksin mulai bekerja, pengidap gangguan pada pernapasan tersebut harus beristirahat sekitar 4-6 minggu hingga pemulihannya benar-benar penuh.

Baca juga: Harus Tahu, 13 Mitos Imunisasi Ini Resmi dari WHO

Dengan banyak beristirahat, seseorang yang mengidap radang otot jantung karena difteri akan menjadi lebih baik. Orang tersebut dapat pulih dengan cepat setelah menerima vaksin difteri yang juga dapat mencegah kekambuhan. Walau begitu, hal tersebut tidak menjamin kekebalan tubuh seumur hidup.

Referensi:
Medscape. Diakses pada 2019. Which age group is most commonly affected by diphtheria?
Kids Health. Diakses pada 2019. Diphtheria