• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Penyebab Sering Berteriak Bikin Sakit Tenggorokan

Penyebab Sering Berteriak Bikin Sakit Tenggorokan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu mengalami sakit tenggorokan setelah kamu bernyanyi atau berteriak? Jika pernah, bisa jadi kamu mengalami laringitis. Laringitis terjadi ketika ada peradangan pada bagian laring. Laring merupakan bagian dari saluran pernapasan yang menjadi lokasi pita suara. Ketika seseorang sakit tenggorokan akibat laringitis, biasanya pengidap laringitis mengalami beberapa gejala lain yang menjadi tanda dari laringitis.

Baca juga: 4 Aturan yang Harus Ditaati Pengidap Laringitis

Penyebab laringitis beragam dan disesuaikan dengan jenis laringitis yang dialami, yaitu laringitis akut dan laringitis kronis. Nah, berteriak menjadi salah satu penyebab laringitis akut. Lalu, mengapa berteriak menyebabkan laringitis atau sakit tenggorokan? Ini ulasan selengkapnya.

Berteriak Sebabkan Laringitis Akut

Penggunaan laring yang berlebihan bisa menyebabkan sakit tenggorokan dan membuat seseorang mengalami laringitis. Selain sakit tenggorokan, laringitis dapat disertai dengan gejala lain, seperti rasa tidak nyaman pada tenggorokan dan batuk yang tidak kunjung sembuh.

Gejala laringitis akut biasanya terjadi lebih ringan dan bersifat sementara. Jika gejala yang dialami semakin parah dalam jangka panjang, bisa jadi kamu mengalami laringitis kronis. Ini perbedaan dari laringitis akut dan kronis, yaitu:

1. Laringitis Akut

Gejala laringitis akut biasanya langsung dapat dikenali. Menurut National Health Service UK, umumnya gejala yang akan terjadi yaitu suara serak dan terkadang kehilangan suara, sakit tenggorokan, selalu ingin membersihkan tenggorokan, serta bisa mengalami demam.

Ada berbagai penyebab laringitis akut, seperti berbicara berlebihan, bernyanyi, batuk, hingga kebiasaan berteriak. Kebiasaan ini menyebabkan cedera pita suara akibat penggunaan pita suara yang berlebihan. Melansir Healthline, selain cedera pita suara, laringitis akut juga bisa disebabkan infeksi virus dan bakteri.

2. Laringitis Kronis

Dilansir dari Harvard Health Publishing, gejala laringitis kronis yang paling umum terjadi adalah suara serak. Suara serak ini bertahan setidaknya selama dua minggu. Adapun munculnya gejala lain, seperti tenggorokan kering, suara yang mudah terasa lelah, susah menelan, dan terdapat lendir berat di tenggorokan.

Laringitis kronis dapat terjadi akibat adanya paparan suatu zat secara terus menerus dalam waktu yang cukup lama, misalnya kebiasaan merokok, kecanduan alkohol, perubahan pita suara karena faktor usia, infeksi jamur, atau penyakit GERD.

Dilansir dari Mayo Clinic, segera kunjungi rumah sakit terdekat saat kamu mengalami demam tinggi selama beberapa hari, sakit tenggorokan yang parah, dan menyebabkan kamu kesulitan menelan, batuk berdarah, serta kesulitan bernapas. Perlu diketahui bahwa baik orang dewasa maupun anak-anak rentan mengalami laringitis.

Baca juga: Kenali Lebih Dalam tentang Laringitis Kronis

Penuhi Cairan untuk Cegah Laringitis

Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan penyebab gejala yang kamu alami. Kondisi laringitis sendiri dapat diatasi dengan beberapa cara, seperti laringoskopi dan biopsi. Laringitis akut dapat diatasi secara mandiri di rumah dengan melakukan perawatan, seperti memperbanyak air putih, mengonsumsi makanan sehat, berhenti merokok, berbicara dengan pelan-pelan, dan berkumur dengan obat kumur yang melegakan tenggorokan.

Baca juga: Tips Sederhana untuk Mengatasi Laringitis

Laringitis merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah. Rutin vaksinasi flu menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah laringitis. Selain itu, memenuhi kebutuhan cairan tubuh dapat membantu tenggorokan menjadi lebih lembap sehingga menurunkan risiko laringitis, hindari mengonsumsi alkohol, dan berhenti merokok menjadi cara lainnya untuk mencegah penyakit laringitis.

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Laryngitis
National Health Service. Diakses pada 2020. Laryngitis
Healthline. Diakses pada 2020. Laryngitis
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2020. Chronic Laryngitis