Penyebab Seseorang Alami Fistula Trakea Esofagus

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Penyebab Seseorang Alami Fistula Trakea Esofagus

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar kelainan pada anak bernama fistula trakea esofagus? Kelainan ini terjadi dari 1 dari 3 ribu angka kelahiran. Bayi yang mengidap sindrom ini memiliki keabnormalan pada esofagus dan trakeanya. 

Fistula trakea esofagus merupakan pertumbuhan jaringan abnormal yang menyambungkan esofagus (kerongkongan) dan trakea (tenggorokan). Kerongkongan sendiri merupakan pipa yang menghubungkan leher ke perut.

Sementara itu, tenggorokan pipa yang menghubungkan leher dan paru. Di dalam tubuh bayi yang normal, kedua pipa tersebut berada terpisah satu sama lain atau tidak memiliki sambungan. 

Lantas, bagaimana fistula trakea esofagus bisa terjadi? 

Baca juga: Ini yang Dimaksud dengan Fistula Trakea Esofagus

Cacat Lahir hingga Riwayat Keluarga

Sampai saat ini sebenarnya penyebab pasti dari fistula trakea esofagus belum diketahui secara pasti. Namun, ada dugaan kalau kasus fistula trakea esofagus yang terjadi pada anak-anak, merupakan kasus kongenital atau bawaan.

Ketika berada di dalam kandungan, perkembangan trakea dan esofagus dimulai dari satu tabung. Lalu, ketika memasuki minggu ke empat hingga kedelapan setelah pembuahan, maka dinding akan tumbuh memisahkan keduanya menjadi dua tabung terpisah. Nah, ketika dinding tersebut tidak terbentuk dengan baik, maka fistula trakea esofagus bisa terjadi. 

Selian terjadi karena kondisi cacat lahir, fistula trakea esofagus juga mungkin saja terjadi atau diidap seseorang di kemudian hari. Sementara itu, fistula trakea esofagus yang diidap dikemudian hari, umumnya disebabkan oleh neoplasma ganas esofagus serta infeksi dan trauma (non-malignant).

Selain hal di atas ada pula beberapa faktor risiko yang mesti diwaspadai. Misalnya, riwayat keluarga menjadi faktor yang diduga dapat berpengaruh. Selain riwayat keluarga, ibu yang mengonsumsi dekongestan saat hamil trimester pertama juga berisiko menyebabkan janin mengidap kelainan ini. 

Ada pula faktor risiko lainnya. Bayi yang mengidap trisomy 13, 18, atau 21 juga berisiko tinggi mengalami fistula trakea-esofagus. Trisomi 13 (sindrom Patau) sendiri merupakan kelainan genetik serius yang terjadi akibat terbentuknya salinan tambahan kromosom ke-13 di dalam beberapa atau seluruh tubuh. 

Penyebabnya sudah, bagaimana dengan gejalanya? 

Baca juga: Gejala Fistula Trakea Esofagus pada Bayi

Bisa Diamati di Dalam Kandungan

Berbicara gejala fistula trakea esofagus, berarti kita membicarakan banyak gejala. Namun, hal yang mesti ditegaskan, sebenarnya gejala fistula trakea esofagus bisa dideteksi sejak bayi masih di dalam kandungan. Misalnya, lewat pemeriksaan USG kehamilan. 

Nah, andaikan kehamilan ibu menunjukkan adanya masalah, seperti  polihidramnion, tidak adanya cairan di perut, perut berukuran kecil, ataupun adanya kantong esofagus proksimal melebar, sebaiknya kondisi ini mesti diwaspadai. Sebab bila ibu mengalami kondisi di atas, maka risiko bayi dengan fistula trakea esofagus akan lebih besar. 

Bagaimana pada gejala penyakit ini pada bayi yang telah lahir? Gejalanya bisa beragam, seperti:

  • Batuk parah.

  • Tersedak setelah menerima asupan makanan.

  • Sianosis.

  • Muntah.

  • Sekresi lisan tebal.

  • Distress pernapasan. 

  • Perut buncit dan terasa keras.

  • Busa di mulut.

  • Kulit membiru, terutama saat bayi sedang menyusu atau makan.

Ingat, mungkin terdapat beberapa gejala lainnya yang belum disebutkan di atas. Oleh karenanya, segeralah temui atau tanyakan pada dokter bila Si Kecil mengalami kondisi di atas melalui aplikasi Halodoc. Mudah, kan?

Awas, Bisa Memicu Komplikasi

Dalam beberapa kasus, fistula trakea esofagus bisa menyebabkan komplikasi pada pengidapnya. Contohnya, gangguan pernapasan akut, abses paru, nutrisi buruk, bronkiektasis dari aspirasi berulang, kegagalan pernapasan, hingga kematian.

Tak hanya itu saja, tindakan bedah yang dilakukan untuk mengatasi fistula trakea esofagus kadang-kadang juga bisa menyebabkan komplikasi. Misalnya: 

  • Stricture, yang terjadi karena erosi asam lambung esofagus yang pendek.

  • Infeksi dada berulang.

  • Kebocoran isi pada titik anastomosis.

  • Kekambuhan fistula.

  • Tracheomalacia.

  • Disfagia.

  • Gastroesophageal reflux disease (GERD).

  • Gejala seperti asma, contohnya batuk terus-menerus atau mengi.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Encyclopedia of Children's Health. Diakses pada 2019. Tracheoesophageal Fistula.
NCBI. Diakses pada 2019. The treatment strategy for tracheoesophageal fistula.
Stanford Children's Health. Diakses pada 2019. Tracheoesophageal Fistula and Esophageal Atresia.