• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Penyebab Terjadinya Rabun Dekat di Usia Muda
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Penyebab Terjadinya Rabun Dekat di Usia Muda

Penyebab Terjadinya Rabun Dekat di Usia Muda

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 23 Oktober 2020
Penyebab Terjadinya Rabun Dekat di Usia Muda

Halodoc, Jakarta – Berbagai gangguan mata bisa dialami oleh siapa saja, salah satunya adalah rabun dekat. Kondisi yang dikenal juga dengan hipermetropi dapat dialami oleh anak-anak maupun orang-orang yang sudah memasuki lanjut usia. Pengidap rabun dekat akan mengalami kesulitan untuk melihat objek pada jarak dekat. Tidak hanya itu, biasanya pengidap rabun dekat merasakan mata yang lebih tegang dan sakit ketika memaksa untuk melihat objek dalam jarak yang cukup dekat.

Baca juga: Begini Cara Mudah Mengobati Rabun Dekat

Penyebab utama dari kondisi ini adalah bentuk kornea atau lensa mata yang tidak normal. Namun tidak hanya itu, ada beberapa penyebab yang dapat memicu risiko anak-anak atau seseorang dalam usia muda mengalami rabun dekat, misalnya memiliki riwayat keluarga dengan rabun dekat. Jangan sepelekan gejala rabun dekat yang dialami karena kondisi ini dapat tingkatkan risiko komplikasi jika tidak diatasi dengan tepat. 

Penyebab Rabun Dekat di Usia Muda

Rabun dekat atau hipermetropi merupakan kondisi dimana pengidapnya tidak dapat melihat benda atau objek dalam jarak yang cukup dekat. Pengidap rabun dekat justru akan melihat suatu benda dan objek dengan baik jika berada dalam jarak yang cukup jauh. 

Kondisi ini merupakan kelainan refraksi mata yang mata cukup sering terjadi. Umumnya, rabun dekat dapat terjadi ketika bayangan suatu benda tidak jatuh tepat pada retina mata, tetapi jatuh di belakang retina mata. Inilah yang dapat menyebabkan seseorang alami rabun dekat.

Baca juga: Sama Penyakit Mata, Ini Bedanya Rabun Dekat dan Rabun Tua

Lalu, adakah pemicu lain yang dapat tingkatkan risiko rabun dekat di usia muda? Ada berbagai pemicu yang dapat menyebabkan seseorang pada usia muda mengalami rabun dekat, seperti:

  1. Adanya riwayat keluarga dekat dengan kondisi rabun dekat.
  2. Memiliki riwayat penyakit diabetes, sindrom mata kecil, dan gangguan pembuluh darah pada retina.
  3. Kurang mengonsumsi makanan yang memiliki kandungan nutrisi dan gizi baik bagi mata.
  4. Tidak menggunakan penerangan yang baik saat beraktivitas pada malam hari.
  5. Memiliki kebiasaan merokok.
  6. Sering alami paparan sinar matahari secara langsung pada mata.
  7. Rabun dekat juga sangat umum terjadi pada bayi yang baru lahir. Namun, kondisi ini akan membaik seiring pertumbuhan bayi.

Tidak hanya itu, rabun dekat juga sangat rentan dialami oleh siapa saja yang sudah memasuki usia lanjut. Rabun dekat yang terjadi pada lansia berisiko tingkatkan katarak, degenerasi makula, hingga glaukoma. 

Lakukan pencegahan dengan rutin memeriksakan kondisi kesehatan pada rumah sakit terdekat jika kamu merasakan kondisi yang tidak nyaman pada bagian mata. Selain itu, jangan lupa untuk penuhi kebutuhan nutrisi yang baik untuk mata, seperti vitamin A, vitamin C, vitamin E, selenium, dan zink.

Kenali Komplikasi Rabun Dekat

Seseorang yang mengalami rabun dekat ringan mungkin tidak akan mengalami gejala apapun, tetapi rabun dekat yang terbilang cukup berat akan menyebabkan benda yang berjarak dekat terlihat buram, nyeri pada area mata jika dipaksakan melihat, selalu menyipitkan mata jika ingin melihat benda yang dekat, dan juga sakit kepala.

Baca juga: Rabun Dekat Penyakit karena Usia?

Ada beberapa pemeriksaan yang bisa digunakan untuk memastikan rabun dekat yang kamu alami, seperti pemeriksaan mata dan penilaian refraksi. Pengobatan akan dilakukan untuk memfokuskan cahaya jatuh tepat pada retina. 

Pengidap rabun dekat dapat menggunakan kacamata dan lensa kontak yang sesuai dan juga operasi laser. Bila tidak cepat ditangani, hipermetropi dapat menyebabkan beberapa gangguan mata yang lebih buruk, seperti mata juling, mata malas, hingga mata yang lelah. Cari tahu lebih banyak mengenai rabun dekat melalui dokter mata pada aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga melalui App Store atau Google Play!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Farsightedness.
Web MD. Diakses pada 2020. Hyperopia.