• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perbedaan Antara Narkolepsi dengan Sleeping Beauty Syndrome

Perbedaan Antara Narkolepsi dengan Sleeping Beauty Syndrome

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Tidur menjadi hal yang sangat penting sebagai salah satu cara yang bisa kamu lakukan untuk menjaga kesehatan. Bukan hanya masalah gangguan tidur, nyatanya ada beberapa gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan tidur. Beberapa diantaranya adalah narkolepsi dan juga sleeping beauty syndrome

Baca juga: Jangan Anggap Sepele, Gangguan Tidur Membahayakan Kesehatan

Kedua gangguan penyakit ini dapat menyebabkan pengidapnya merasa ngantuk dan tertidur dalam waktu yang sangat panjang. Untuk itu, tidak ada salahnya simak beberapa ulasan mengenai perbedaan narkolepsi dan sleeping beauty syndrome. Dengan begitu, kamu dapat mengatasi kondisi ini dengan tepat.

Narkolepsi

Narkolepsi menjadi salah satu gangguan pada sistem saraf yang menyebabkan pengidapnya mengalami beberapa gejala terkait gangguan tidur, salah satunya rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari. Kondisi ini menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan menurunkan produktivitas. Gejala kantuk berlebihan akan disertai serangan tidur yang menyebabkan pengidap narkolepsi dapat tertidur di mana saja secara tiba-tiba.

Tanda lain yang terjadi pada pengidap narkolepsi ketika munculnya halusinasi pada pengidap saat akan tidur maupun bangun tidur. Kondisi ini akan disertai beberapa gejala lain, seperti gangguan ingatan, sakit kepala, depresi, hingga kelelahan terus-menerus. Lalu, apa yang menjadi penyebab narkolepsi? Umumnya, pengidap narkolepsi memiliki kadar hipokretin rendah. Kondisi ini sangat umum dialami oleh penyakit autoimun. 

Penyakit, seperti tumor otak, cedera kepala, ensefalitis, dan multiple sclerosis rentan meningkatkan kondisi ini. Narkolepsi ringan bisa diatasi dengan mengubah pola tidur. Narkolepsi yang parah perlu diatasi dengan penggunaan obat-obatan yang dapat merangsang sistem saraf pusat, untuk membantu pengidap tetap terjaga pada siang hari.

Baca juga: Yang Perlu Diketahui Tentang Narkolepsi

Sleeping Beauty Syndrome

Berbeda dengan narkolepsi, sleeping beauty syndrome atau yang dikenal juga dengan kleine-levin syndrome adalah kondisi di mana pengidapnya dapat tertidur dalam jangka waktu yang sangat panjang. Meskipun belum diketahui secara pasti, tetapi adanya gangguan pada bagian hipotalamus dan talamus menjadi salah satu faktor yang dinilai memicu kondisi ini. Hipotalamus dan talamus menjadi bagian pada otak yang mengatur nafsu makan, pola tidur, hingga suhu tubuh seseorang.

Jika narkolepsi dapat terjadi secara sementara saat pengidap sedang melakukan aktivitas, sleeping beauty syndrome dapat tertidur selama 20 jam dalam sehari. Ada beberapa gejala yang akan dialami pengidap sleeping beauty syndrome sebelum memasuki masa tidurnya, seperti rasa kantuk yang tidak dapat ditahan, keinginan tidur yang tidak terkendali, halusinasi, disorientasi, dan meningkatkan nafsu makan.

Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mendeteksi sleeping beauty syndrome, seperti tes darah, pemeriksaan psikologis dan sleep study, CT scan, serta MRI. Pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk meminimalkan gejala yang mungkin terjadi. Beberapa jenis obat akan digunakan untuk mengatasi rasa kantuk berlebihan agar tidak mengganggu aktivitas. 

Baca juga: Bukan Malas, Remaja Lebih Sering Terkena Sindrom Putri Tidur

Itulah beberapa perbedaan mengenai kondisi narkolepsi dan sleeping beauty syndrome. Meskipun keduanya membuat pengidap kesulitan menahan rasa kantuk, tetapi penyebab, gejala, dan waktu serangan kantuk yang dirasakan berbeda.

Jangan ragu untuk gunakan aplikasi Halodoc dan bertanya langsung pada dokter jika kamu sering mengalami kantuk yang tidak tertahankan pada siang hari. Kondisi ini perlu diatasi dengan tepat agar tidak menurunkan produktivitas dan kualitas hidup. Yuk, download Halodoc sekarang juga melalui App Store maupun Google Play!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Narcolepsy.
Healthline. Diakses pada 2020. What is Kleine Levin Syndrome (KLS)?