• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perbedaan Gejala Campak Biasa dan Campak Jerman

Perbedaan Gejala Campak Biasa dan Campak Jerman

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Anak-anak terbilang rentan untuk terserang berbagai macam penyakit, mulai dari yang ringan hingga berat. Hal ini terjadi karena sistem imunitas pada tubuhnya yang belum sempurna untuk melindungi dari segala penyebab penyakit. Salah satu penyakit yang rentan terjadi pada anak-anak adalah campak. Gangguan ini dapat menyebabkan ruam merah di seluruh tubuh.

Meski begitu, terdapat beberapa jenis campak yang dapat terjadi pada anak-anak. Selain campak biasa, anak ibu juga memiliki risiko untuk mengalami campak Jerman atau disebut juga dengan rubella. Perbedaan yang dapat terlihat ada pada gejala dari campak biasa dengan campak Jerman. Maka dari itu, ibu harus tahu cara menentukan gangguan yang menyerang dari gejalanya agar penanganan dini dapat segera dilakukan. Berikut ulasan lengkapnya!

Baca juga: Inilah Perbedaan Campak dengan Campak Jerman

Segala Gejala yang Membedakan Antara Campak Biasa dan Campak Jerman

Campak biasa dan campak Jerman adalah gangguan yang sama-sama disebabkan oleh virus. Gangguan ini terbilang mirip, sehingga banyak orang yang sulit untuk membedakannya. Selain itu, kedua penyakit ini tergabung dalam satu vaksin yang biasanya diberikan ke bayi. Penyakit-penyakit ini dapat menyebabkan gangguan yang serius jika tidak segera mendapatkan penanganan karena bisa menimbulkan komplikasi.

Untuk mendapatkan penanganan dini, diagnosis segera perlu dilakukan hanya dengan melihat gejalanya. Maka dari itu, ibu harus tahu gejala apa saja yang timbul saat anak mengidap campak atau campak Jerman. Gejala dari kedua gangguan ini dapat berbeda satu sama lain. Nah berikut ini penjelasan mengenai perbedaan antara gejala campak biasa dan campak Jerman:

  • Gejala Campak

Campak adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dan gangguan ini dimulai dengan gejala seperti pilek, mata merah atau radang (konjungtivitis), batuk, dan demam tinggi lebih dari 40 derajat Celsius. Gejala dari campak biasanya terjadi setelah virus menginfeksi tubuh selama 10 hingga 14 hari.

Setelah beberapa hari, gejala campak yang timbul dapat berupa bintik putih kecil di dalam mulut atau disebut juga bintik Koplik. Anak juga dapat mengalami bintik merah di wajah dan menyebar hingga ke leher, lengan, tungkai, bahkan kaki. Benjolan juga dapat timbul dari beberapa bintik merah yang terbentuk. Saat ruam terjadi, demam dapat tiba-tiba melonjak drastis.

Baca juga: Campak dan Rubella, Serupa tetapi Tidak Sama

  • Gejala Campak Jerman

Penyakit yang disebut juga dengan Rubella ini juga disebabkan oleh virus. Gejala dari gangguan ini dapat muncul setelah 14–21 hari virus masuk ke tubuh dan serangannya terjadi selama 5 hari. Beberapa gejala yang timbul mirip dengan campak biasa, seperti pilek, mata yang meradang dan merah, dan demam yang maksimal berada di suhu 39 derajat Celsius.

Namun pada campak Jerman, gejala yang membedakan adalah kelenjar getah bening yang membesar dan menjadi lembut di dasar tengkorak, belakang leher, dan belakang telinga. Ruam juga dapat terjadi pada Rubella, tetapi lebih mudah untuk memudar. Selain itu, jika terjadi pada wanita muda, nyeri sendi juga dapat dirasakan.

Setelah ibu mengetahui segala perbedaan dari gejala campak biasa dan campak Jerman, maka diagnosis dari gangguan yang berhubungan dengan ruam pada anak dapat dipastikan segera. Penanganan dini terhadap campak dan Rubella penting untuk dilakukan karena dapat terhindar dari beberapa komplikasi berbahaya pada anak.

Baca juga: Bedanya Campak Biasa dan Campak Jerman

Apabila ibu masih memiliki pertanyaan lainnya terkait gejala dari campak biasa dan campak Jerman, dokter dari Halodoc siap membantu. Cukup dengan download aplikasi Halodoc, ibu bisa berinteraksi dengan ahli medis berpengalaman tanpa perlu ke luar rumah yang dapat meningkatkan risiko terserang COVID-19. Nikmati kemudahan tersebut hanya dengan menggunakan gadget yang ada!

Referensi:

CDC. Diakses pada 2020. Measles (Rubeola).
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Rubella.