Perbedaan Penanganan Osteoporosis pada Orang Dewasa dan Bayi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Perbedaan Penanganan Osteoporosis pada Orang Dewasa dan Bayi

Halodoc, Jakarta – Kata siapa osteoporosis cuma bisa dialami oleh lansia ? Faktanya, osteoporosis rentan dialami semua orang bahkan bayi sekalipun. Oleh sebab itu, para ibu harus waspada dengan selalu memerhatikan tumbuh kembang Si Kecil. Kalau Si Kecil mengeluh nyeri di bagian punggung bawah, pinggul, dan kaki, sebaiknya segera temui dokter. Apalagi jika tulang belakang Si Kecil terlihat melengkung, dada yang cekung, atau pincang.

Baca Juga: 5 Manfaat Kalsium untuk Tumbuh Kembang Anak

Lantas, sebenarnya apa sih perbedaan osteoporosis anak dengan orang dewasa? Tentu berbeda, bayi yang mengalami osteoporosis biasanya disebabkan karena ibu kurang memenuhi asupan kalsium selama masa kehamilan. Sedangkan pada orang dewasa, osteoporosis juga bisa disebabkan oleh kekurangan kalsium, cedera atau mengidap kondisi medis tertentu. Menangani osteoporosis pada anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Agar tidak keliru, yuk baca penjelasan berikut ini

Menangani Bayi yang Mengidap Osteoporosis

Hindari mengobati osteoporosis tanpa berdiskusi dulu dengan dokter. Sebab, tidak semua obat osteoporosis untuk orang dewasa bisa dikonsumsi anak-anak. Penanganan osteoporosis untuk bayi difokuskan pada perlindungan dari patah tulang. Ini bisa dilakukan dengan penggunaan kruk, korset atau alat pelindung lainnya.

Pada kasus anak yang berusia lebih besar, jaga dan beri tahu anak untuk menghindari olahraga dan aktivitas yang berisiko menyebabkan cedera. Hal penting lainnya, Ibu perlu memenuhi asupan kalsium, vitamin D, serta protein setiap hari. Olahraga ringan mungkin diperlukan untuk meningkatkan kekuatan tulang Si Kecil. Namun, sebaiknya bicara dengan dokter terlebih dahulu, untuk mengetahui olahraga apa yang aman untuk Si Kecil.

Kalau butuh bicara dengan dokter, lewat aplikasi Halodoc aja! Melalui Talk A Doctor, Ibu bisa memilih dokter anak untuk diajak diskusi terkait masalah kesehatan Si Kecil. Jadi, sekarang tidak perlu repot pergi ke rumah sakit hanya untuk berdiskusi dengan dokter. Yuk, download Halodoc disini. Pada kasus orang dewasa, opsi perawatannya mungkin lebih banyak. Apa saja? Simak tulisan di bawah ini

Baca Juga: Banyak Macamnya, Ketahui 4 Jenis Osteoporosis Ini

Pengobatan Osteoporosis Untuk Orang Dewasa

Pada kasus orang dewasa, pengobatan osteoporosis diukur dari peningkatan risiko dalam dalam 10 tahun kedepan. Ini bisa diketahui melalui hasil tes kepadatan tulang. Kalau hasilnya menunjukan risiko yang rendah, penanganannya bisa berfokus pada hal-hal yang memengaruhi kepadatan dan kekuatan tulang. Namun, jika hasilnya tinggi, obat-obatan mungkin diperlukan. Berikut jenis obat-obatan yang dapat diberikan

1. Bifosfonat

Bifosfonat adalah jenis obat yang paling sering diresepkan bagi pengidap osteoporosis maupun orang-orang yang berisiko tinggi. Contoh obat-obatan bifosfonat, yakni alendronate, risedronate, ibandronate, dan asam zoledronic.

2. Obat Antibodi Monoklonal

Obat ini dianggap lebih efektif meningkatkan kepadatan tulang ketimbang bifosfonat. Obat antibodi monoklonal atau denosumab juga efektif mengurangi kemungkinan semua jenis patah tulang. Biasanya, denosumab diberikan melalui suntikan setiap enam bulan. 

3. Terapi Hormon

Perlu diketahui bahwa, penurunan hormon estrogen atau testosteron bisa menurunkan kepadatan tulang. Penurunan hormon estrogen ini terjadi saat wanita mengalami menopause. Maka dari itu, wanita yang punya risiko osteoporosis mungkin perlu melakukan terapi hormon estrogen.

Pada pria, osteoporosis juga bisa dipicu oleh penurunan kadar testosteron yang terjadi seiring bertambahnya usia. Penggunaan obat-obatan untuk osteoporosis lebih dianjurkan untuk mengobati osteoporosis ketimbang terapi hormon.

Baca Juga: Tak Hanya Uang, Tabungan Tulang Juga Penting

4. Konsumsi Obat Pembangun Tulang

Apabila perawatan-perawatan lainnya tidak dianjurkan, maka seseorang bisa mengonsumsi obat pembangun tulang agar jaringan tulang baru terbentuk. Obat-obatannya dapat berupa teriparatide, abaloparatide, atau romosozumab.