• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perempuan Lebih Rentan Alami Tarsal Tunnel Syndrome?

Perempuan Lebih Rentan Alami Tarsal Tunnel Syndrome?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Menyebabkan sensasi terbakar pada pergelangan dan kaki bagian bawah, tarsal tunnel syndrome adalah penyakit langka yang memengaruhi saraf yang terletak di antara tabung metatarsal. Saraf tersebut berperan penting sebagai sensasi penyerap dan pengendali gerakan pada pergelangan dan kaki. Penyakit ini adalah kelainan saraf yang mirip dengan carpal tunnel syndrome.

Lalu, apakah perempuan lebih rentan mengalami tarsal tunnel syndrome dibanding laki-laki? Tentu saja, tidak. Sebab, kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, tanpa pandang gender dan usia. Namun, pada orang-orang yang pekerjaannya membutuhkan aktivitas fisik berat seperti atlet, tarsal tunnel syndrome dapat rentan menyerang. 

Baca juga: Ketahui Perbedaan Patah dan Keseleo Pergelangan Kaki

Gejala yang Mengganggu

Gejala yang dapat dialami oleh pengidap tarsal tunnel syndrome dapat sangat mengganggu aktivitas, yaitu:

  • Rasa sakit luar biasa, mati rasa, atau kesemutan pada pergelangan kaki hingga ke telapak kaki.
  • Kehilangan kemampuan merasakan pada kaki atau kebas.
  • Rasa sakit yang semakin parah pada malam hari, saat bergerak, dan berkurang saat beristirahat.
  • Rasa sakit juga sering tiba-tiba datang silih berganti.

Seiring waktu, penyakit ini akan semakin membuat hilangnya mobilitas kaki karena saraf yang tidak lagi aktif. Pada beberapa kasus, kehilangan fungsi saraf juga dapat mengakibatkan gaya berjalan yang aneh, tetapi tidak sampai menjadi lumpuh. Jadi, ketika kamu mengalami berbagai gejala yang telah disebutkan tadi, sebaiknya segera download aplikasi Halodoc untuk berbicara pada dokter atau buat janji dengan dokter di rumah sakit, agar bisa segera mendapatkan penanganan.

Berbagai Hal yang Dapat Sebabkan Tarsal Tunnel Syndrome

Penyebab umum dari tarsal tunnel syndrome adalah terjepitnya saraf tibial atau cabangnya di sisi pergelangan dan kaki bagian bawah. Hal ini dapat dipicu oleh kerusakan dari cedera, seperti retak atau terkilir serius. Sementara itu, penyebab lainnya adalah tumor lokal dan kebiasaan salah seperti ukuran sepatu yang tidak sesuai.

Baca juga: Ini Cara Tepat Penanganan Patah Pergelangan Kaki

Namun, ada juga faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko tarsal tunnel syndrome, yaitu:

  • Lemak.
  • Arthritis, rematik atau rheumatoid arthritis.
  • Cedera pada pergelangan kaki.
  • Peradangan pada selubung tendon.
  • Kelainan bawaan berupa telapak kaki yang datar.

Pengobatan untuk Tarsal Tunnel Syndrome

Gejala yang mengganggu akibat tarsal tunnel syndrome dapat dikurangi dengan mengonsumsi obat anti radang dari dokter. Namun, hal itu tidak dapat mengurangi tekanan pada saraf. Jadi, untuk meredakan tekanan pada saraf, kamu perlu mengenakan alas sepatu medis. Alas sepatu medis dapat membantu mendistribusikan ulang berat badan dan menghilangkan tekanan pada saraf pergelangan kaki. 

Sebagai terapi tambahan, mengubah ukuran sepatu juga penting untuk mengurangi tekanan pada pergelangan kaki. Jika perawatan seperti itu tidak juga efektif atau tarsal tunnel syndrome disebabkan oleh penyakit lainnya, dokter akan menyarankan operasi untuk mengurangi tekanan pada saraf.

Namun, perlu diketahui bahwa perawatan dengan operasi memiliki sejumlah risiko dan rasa sakit tidak akan langsung hilang setelah operasi. Selain itu, jaringan parut juga dapat terbentuk di sekitar saraf setelah operasi, kerusakan saraf tidak bisa disembuhkan, dan pemulihan pasca operasi mungkin berlangsung selama beberapa bulan.

Baca juga: Waspada, Kaki Kesemutan Bisa Jadi Tanda Penyakit Ini

Selain pengobatan medis, gaya hidup dan pengobatan rumahan berikut ini mungkin dapat membantu mengatasi tarsal tunnel syndrome:

  • Gunakan obat sesuai petunjuk dari dokter.
  • Banyak beristirahat dan angkat kaki secara teratur.
  • Jaga kebersihan kaki dan periksakan kaki ke dokter secara berkala.
  • Gunakan sepatu yang ukurannya pas untuk setiap aktivitas.
  • Jangan berolahraga selama masa pengobatan, karena hanya akan membuat penyakit bertambah buruk.



Referensi:
National Center for Biotechnology Information. Diakses pada 2020. Tarsal Tunnel Syndrome.
National Organization for Rare Disorders. Diakses pada 2020. Tarsal Tunnel Syndrome.
Healthline. Diakses pada 2020. Recognizing and Treating Tarsal Tunnel Syndrome.