Perkembangan Bayi 20 Bulan

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Perkembangan Bayi 20 Bulan

Halodoc, Jakarta – Banyak hal yang sudah dipelajari bayi selama 20 bulan hidupnya, di mana pada usia ini orangtua bisa mulai mengajarkan cara untuk buang air sendiri. Jika selama ini bayi terbiasa mengenakan popok sekali pakai, maka sudah waktunya untuk beranjak. Secara perlahan, ayah dan ibu bisa mulai mengajari bayi untuk mengenali keinginan untuk buang air kecil atau buang air besar. 

Beri gambaran jelas pada anak mengenai proses buang air kecil atau besar, dan mintalah ia untuk memberi tahu saat tandanya muncul. Saat anak mengatakan ia ingin buang air kecil, ajak Si Kecil ke toilet dan bantu ia berkemih. Terapkan hal ini secara perlahan, sampai anak terbiasa untuk melakukannya. Tidak perlu khawatir jika anak masih menunjukkan tanda tidak siap. Memang butuh waktu yang tidak sebentar untuk membiasakannya, sesekali tidak ada salahnya untuk kembali mengenakan popok pada sang buah hati, misalnya saat akan bepergian. 

Baca juga: Perkembangan Bayi 10 Bulan

Mendeteksi Penyakit pada Bayi 20 Bulan 

Memasuki usia 20 bulan, Si Kecil biasanya juga sudah mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan, jika ada. Salah satu penyakit yang bisa mulai terdeteksi adalah asma. Meski begitu, mendeteksi penyakit asma pada anak, terutama yang berada di bawah usia 5 tahun bukanlah perkara yang mudah. Asma pada anak-anak memiliki spesifikasi yang perlu ditangani dengan cara berbeda yang tergantung pada usia dan gejala yang muncul. 

Hingga kini, belum diketahui apa yang menjadi penyebab asma bisa terjadi. Namun, kondisi ini sering dikaitkan dengan beberapa faktor, seperti faktor genetik atau bawaan lahir, polusi udara, serta kelahiran prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah. Risiko penyakit ini juga bisa meningkat akibat paparan asap rokok, debu, udara dingin, serta infeksi saluran pernapasan yang terjadi secara berulang dan bersifat parah. 

Baca juga: Perkembangan Bayi 12 Bulan

Asma pada bayi biasanya ditandai dengan gejala utama berupa mengi atau suara bernada tinggi atau pelan saat mengembuskan napas. Bayi juga rentan mengalami sesak napas serta batuk yang bersifat menetap atau tidak kunjung sembuh. Pada bayi, asma bisa dideteksi saat memberikan ASI. Jika bayi merasa kesulitan dan tidak mau menyusu, bisa jadi itu tanda bahwa ia mengalami sesak napas yang bisa menjadi tanda penyakit asma. 

Kabar buruknya, mendeteksi dan menangani asma pada bayi bukanlah hal yang mudah. Asma adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan, tetapi gejalanya bisa dikendalikan. Penyakit ini harus segera diobati agar anak bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan normal. Selain itu, bisa terjadi pada usia berapa saja yang umumnya gejala akan mulai muncul pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. 

Selain mendapatkan pengobatan, anak yang mengidap asma juga harus selalu dijauhkan dari sumber pencetus gejala asma. Peran orangtua sangat penting dalam mendampingi anak yang mengidap asma, terutama jika penyakit ini sudah terdeteksi sejak bayi usia 20 bulan. Pastikan untuk mengenali dan mencatat gejala yang muncul, seberapa sering asma kambuh serta kenali faktor pemicunya. Jika gejala asma muncul dan menyebabkan kondisi yang parah, segera bawa Si Kecil ke rumah sakit untuk mendapat penanganan medis. 

Baca juga: Ketahui Ciri-Ciri Asma pada Anak yang Sering Diabaikan Orangtua

Cari tahu lebih lanjut seputar gejala asma pada bayi dan perkembangan apa yang terjadi pada usia 20 bulan dengan bertanya pada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips merawat bayi dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Parents. Diakses pada 2019. 20 Month Old Child Development.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Treating asthma in children under 5.