• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perlukah Pengidap Insomnia Periksa ke Psikiater?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perlukah Pengidap Insomnia Periksa ke Psikiater?

Perlukah Pengidap Insomnia Periksa ke Psikiater?

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 27 Januari 2022

“Insomnia jarang bisa sembuh dengan sendirinya dan kerap dibutuhkan penanganan dari dokter. Selain dokter, orang yang mengalami insomnia mungkin juga perlu menemui psikiater. Ini alasan mengapa psikiater dibutuhkan untuk mengatasi insomnia.”

Perlukah Pengidap Insomnia Periksa ke Psikiater?

Halodoc, Jakarta – Insomnia ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk mendapatkan waktu tidur yang cukup. Kondisi ini disebabkan oleh kesulitan untuk tertidur pulas. Selain itu, insomnia juga membuat pengidapnya terbangun lebih awal dari waktu tidur yang dibutuhkannya. Kondisi yang satu ini sebenarnya lebih rentan dialami oleh lansia dan orang dewasa. Pada lansia dan orang dewasa, waktu tidur yang dibutuhkan adalah sekitar 7-9 jam.

Kurangnya waktu tidur yang terus menerus bisa menjadi pertanda insomnia. Apabila terjadi dalam waktu yang cukup panjang, insomnia kronis bisa memberikan dampak yang signifikan untuk kehidupan sehari-hari. Insomnia bisa membuat pengidapnya lekas marah, kelelahan dan tidak fokus. 

Lantas, apakah seseorang yang mengalami insomnia juga perlu menemui psikiater? Simak penjelasan berikut ini.

Apakah Pengidap Insomnia Perlu ke Psikiater?

Insomnia sering dikaitkan dengan penurunan kualitas hidup pengidapnya, bahkan sampai memengaruhi kondisi mental dan emosionalnya. Jika kondisi tersebut sudah terjadi, seseorang yang mengalami insomnia mungkin perlu menemui psikiater. Psikiater akan merekomendasikan sejumlah terapi untuk membantu mengatasi insomnia. Terapi perilaku kognitif adalah salah satu jenis terapi yang direkomendasikan untuk pengidap insomnia.

Melalui terapi ini, pengidap bersama dengan psikiater akan mengidentifikasi pola pikir dan perilaku yang menghambat kualitas tidur. Perawatannya melibatkan terapi relaksasi, terapi bicara, dan pendekatan lain seperti biofeedback. Bersama dengan dokter, pengidap insomnia mungkin memerlukan resep obat untuk mengobati insomnia.

Kendati demikian, pil tidur ini bisa memicu efek samping dan ketergantungan. Oleh karenanya, pil tidur hanya akan diresepkan apabila pengobatan lain tidak berhasil atau mengalami insomnia yang parah.

Alami Gejala Ini? Hati-Hati Insomnia

Tak sedikit orang yang tidak bisa membedakan antara kesulitan tidur biasa dan insomnia. Kamu dikatakan mengalami insomnia apabila mengalami kesulitan tidur setidaknya tiga malam per minggu selama lebih dari tiga bulan. Bukan hanya itu, insomnia dapat menimbulkan dampak negatif di siang hari sehingga menghasilkan gejala berikut:

  • Kelelahan atau kantuk di siang hari.
  • Malaise atau merasa tidak enak badan.
  • Konsentrasi yang buruk.
  • Gangguan kinerja.
  • Berkurangnya energi atau motivasi.
  • Masalah perilaku seperti, hiperaktif, impulsif dan agresi.
  • Ketidakmampuan untuk tidur siang.
  • Sakit kepala, sakit perut, dan keluhan nyeri kronis.

Selain gejala di atas, gangguan mood, seperti kecemasan atau depresi juga bisa timbul akibat insomnia. Depresi bisa berhubungan dengan bangun pagi dan kesulitan untuk kembali tidur. Sementara kecemasan mungkin membuat pikiran kamu berdengung di malam hari sehingga membuat kamu sulit tidur akibat selalu khawatir.

Selain itu, insomnia dapat mempengaruhi kadar serotonin dan fungsi lobus frontal otak. Lobus frontal bertanggung jawab atas berbagai fungsi eksekutif, yang merupakan kunci dalam membuat pilihan rasional dan interaksi sosial dengan orang lain. Penurunan kadar serotonin yang sangat signifikan akibat insomnia lama kelamaan bisa memicu pikiran untuk bunuh diri, atau bahkan dorongan langsung untuk bunuh diri.

Segera periksakan diri ke dokter ataupun menemui psikiater bila kamu mengalami tanda-tanda insomnia. Supaya mudah dan praktis, buat janji rumah sakit melalui aplikasi Halodoc saja. Jangan tunda untuk memeriksakan diri sebelum kondisinya semakin memburuk. Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi :
JAMA Network. Diakses pada 2022. I Have Insomnia—What Should I Do?.
Psychiatrist.com. Diakses pada 2022. Why Treat Insomnia?
Psychiatrist.com. Diakses pada 2022. Evaluation and Management of Insomnia in the Psychiatric Setting.
Verywell Health. Diakses pada 2022. What Is Insomnia?
National Health Services. Diakses pada 2022. Insomnia.