• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perlukah Perimenopause Diperiksakan ke Dokter?

Perlukah Perimenopause Diperiksakan ke Dokter?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Perlukah Perimenopause Diperiksakan ke Dokter?

Halodoc, Jakarta - Menopause merupakan salah kondisi yang kerap kali membuat wanita merasa resah. Alasannya simpel, ketika menopause datang, maka akan ada sederet masa pada tubuh. Mulai dari masalah hormonal hingga psikis yang membuat banyak wanita kewalahan untuk menghadapinya. Akan tetapi, sebelum masa menopause tiba, ada perimenopause yang datang lebih awal. 

Perimenopause sendiri merupakan periode transisi ketika wanita memasuki masa berakhirnya menstruasi (menopause). Sama seperti menopause, di kondisi perimenopause, wanita akan mengalami berbagai gejala pada tubuhnya. Lantas, perlukah seorang wanita memeriksakan kondisi perimenopausenya ke dokter? 

Baca juga: Usia Berapa Wanita Alami Perimenopause?

Ada Gejala yang Mesti Diwaspadai

Ketika memasuki masa perimenopause, seorang wanita akan mengalami beragam gejala pada tubuhnya. Gejala ini timbul akibat perubahan kadar hormon di dalam tubuh. Seperti apa gejalanya? Gejala utamanya adalah siklus menstruasi yang tak teratur, bisa lambat atau cepat, atau pula  berlangsung lebih singkat atau lama.

Namun, ada juga gejala lain yang bisa muncul. Misalnya, hot flashes, nyeri saat berhubungan intim, gairah seksual menurun, gangguan tidur, perubahan kadar kadar kolesterol, depresi, hingga gangguan kognitif. 

Hal yang perlu ditegaskan, tak semua wanita dapat menoleransi gejala-gejala di atas. Nah, mereka yang tak bisa berhadapan dengan gejala di atas, maka aktivitas sehar-hari dapat terganggu. Oleh sebab itu, segeralah temui dokter bila gejala perimenopause cukup mengganggu. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc.

Di samping itu, segeralah temui dokter bila mengalami gangguan menstruasi seperti: 

  • Terjadi perdarahan vagina setelah berhubungan intim.

  • Muncul gumpalan darah saat menstruasi.

  • Perdarahan yang banyak saat menstruasi (mengganti pembalut tiap jam).

  • Muncul bercak-bercak darah di luar waktu menstruasi. 

Baca juga: Cegah Perimenopause Dini dengan 5 Langkah Ini

Banyak Faktor yang Pemicunya

Perimenopause dan menopause merupakan hal yang pasti dialami oleh setiap wanita. Perimenopause ini terjadi akibat kadar hormon estrogen dan progesteron yang turun seiring usia bertambah.

Hal yang perlu diingat, datangnya waktu perimenopause pada tiap wanita bisa berbeda-beda. Meski kondisi ini bisa terjadi pada usia 30–40, tetapi ada pula beberapa wanita yang mengalaminya lebih cepat. Kok bisa? Hal ini tentunya disebabkan oleh faktor-faktor yang membuat perimenopause datang lebih dini. 

  • Kebiasaan merokok. Wanita yang merokok akan mengalami menopause 1–2 tahun lebih cepat, daripada mereka yang tidak merokok. 

  • Keturunan. Wanita dengan riwayat keluarga menopause dini, berisiko mengalami hal serupa.

  • Pengobatan kanker. Pengobatan kanker lewat kemoterapi atau radiasi juga dikaitkan dengan menopause dini. 

  • Prosedur medis tertentu. Salah satunya histerektomi, yaitu proses pengangkatan rahim wanita. Pengangkatan rahim ini bisa meningkatkan risiko menopause dini. Apalagi bila kedua indung telur (ovarium) juga ikut diangkat, makin besar risiko terjadinya menopause dini.

Baca juga: Jelang Menopause, Wanita Lebih Sering Vertigo?

Lebih Siap Berhadapan dengan Perimenopause

Banyak wanita yang ketar-ketir, hingga panik setengah mati ketika berhadapan dengan perimenopause. Alasannya simpel, perimenopause ini akan menyebabkan berbagai keluhan pada tubuhnya. Mulai dari siklus menstruasi yang tidak teratur, hot flashes (sensasi gerah yang muncul mendadak), menurunnya gairah seksual, gangguan kognitif, pengeroposan tulang, hingga gangguan tidur. Banyak, bukan? Makanya tak heran kalau wanita merasa khawatir ketika mesti berhadap dengan perimenopause. 

Baca juga: Penyebab Wanita Alami Perimenopause

Ingat, kita tidak bisa melawan waktu, dengan kata lain, mau tak mau perimenopause akan tiba. Nah, meski rasa khawatir tidak bisa terhindarkan, tetapi setidaknya ada beberapa upaya yang bisa kita coba untuk mengatasi gejala-gejala perimenopause. Berikut ini tipsnya: 

  • Rutin berolahraga.

  • Berhenti merokok.

  • Tidur yang cukup dan cobalah tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari.

  • Kurangi konsumsi alkohol.

  • Miliki berat badan yang sehat dan ideal.

  • Dapatkan kalsium yang cukup dalam menu harian.

  • Tanyakan pada, perlu atau tidak mengonsumsi multivitamin.

  • Obat-obatan seperti obat pengganti hormon hingga antidepresan. Ingat, obat-obatan ini hanya diminum berdasarkan resep dan rekomendasi dokter. 

Selain hal-hal di atas, andaikan dirimu mengalami dorongan seksual yang menurun, cobalah tanyakan pada dokter. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Nantinya dokter mungkin dapat  merekomendasikan konselor atau terapis untuk membantumu dan pasangan mengatasi masalah ini. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases and Conditions. Perimenopause.

WebMD. Diakses pada 2020. Perimenopause.