• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pernah Alami Toxic Relationship Bisa Picu Philophobia

Pernah Alami Toxic Relationship Bisa Picu Philophobia

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Cinta bisa menjadi pengalaman yang menakjubkan, tetapi juga bisa traumatis bila sebelumnya kamu mengalami kegagalan yang emosional. Pengalaman patah hati yang traumatis bisa membuat seseorang enggan untuk memulai hubungan yang baru. 

Pernah mengalami toxic relationship juga bisa memicu seseorang mengalami philophobia; ketakutan akan rasa sakit yang berulang dianggap tidak sebanding dengan perasaan atau takut jatuh cinta itu sendiri. Bentuk dari reaksi ketakutannya adalah menghindari hubungan dengan alasan dapat terhindar dari rasa sakit. 

Takut Jatuh Cinta atau Posesif Berlebihan

Seseorang bisa disebut memiliki kondisi philophobia ketika mengalami beberapa gejala berikut:

1. Menjadi sangat takut pada cinta, sehingga mereka tidak bisa terbuka kepada siapa pun. Mereka memang memiliki hubungan yang berkomitmen, tetapi tidak dapat mempertahankannya.

2. Kebahagiaan mereka sering kali bergantung pada tanggapan yang mereka terima dari orang yang mereka cintai. Hal ini dapat membuat mereka tetap tegang dan cemas sepanjang waktu. Mereka mungkin sangat posesif atau, sebaliknya, mereka mungkin menjauhi orang yang mereka cintai.

Baca juga: 4 Cara Keluar dari Toxic Relationship

3. Orang dengan philophobia kerap mengalami kecemasan yang parah karena tekanan komitmen seperti; kegelisahan, pernapasan pendek, detak jantung cepat, mual, nyeri dada, dan lain-lain. Ini adalah beberapa gejala fisik yang dapat dikaitkan philophobia.

4. Serangan panik dan kecemasan juga sering terjadi untuk mereka dengan kondisi philophobia. Hal ini bisa sangat mengganggu karena pengidapnya akan merasakan sensasi pusing, atau merasa ingin melarikan diri, menangis, gemetar, berkeringat deras, bahkan merasa seolah-olah akan pingsan.

Sampai saat ini philophobia belum masuk bagian Diagnostic and Statistical Manual (DSM), sehingga dokter kemungkinan belum bisa memberikan diagnosis resmi kondisi philophobia. Namun demikian, carilah bantuan psikologis jika rasa takut akan jatuh cinta semakin membebani. 

Seorang dokter atau terapis akan mengevaluasi gejala serta riwayat medis yang kamu alami. Butuh rekomendasi profesional medis untuk menangani kondisi psikologismu? Tanyakan saja langsung ke Halodoc

Kamu bisa menanyakan masalah kesehatan apa pun ke Halodoc dan dokter terbaik di bidangnya akan memberikan solusi. Caranya cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bahkan bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Baca juga: Bukan Cuma Fisik, Pelecehan Emosional juga Harus Diwaspadai

Perlu diketahui, kalau philophobia adalah gangguan emosional yang serius. Philophobia yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko komplikasi:

1. Isolasi sosial.

2. Depresi dan gangguan kecemasan.

3. Penyalahgunaan narkoba dan alkohol.

4. Bunuh diri.

Bagaimana Sembuh dari Trauma Toxic Relationship?

Toxic relationship dapat mengakibat stres pasca trauma yang pada akhirnya memicu philophobia. Sangat penting untuk sembuh dari trauma toxic relationship supaya kamu bisa melanjutkan hidup dan kembali memulai hubungan baru. 

Bagaimana sembuh dari trauma toxic relationship? Pada dasarnya, jenis terapi yang diterima haruslah disesuaikan dengan keadaan spesifik masing-masing orang. Menjalani konsultasi psikolog, terhubung dengan komunitas yang memberikan semangat, menemukan koping sistem yang tepat adalah beberapa upaya sembuh dari trauma toxic relationship

Baca juga: Waspada Potensi Psikopat Jika Pasangan Lakukan 5 Hal Ini

Selain itu, kamu juga bisa menerapkan langkah-langkah berikut:

1. Boleh sedih tapi jangan berlarut-larut. Menangis baik untuk melepaskan emosi, tetapi yang perlu diingat kamu tetap harus melanjutkan hidup. 

2. Jangan mengontak sumber toxic relationship. Kamu mungkin tergoda untuk menelepon atau mengirim sms kepada orang yang bersangkutan. Tahanlah godaan tersebut dan cobalah menyendiri untuk sementara waktu. Lebih baik menjadi single daripada kembali ke hubungan yang tidak sehat.

3. Menjadi kreatif. Mungkin tampak menakutkan untuk mencoba sesuatu yang baru. Hal ini terutama berlaku untuk orang-orang yang baru saja menjalin hubungan yang tidak sehat, di mana pasangan mereka mungkin mengatakan bahwa mereka tidak pandai dalam segala hal, atau menertawakan mereka tentang sesuatu yang mereka inginkan. 

Sekarang si mantan tidak ada untuk menghentikanmu. Cobalah bergabung dengan komunitas yang menarik, memulai proyek, memasak makanan enak, mempelajari alat musik, bahasa, atau apapun yang menurutmu membantu mengalihkan perhatian dari hubungan tidak sehat tersebut dan kembali melanjutkan hidup.

4. Kembali pada apa yang kamu sukai sebelumnya. Apakah kamu sempat meninggalkan aktivitas atau hobi tertentu saat menjalin hubungan dengan si toxic? Lari, melukis atau? Kembalilah ke aktivitas yang dulu kamu senangi. 

5. Fokus pada masa sekarang dan cintai dirimu. Sangat mudah untuk memikirkan masa lalu, daripada memikirkan hari ini dan masa depan. Jangan khawatir tentang apa yang akan terjadi, dan berkonsentrasilah pada apa yang terjadi sekarang. 

Apa yang terjadi telah terjadi tidak dapat diubah. Kamu layak mendapatkan cinta dan kebahagiaan sejati. Semakin kamu fokus pada bagaimana mencintai diri, semakin mudah menemukan hubungan yang sehat.

Referensi:
Caring Communities.org. Diakses pada 2020. THE LINK BETWEEN ABUSIVE RELATIONSHIPS AND PTSD.
Break the cycle. Diakses pada 2020. Recovering from an Unhealthy Relationship.
Healthline. Diakses pada 2020. What Is Philophobia, and How Can You Manage Fear of Falling in Love?