Phlegmon Dapat Terjadi pada Rongga Mulut, Ini Sebabnya

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Phlegmon Dapat Terjadi pada Rongga Mulut, Ini Sebabnya

Halodoc, Jakarta - Menjaga kesehatan gigi merupakan hal yang wajib dilakukan setiap hari. Sikat gigi setidaknya harus dilakukan dua kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur. Hal ini penting untuk mencegah bakteri berkembang di sana. Pada kasus yang cukup jarang,  bakteri di mulut seperti dari kelompok Streptococcus A atau Staphylococcus aureus bisa menyebabkan munculnya phlegmon.

Phlegmon adalah kondisi saat munculnya peradangan yang meluas pada jaringan ikat dan jaringan lunak akibat infeksi. Istilah phlegmon mungkin terdengar asing, tetapi phlegmon dapat dikaitkan dengan dua kondisi yaitu abses dan selulitis. 

Baca juga: Perbedaan Antara Phlegmon dan Abses

Penyebab Phlegmon

Sebagian besar kasus phlegmon disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus grup A dan Staphylococcus aureus. Bakteri tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui berbagai jalur seperti lewat sentuhan antara manusia yang terinfeksi, cakaran binatang, gigitan serangga, atau dari luka terbuka yang bisa membentuk peradangan di bawah kulit.

Sementara jika terjadi di mulut, bakteri penyebab phlegmon dapat berasal dalam rongga mulut itu sendiri dan sangat berisiko memicu phlegmon pada mereka yang telah menjalani pembedahan di area mulut. Perlu diwaspadai, bakteri yang sama juga bisa memasuki tubuh lebih dalam lagi, seperti ke rongga perut dan usus buntu untuk membentuk phlegmon.

Apa Saja Gejala dari Phlegmon?

Saat mengidap phlegmon, seseorang akan merasakan gejala seperti kelelahan, demam, dan menggigil. Nanah juga bisa menyebar ke jaringan ikat longgar, tanpa batas area peradangan yang jelas. Beberapa gejala lain saat phlegmon antara lain: 

  • Lapisan kulit berwarna merah padam;

  • Terasa sangat sakit;

  • Jaringan ikat dan jaringan otot mati akibat infeksi;

  • Peradangan edema ringan;

  • Penyebaran abses yang kemungkinan meluas;

  • Limfadenitis;

  • Lymphangitis;

  • Meningkatnya nilai laju endap darah (erythrocyte sedimentation rate/ESR).

Baca juga: Ini 4 Fakta Phlegmon yang Perlu Diketahui 

Apa Saja Langkah untuk Diagnosis Phlegmon?

Phlegmon masuk dalam kategori infeksi yang sulit dikeringkan. Jadi, untuk memastikan apakah seseorang mengidap penyakit ini adalah melalui drainase abses di kulit yang terinfeksi atau disebut percutaneous abscess drainage (PAD).

Phlegmon yang melekat dan tidak terindikasi kotoran biasanya lebih sulit dibersihkan dengan tusukan jarum medis. Setelah phlegmon kempes, proses pengeringan dilanjutkan dengan menggunakan kateter. Proses pengairan ini menggunakan saline atau agen fibrinolitik dilakukan jika kondisi phlegmon mengeluarkan darah, kotoran, dan lengket.

Keberadaan phlegmon pada tubuh bisa dipastikan melalui beberapa cara, antara lain:

  • CT scan atau MRI;
  • Contrast enhanced ultrasound (CEUS), untuk mendiagnosis dan membedakan antara phlegmon intra-abdominal dan abses;
  • Operasi.

Bagaimana Cara Mengatasi Phlegmon?

Pengobatan phlegmon bergantung pada lokasi dan beratnya infeksi yang terjadi. Namun, secara umum kondisi ini bisa diobati menggunakan antibiotik dan melakukan operasi. Untuk phlegmon kulit yang ringan, pengidapnya bisa diberikan antibiotik oral. Namun prosedur operasi juga dibutuhkan untuk membersihkan jaringan mati dari area tersebut dan menghentikan penyebaran infeksi.

Penting diketahui bahwa phlegmon pada mulut dapat menyebar dengan cepat dan mengancam jiwa. Untuk itu, penggunaan antibiotik dini secara agresif disarankan bersamaan dengan pemasangan selang pernapasan ke dalam trakea saluran pernapasan. Setelah itu, pengidapnya perlu menjalankan operasi untuk mengeringkan area yang terkena phlegmon dan menghentikan penyebaran infeksi.

Baca juga: Begini 5 Cara untuk Mencegah Phlegmon

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. What is Phlegmon.
Epain Assit. Diakses pada 2019. Phlegmon: Causes, Symptoms, Treatment, Classification, Diagnosis.