• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pilihan Pengobatan untuk Mengatasi Atresia Bilier

Pilihan Pengobatan untuk Mengatasi Atresia Bilier

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta - Ada banyak jenis cacat lahir yang bisa dialami bayi. Salah satunya adalah atresia bilier, yaitu kondisi ketika saluran empedu bayi membengkak dan mengalami sumbatan, karena tidak berkembang dengan normal. Padahal, saluran empedu punya peran penting dalam penghancuran lemak, menyerap vitamin larut lemak, dan membuang racun dari tubuh.

Pembengkakan dan penyumbatan saluran hati pada kasus atresia bilier dapat membuat cairan empedu meningkat dan menyebabkan kerusakan hati. Akibatnya, hati jadi sulit menyaring racun-racun dalam tubuh. Jika tidak ditangani, atresia bilier juga dapat meningkatkan risiko kerusakan dan sirosis hati, yang dapat berakibat fatal. 

Baca juga: Mengidap Atresia Bilier, Ini yang Terjadi pada Tubuh Bayi

Pengobatan untuk Atresia Bilier

Mengutip National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, atresia bilier dapat diatasi dengan beberapa metode berikut:

1.Prosedur Kasai

Prosedur kasai untuk mengatasi atresia bilier dilakukan dengan mengangkat saluran empedu yang tersumbat dan mengambil sebagian usus untuk menggantinya. Kemudian, cairan empedu akan dialirkan langsung ke usus kecil. Namun, risiko gagalnya prosedur ini tetap ada. Jika gagal, transplantasi hati biasanya perlu dilakukan dalam 1-2 tahun. 

2.Transplantasi Hati

Seperti namanya, transplantasi hati adalah prosedur untuk mengganti hati yang rusak dengan yang baru dari pendonor. Namun, setelah prosedur selesai dilakukan, bayi biasanya disarankan untuk minum obat secara rutin, untuk mencegah penolakan sistem kekebalan tubuh terhadap organ hati yang baru. 

Sementara itu, sebagai pengobatan rumahan, orangtua perlu memahami aturan khusus dalam pemberian makan, karena bayi dengan atresia bilier rentan mengalami kekurangan gizi. Meski butuh kalori lebih, bayi dengan atresia bilier juga dapat mengalami kesulitan dalam mencerna lemak. Jadi, orangtua sebaiknya berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter gizi anak.

Agar lebih mudah, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter gizi anak lewat chat atau di rumah sakit dengan terlebih dulu membuat janji. Dokter gizi anak biasanya akan memberi saran yang tepat mengenai kebutuhan gizi bayi dengan atresia bilier. Namun, jika telah menjalani transplantasi hati, biasanya bayi dapat makan dengan normal.

Baca juga: Bagaimana Diagnosis Atresia Bilier Dilakukan?

Kenali Gejala Atresia Bilier

Awalnya, gejala atresia bilier ditandai dengan menguningnya bagian putih mata dan kulit. Kondisi ini dalam medis juga dikenal dengan istilah jaundice. Gejala ini terjadi akibat penumpukan cairan empedu dalam tubuh, akibat rusaknya hati dan saluran empedu. 

Biasanya, gejala jaundice ringan ini terjadi ketika 1-2 minggu pertama sejak bayi dilahirkan. Namun, dengan perawatan intensif, biasanya kondisi ini akan menghilang di minggu ke 2-3. Namun, pada bayi dengan atresia bilier, jaundice yang dialami dapat terus bertambah parah.  

Selain menguningnya bola mata dan kulit, bayi dengan atresia bilier juga dapat mengalami berbagai gejala lain, seperti:

  • Menggelapnya warna urine, coklat seperti teh, karena penumpukan bilirubin dalam darah.
  • Feses berwarna terang, agak keputihan, akibat tidak adanya bilirubin.
  • Berat badan menurun dan pertumbuhan lambat.
  • Membengkaknya perut, akibat membesarnya hati.

Baca juga: Faktor yang Dapat Tingkatkan Risiko Atresia Bilier

Perlu diketahui bahwa gejala yang dialami setiap bayi dengan atresia bilier bisa berbeda, termasuk tingkat keparahannya. Jadi, segera sadari jika ada gejala atresia bilier yang disebutkan tadi, atau masalah kesehatan lainnya yang terjadi pada bayi baru lahir, dan konsultasikan pada dokter. 

Referensi:
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses pada 2020. Biliary Atresia.
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2020. Biliary Atresia.
American Liver Foundation. Diakses pada 2020. Biliary Atresia.