12 February 2019

Pindah Rumah? Jangan Lupa Pindah Faskes BPJS Juga

Pindah Rumah? Jangan Lupa Pindah Faskes BPJS Juga

Halodoc, Jakarta –  Selama ini para peserta BPJS selalu dirujuk untuk menggunakan faskes alias fasilitas kesehatan terdekat dari rumahnya. Ini dilakukan supaya pasien BPJS dapat mendapatkan bantuan medis secara cepat dengan jarak yang terjangkau dari tempat tinggal. Faskes bisa dibilang adalah tahap awal sebelum pasien ataupun peserta BPJS dirujuk ke rumah sakit.

Sebelum mendapat bantuan medis rumah sakit, biasanya pasien membutuhkan pemeriksaan dari fasilitas kesehatan sekelas klinik ataupun puskesmas untuk diperiksa, apakah bantuan medis diperlukan di rumah sakit. Ketika bantuan medis dari klinik ataupun puskesmas tidak memadai, barulah faskes tersebut memberikan surat pengantar supaya pasien dibawa ke rumah sakit.

Tempat tinggal memang menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan faskes. Karenanya, ketika kamu pindah rumah, sangat disarankan untuk pindah Faskes BPJS juga. Ini dilakukan untuk mempermudah mendapatkan layanan kesehatan.

Baca juga: Pakai BPJS, Ketahui 5 Hal Ini

Peserta yang ingin pindah faskes setidaknya harus sudah menjadi anggota BPJS lebih kurang tiga bulan. Kemudian, beberapa persyaratan yang harus dipenuhi adalah:

  1. Membawa KTP

  2. Kartu BPJS Kesehatan

  3. Kartu Keluarga

  4. Slip Gaji (Buat PNS maupun karyawan pemerintahan)

  5. Bukti bayar sampai bulan pelaporan

  6. Fotokopi buku rekening

  7. Surat keterangan domisili, kuliah, ataupun kerja

Sebenarnya, pindah rumah tidak menjadi satu-satunya alasan kenapa seseorang harus pindah faskes BPJS juga. Ada beberapa pertimbangan lain yang memperbolehkan peserta BPJS untuk pindah seperti:

  1. Peserta menganggap faskes di mana ia terdaftar sebagai anggota tidak memberikan layanan kesehatan yang sesuai dengan yang diharapkan

  2. Fasilitas pada faskes tersebut tidak bisa mengakomodir kebutuhan kesehatan yang standar

  3. Alasan-alasan lain yang sejatinya masuk akal untuk dipertimbangkan dalam pengajuan perpindahan faskes BPJS.

Baca juga: Hal yang Perlu Diketahui Tentang BPJS

Sebenarnya, tidak ada batasan untuk melakukan pindah faskes, namun setidaknya 3 bulan sekali dan dengan alasan yang bisa dipertimbangkan. Durasi tiga bulan diberlakukan dalam rangka distribusi dan pemerataan beban kerja faskes supaya tidak merugikan provider.

Selain itu pertimbangan lain kenapa harus maksimal 3 bulan adalah menjaga likuiditas dana jaminan sosial, karena perpindahan yang terlalu cepat dapat berpengaruh terhadap pengadaan alur dana jaminan sosial. Kemudian, perpindahan faskes yang terlalu cepat juga dapat menyulitkan kinerja provider dan kemudahan peserta mendapatkan fasilitas yang menjadi haknya.

Pindah Rumah, Pindah Faskes

Perpindahan faskes sejatinya harus dipertimbangkan untuk kemudahan akses dengan domisili. Bayangkan saja, bila anak tiba-tiba sakit sedangkan dan kondisi orangtua sudah pindah ke domisili baru. Akan sulit rasanya bila harus kembali ke lingkungan lama hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis. Padahal, situasi sedang dalam keadaan terdesak.

Baca juga: Rawat Inap di Rumah Sakit Bisa Pakai BPJS

Karenanya, sangat penting untuk menjadikan perpindahan faskes sebagai rangkaian keharusan yang harus di-update juga selayaknya KTP dan kartu identitas lainnya. Kemudahan akan diperoleh ke depannya bila orangtua ataupun pasangan mau meluangkan waktu untuk mengatur perpindahan faskes. Sejatinya, Faskes BPJS sudah menjadi hak setiap warga negara yang sudah terdaftar secara resmi. Alangkah baiknya fasilitas yang sudah diberdayakan oleh pemerintah ini digunakan semaksimal mungkin.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai fasilitas BPJS ataupun informasi kesehatan lainnya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.