• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Positif Hamil Tapi Tidak Ada Janin, Apa Penyebabnya?

Positif Hamil Tapi Tidak Ada Janin, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Normalnya, setelah dinyatakan positif hamil, embrio akan berkembang menjadi janin, hingga waktunya persalinan tiba. Namun, pada kasus blighted ovum atau kehamilan anembrionik, embrio tidak dapat berkembang setelah positif hamil atau proses pembuahan terjadi. 

Akibatnya, blighted ovum atau kehamilan anembrionik selalu berakhir dengan keguguran. Bahkan, kondisi ini juga menjadi salah satu penyebab dari keguguran pada trimester awal kehamilan. Namun, apa penyebab dari blighted ovum? Yuk, simak pembahasannya!

Baca juga: Perlu Diketahui Fakta tentang Blighted Ovum untuk Pasangan yang sedang Program Hamil

Kelainan Kromosom Jadi Penyebab Blighted Ovum

Meski terdengar aneh, positif hamil tapi tidak ada janin seperti pada kasus blighted ovum bisa terjadi. Penyebabnya adalah kelainan kromosom, akibat pembelahan sel yang tidak sempurna, atau kualitas sel sperma dan sel telur yang buruk. 

Jadi, ketika pembuahan antara sel sperma dan sel telur terjadi, embrio tidak bisa berkembang seperti normalnya. Studi yang dipublikasikan di National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine, mengungkapkan bahwa trisomi 16 dapat menyebabkan blighted ovum, di mana tumbuh kantong kehamilan yang kosong. 

Sementara itu, trisomi lainnya bisa menimbulkan kematian embrio di awal kehamilan. kelainan pada kromosom 9 juga disinyalir menjadi penyebab dari blighted ovum. Kondisi ini bisa terjadi bahkan ketika belum menyadari kehamilan terjadi dan tidak bisa dicegah. 

Baca juga: Sebelum Hamil, Ketahui Penyebab Blighted Ovum

Ini yang Terjadi pada Tubuh saat Mengalami Blighted Ovum

Pada kehamilan yang normal, jumlah kromosom seharusnya adalah 46 atau 23 pasang, dari sel sperma dan sel telur. Namun, jika kualitas sperma atau sel telur kurang baik, pembelahan jadi tidak normal dan jumlah kromosom lebih atau kurang, sehingga terjadi blighted ovum

Kemudian, sel telur akan berkembang membentuk kantong kehamilan, tetapi tidak ada embrio yang terbentuk di dalamnya. Pada beberapa kasus, plasenta bisa tumbuh dan menopang dirinya sendiri tanpa ada janin. Dalam kondisi ini, hormon kehamilan terus meningkat, sehingga saat melakukan tes kehamilan, hasil menunjukkan positif hamil. 

Ibu juga merasakan tanda-tanda kehamilan pada umumnya, seperti berhenti menstruasi dan nyeri payudara, karena hormon kehamilan tetap meningkat. Namun, beberapa waktu kemudian, tubuh akan mengenali adanya kromosom abnormal, dan secara alami kehamilan tidak dilanjutkan tubuh karena tidak ada janin meski positif hamil. Akibatnya, terjadilah keguguran.

Baca juga: 4 Jenis Makanan Sehat untuk Cegah Blighted Ovum

Ibu dapat menunggu keguguran terjadi secara alami (sekitar dua minggu) atau dengan bantuan medis. Namun, tidak semua perdarahan yang terjadi setelah positif hamil merupakan tanda keguguran atau blighted ovum. Jadi, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter kandungan untuk mengetahuinya. 

Blighted ovum biasanya terjadi sekitar minggu ke-8 dan ke-13. Satu-satunya cara pasti untuk mengetahui apakah terjadi blighted ovum atau tidak adalah dengan melakukan pemeriksaan USG. Dengan pemeriksaan ini, dokter akan melihat apakah ada atau tidak embrio dalam kantong kehamilan. 

Jadi, jika setelah melakukan pemeriksaan menggunakan test pack diketahui positif hamil, sebaiknya segera gunakan aplikasi Halodoc untuk buat janji dengan dokter di rumah sakit, untuk menjalani pemeriksaan. Dengan begitu, dapat dipastikan apakah kehamilan yang terjadi normal atau justru bermasalah.

Apa yang Terjadi setelah Keguguran karena Blighted Ovum?

Jika telah menerima diagnosis blighted ovum, diskusikan dengan dokter apa yang harus dilakukan selanjutnya. Pada beberapa kasus, dokter dapat melakukan pembedahan dan pengangkatan isi rahim, untuk menghilangkan jaringan yang tersisa.

Dokter juga mungkin meresepkan obat-obatan untuk merangsang tubuh mengeluarkan jaringan yang tersisa. Namun, mungkin diperlukan beberapa hari bagi tubuh untuk mengeluarkan semua jaringan dengan cara ini. Selain itu, ada juga risiko perdarahan berat dan efek samping lain, seperti nyeri atau kram perut.

Setelah keguguran, dokter mungkin menyarankan agar menunggu setidaknya satu hingga tiga siklus menstruasi sebelum mencoba hamil lagi. Hal ini bertujuan untuk memberi waktu bagi tubuh agar bisa pulih sepenuhnya, sebelum menjalani kehamilan selanjutnya. 

Referensi:
National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine. Diakses pada 2021. Anembryonic Pregnancy.
Healthline Parenthood. Diakses pada 2021. What You Should Know About Blighted Ovum, Miscarriage, and Future Pregnancies. 
Grow by WebMD. Diakses pada 2021. Blighted Ovum.
American Pregnancy Association. Diakses pada 2021. Blighted Ovum.