• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Rabies Bisa Menyebabkan Gagal Napas, Apa Sebabnya?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Rabies Bisa Menyebabkan Gagal Napas, Apa Sebabnya?

Rabies Bisa Menyebabkan Gagal Napas, Apa Sebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 28 September 2021
Rabies Bisa Menyebabkan Gagal Napas, Apa Sebabnya?

“Infeksi rabies dapat menyebabkan gagal napas yang berujung fatal. Hal ini karena infeksi bisa menyerang saraf dan otak, dalam waktu cepat. Oleh karena itu, penting untuk segera mencari bantuan medis, jika digigit atau dicakar hewan yang dicurigai terinfeksi rabies.

Halodoc, Jakarta – Disebabkan oleh gigitan atau cakaran hewan, rabies masih menjadi salah satu penyakit yang ditakuti. Hal ini karena pada saat gejala rabies muncul, perburukan bisa terjadi dengan cepat, yang tak jarang berujung gagal napas dan hilangnya nyawa.

Ketika hewan yang terinfeksi menggigit atau mencakar seseorang, virus dapat memengaruhi tubuh dengan salah satu dari dua cara. Pertama, virus memasuki sistem saraf perifer secara langsung dan bermigrasi ke otak. Kedua, virus bereplikasi di dalam jaringan otot, lalu memasuki sistem saraf melalui sambungan neuromuskular.

Baca juga: Hal yang Perlu Diketahui tentang Rabies pada Ibu Hamil

Begitu berada di dalam sistem saraf, virus menghasilkan peradangan akut pada otak. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan gagal napas, koma, hingga kematian. 

Memahami Tahapan Gejala Rabies

Rabies berkembang dalam lima tahap berbeda, yaitu inkubasi, prodromal, periode neurologis akut, koma, dan kematian. Lebih jelasnya, berikut ini dijabarkan satu persatu:

  1. Masa Inkubasi

Pada tahap ini, gejala belum muncul. Semakin dekat bagian tubuh yang digigit atau dicakar ke otak, semakin cepat efeknya akan muncul.

Pada saat gejala muncul, rabies biasanya berakibat fatal. Siapa pun yang merasa telah terpapar virus harus segera mencari bantuan medis, tanpa menunggu gejala timbul.

  1. Prodromal

Selama tahap prodromal rabies, seseorang mungkin mengalami batuk dan demam. Tahap ini dapat berlangsung dari 2 hingga 10 hari, dan memburuk seiring waktu. Gejala awalnya mirip seperti flu, termasuk:

  • Demam sekitar 38 derajat Celcius atau lebih.
  • Sakit kepala.
  • Kecemasan.
  • Lemah dan tidak enak badan.
  • Sakit tenggorokan dan batuk.
  • Mual dan muntah.
  • Rasa nyeri di area gigitan.
  1. Periode Neurologis Akut

Di tahap ini, gejala neurologis sudah berkembang, ditandai dengan:

  • Kebingungan dan agresi.
  • Kelumpuhan parsial, otot berkedut yang tidak disengaja, dan otot leher yang kaku.
  • Kejang.
  • Hiperventilasi dan kesulitan bernapas.
  • Hipersalivasi atau memproduksi banyak air liur, dan mungkin mulut berbusa.
  • Takut air, atau hidrofobia, karena kesulitan menelan.
  • Halusinasi, mimpi buruk, dan insomnia.
  • Fotofobia, atau takut cahaya.

Menjelang akhir dari fase ini, pernapasan bisa menjadi cepat dan tidak konsisten.

Baca juga: Apakah Anjing Butuh Vaksin Rabies Setiap Tahun?

  1. Koma dan Kematian

Jika rabies sudah berujung pada koma, kematian biasanya akan terjadi dalam hitungan jam, kecuali jika mendapat bantuan ventilator. Sayangnya, jarang ada yang bisa sembuh jika sudah mencapai tahap ini.

Bagaimana Penanganannya?

Jika digigit atau dicakar oleh hewan yang dicurigai mengidap rabies, atau jika hewan tersebut menjilat luka terbuka pada tubuh, segera cuci bekas gigitan atau cakaran dengan air dan sabun. Cara ini membantu meminimalkan jumlah partikel virus.

Kemudian, segera cari bantuan medis. Setelah terpapar dan sebelum gejala dimulai, beberapa suntikan dapat mencegah virus berkembang di tubuh. Ini biasanya efektif untuk mencegah perkembangan infeksi.

Suntikan yang biasanya diberikan adalah:

  • Dosis rabies immune globulin yang bekerja cepat. Diberikan sesegera mungkin, dekat dengan luka gigitan. Ini dapat mencegah virus menginfeksi.
  • Serangkaian vaksin rabies. Vaksin akan disuntikkan ke area lengan selama 2 hingga 4 minggu. Ini dapat membantu melatih tubuh untuk melawan virus.

Hampir tidak mungkin mengetahui dengan pasti apakah hewan yang menggigit atau mencakar terinfeksi rabies. Jadi, langkah paling aman yang bisa dilakukan adalah mengasumsikan yang terburuk dan segera cari bantuan medis. 

Baca juga: Hewan Mamalia Berpotensi Sebarkan Virus Rabies

Langkah Pencegahan

Rabies adalah penyakit yang serius, sehingga penting untuk sebisa mungkin mencegahnya. Upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah:

  • Vaksinasi hewan peliharaan. Cari tahu seberapa sering kamu perlu melakukan vaksinasi pada kucing, anjing, musang, dan hewan peliharaan atau peternakan lainnya.
  • Lindungi hewan peliharaan kecil. Beberapa hewan peliharaan tidak dapat divaksinasi, jadi tempatkan mereka di kandang khusus untuk mencegah kontak dengan predator liar.
  • Jaga hewan peliharaan di rumah. Hewan peliharaan sebaiknya dijaga dengan aman di rumah, dan diawasi saat berada di luar.
  • Jangan mendekati hewan liar. Hewan yang terinfeksi rabies cenderung kurang berhati-hati dari biasanya. Mereka mungkin lebih cenderung mendekati manusia, jadi usahakan untuk tidak mendekati hewan liar.
  • Jauhkan kelelawar dari rumah. Tutup celah-celah rumah untuk mencegah kelelawar bersarang. Jika ada kelelawar masuk rumah, panggil seorang ahli untuk menyingkirkannya.

Selama memerhatikan hal-hal tersebut, infeksi rabies bisa dihindari. Jika kamu butuh informasi lebih lanjut soal rabies, download saja aplikasi Halodoc untuk bicara pada dokter, ya.

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg
Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2021. What You Need To Know About Rabies.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Rabies.