20 March 2019

Ramai Dibahas Kandidat Capres Cawapres, Kenapa Stunting Jadi Isu Prioritas?

Ramai Dibahas Kandidat Capres Cawapres, Kenapa Stunting Jadi Isu Prioritas?

Halodoc, Jakarta – Stunting telah lama menjadi isu prioritas nasional, setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Indonesia sebagai negara dengan status gizi buruk. Penetapan ini didasarkan pada fakta kasus stunting di Indonesia melebihi batas toleransi yang ditetapkan WHO, yakni maksimal seperlima dari jumlah keseluruhan balita (sekitar 20 persen). Bahkan setelah terjadi penurunan hingga tujuh persen, jumlah balita stunting di Indonesia masih berada pada angka 30,7 persen.

Baca Juga: 5 Fakta Penting Mengenai Stunting

Melihat fakta tersebut, tak heran jika isu stunting kembali dibahas pada debat calon wakil presiden (cawapres) kemarin (17/03/2019). Cawapres petahana, KH Ma’ruf Amin, mengatakan stunting sebagai masalah sosial, sanitasi, dan gizi. Solusinya adalah tindakan preventif dan promotif melalui Gerakan Masyarakat (GERMAS) dan Program Indonesia Sehat - Pendekatan Keluarga (PIS PK).

Sementara cawapres pesaing, Sandiaga Uno, mengatakan stunting sebagai masalah gawat darurat. Solusinya adalah program Indonesia Emas dan gerakan sedekah putih. Pertanyaannya adalah, mengapa banyaknya kasus stunting memerlukan pembahasan serius? Ini jawabannya.

Stunting Merupakan Masalah Gizi Kronis

Stunting disebabkan karena kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan, sehingga menyebabkan gangguan tumbuh kembang. Balita pengidap stunting memiliki tinggi badan lebih rendah atau pendek (kerdil) dibandingkan teman seusianya. Kondisi ini bukan saja menurunkan rasa percaya diri, tapi juga memengaruhi kualitas hidup balita hingga di masa yang akan mendatang.

Masalah stunting sering dianggap sebagai faktor keturunan (genetik) sehingga banyak orangtua menerima dan tidak berbuat apapun untuk mencegahnya. Padahal, tinggi badan anak lebih dipengaruhi faktor selain genetik, yakni perilaku, gizi, lingkungan, dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang bisa dicegah.

Baca Juga: Faktor yang Pengaruhi Tinggi Badan Si Kecil

Pentingnya Pencegahan Stunting

Pencegahan stunting penting untuk mencapai SDM yang berkualitas. Terlebih dalam waktu dekat, Indonesia akan menghadapi Bonus Demografi 2030, yakni jumlah penduduk usia produktif (15 – 64 tahun) lebih banyak dibandingkan usia non-produktif (lebih dari 64 tahun). Ini berarti stunting menjadi ancaman nyata terhadap kualitas manusia. Pasalnya balita stunting bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, melainkan juga perkembangan otaknya.

Stunting menyebabkan otak anak tidak berkembang optimal sehingga menurunkan kemampuan kognitifnya. Ketika kecerdasan menurun, prestasi dan produktivitas anak menjadi terpengaruh. Hal ini selaras dengan hasil riset yang dipublikasikan Lancet pada tahun 2017. Studi ini menyebutkan penghasilan balita stunting ketika usia produktif lebih rendah dibandingkan anak yang tumbuh normal.

Kekurangan nutrisi saat anak-anak juga berdampak negatif pada keseimbangan energi, pengaturan asupan makanan, kerentanan terhadap efek makanan tinggi lemak, dan mengubah sensitivitas insulin. Hal ini menyebabkan balita stunting rentan terkena penyakit degeneratif. Lantas, bagaimana cara mencegah stunting?

  • Memenuhi gizi anak, terutama pada 1000 hari kehidupan pertamanya. Salah satunya dengan memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun. MPASI bisa diberikan setelah anak berusia lebih dari enam bulan. Pastikan anak mendapatkan makanan bergizi seimbang selama masa pertumbuhannya.
  • Rutin periksa tumbuh kembang anak ke Posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat.
  • Menjaga kebersihan air dan sanitasi. Salah satunya dengan menyediakan air bersih, rutin mencuci tangan pakai sabun, dan tidak buang air besar sembarangan.

Baca Juga: Cegah Anak Stunting dengan 4 Cara Ini

Itulah alasan stunting menjadi isu prioritas. Kalau kamu punya pertanyaan lain seputar stunting, jangan ragu bertanya pada dokter Halodoc. Kamu bisa menggunakan fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!