• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Retardasi Mental Ditandai dengan 7 Gejala Ini

Retardasi Mental Ditandai dengan 7 Gejala Ini

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Retardasi Mental Ditandai dengan 7 Gejala Ini

Halodoc, Jakarta – Retardasi mental adalah masalah intelektual ketika pengidapnya memiliki kemampuan mental atau intelegensi di bawah rata-rata normal. Anak yang mengalami retardasi mental biasanya memiliki IQ rendah dan punya masalah menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. Mereka mungkin tidak mampu belajar, berbicara, dan bersosialisasi layaknya anak-anak seumurannya.

Retardasi mental umumnya bisa didiagnosis segera setelah lahir maupun beberapa bulan setelah anak dilahirkan. Nah, berikut tanda-tanda retardasi mental yang bisa ibu kenali. 

Baca juga: Pemeriksaan untuk Diagnosis Retardasi Mental

Tanda Anak Mengalami Retardasi Mental

Tergantung seberapa parah kondisinya, gejala retardasi mental bisa muncul selama masa bayi atau mungkin tidak terlihat sampai seorang anak mencapai usia sekolah. Namun, retardasi mental umumnya menimbulkan gejala-gejala berikut:

  • Terlambat berguling, duduk, merangkak, atau berjalan.
  • Terlambat bicara atau kesulitan berbicara.
  • Lambat untuk menguasai hal-hal seperti berpakaian, mengenakan sepatu atau makan sendiri.
  • Kesulitan mengingat sesuatu.
  • Tidak mampu menghubungkan antara tindakan dengan konsekuensi.
  • Punya masalah perilaku seperti tantrum yang meledak-ledak.
  • Kesulitan dalam memecahkan masalah atau berpikir logis.

Anak yang mengalami retardasi mental parah atau berat mungkin juga mengalami kesehatan lain, seperti kejang, gangguan mood, autisme, gangguan keterampilan motorik, masalah penglihatan, atau masalah pendengaran.

Baca juga: Apakah Orang Dewasa Bisa Alami Retardasi Mental?

Penyebab Retardasi Mental yang Wajib Orangtua Waspadai

Hal-hal yang dapat mengganggu perkembangan otak adalah penyebab utama retardasi mental pada anak-anak. Berikut, penyebab-penyebab retardasi mental yang paling umum:

  • Kondisi genetik. Ini termasuk hal-hal seperti sindrom Down dan sindrom X rapuh.
  • Masalah selama kehamilan. Hal-hal yang dapat mengganggu perkembangan otak janin antara lain penggunaan alkohol atau narkoba, malnutrisi, infeksi tertentu, atau preeklamsia.
  • Masalah saat melahirkan. Kecacatan intelektual dapat terjadi jika bayi kekurangan oksigen saat melahirkan atau lahir sangat prematur.
  • Penyakit atau cedera. Infeksi seperti meningitis, batuk rejan, atau campak dapat menyebabkan cacat intelektual. Cedera kepala yang parah, hampir tenggelam, kekurangan gizi ekstrem, infeksi di otak, paparan zat beracun seperti timbal, dan pengabaian atau penyalahgunaan yang parah juga dapat menyebabkannya.

Apabila ibu punya pertanyaan lain mengenai kondisi ini, hubungi dokter lewat aplikasi Halodoc saja. Tidak perlu repot ke rumah sakit, ibu bisa mengobrol dengan dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Bagaimana Mencegah Terjadinya Retardasi Mental pada Anak?

Retardasi mental tentu bisa dicegah selama masa kehamilan. Memeriksakan kehamilan secara rutin, mengonsumsi vitamin prenatal, menghindari rokok dan alkohol serta mendapatkan vaksinasi penyakit menular tertentu mampu menurunkan risiko anak dilahirkan dengan kondisi retardasi mental. 

Baca juga: Benarkah Kelahiran Prematur Sebabkan Dyspraxia pada Anak?

Bagi keluarga yang punya riwayat kelainan genetik, pengujian genetik mungkin disarankan sebelum merencanakan kehamilan. Tes tertentu, seperti ultrasound dan amniosentesis, juga dapat dilakukan selama kehamilan untuk mencari masalah yang terkait dengan kecacatan intelektual. Meskipun tes ini dapat mengidentifikasi masalah sebelum lahir, tes ini tidak dapat memperbaikinya. Namun, jika masalah kehamilan dideteksi sejak dini, pasangan bisa mempersiapkan mental sejak dini dengan baik. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2020. Intellectual Disability.
Healthline. Diakses pada 2020. What You Should Know About Intellectual Disability.