• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Risiko Defisiensi Kalsium pada Terapi Kortikosteroid Jangka Panjang
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Risiko Defisiensi Kalsium pada Terapi Kortikosteroid Jangka Panjang

Risiko Defisiensi Kalsium pada Terapi Kortikosteroid Jangka Panjang

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 07 Juni 2022

“Pasien dengan penggunaan kortikosteroid jangka panjang berisiko tinggi terkena defisiensi kalsium. Penggunaan suplemen kalsium diperlukan guna menurunkan risiko osteoporosis akibat defisiensi kalsium pada orang dewasa dan lansia.”

Risiko Defisiensi Kalsium pada Terapi Kortikosteroid Jangka Panjang

Halodoc, Jakarta – Menjaga asupan kalsium dapat mengurangi risiko patah tulang dan osteoporosis pada tubuh. Namun, ada salah satu prosedur kesehatan yang dapat menurunkan kandungannya, sehingga tubuh berisiko terkena defisiensi kalsium. Prosedur kesehatan tersebut adalah terapi kortikosteroid jangka panjang.

Baca juga: Berbagai Makanan yang Kaya Kalsium Tinggi dan Manfaatnya

Pentingnya Kalsium dalam Menunjang Kesehatan Tubuh

Sebelum membahas alasan mengapa terapi kortikosteroid memicu defisiensi kalsium, kamu perlu tahu pentingnya kandungan tersebut dalam menunjang kesehatan tubuh. Kalsium adalah nutrisi utama dalam tubuh manusia. Lebih dari 99 persen atau setara dengan 1,2-1,4 kilogram disimpan dalam tulang dan gigi. 

Kurang dari satu persen ditemukan dalam kalsium serum ekstraseluler. Kadarnya dalam tubuh manusia sangat bervariasi, tergantung pada beberapa faktor. Misalnya saja kehamilan. Tubuh membutuhkan banyak kalsium guna menunjang pertumbuhan janin dalam kandungan.

Selain itu, kandungannya dalam tubuh juga dapat dipengaruhi oleh prosedur pengobatan yang kamu lakukan. Salah satu prosedur yang dapat memengaruhi kadar kalsium dalam tubuh, yaitu terapi kortikosteroid. Terapi ini dilakukan untuk meredakan area tubuh yang meradang. 

Kandungannya ampuh dalam mengurangi pembengkakan, kemerahan, gatal, dan reaksi alergi. Terapi kortikosteroid juga digunakan dalam pengobatan untuk mengatasi alergi parah atau masalah kulit, asma, atau radang sendi. Lantas, benarkah terapi kortikosteroid memicu defisiensi kalsium?

Defisiensi Kalsium Berisiko Dialami Pasien Terapi Kortikosteroid

Berkaitan dengan defisiensi kalsium yang dialami pasien terapi kortikosteroid, setidaknya lebih dari 10 persen pasien yang melakukan prosedur jangka panjang berisiko mengalami kondisi tersebut. Sebenarnya, apa efek steroid pada tulang? 

Namun, penggunaannya dalam jangka panjang dapat memicu pengeroposan tulang, osteoporosis, dan patah tulang. Ketika obat steroid digunakan dalam jangka lama, pengeroposan tulang dapat terjadi dengan cepat. Dengan kata lain, terapi kortikosteroid dapat memicu sejumlah kondisi tersebut seiring berjalannya waktu.

Defisiensi zat gizi mikro termasuk kalsium dapat berdampak pada peningkatan penyakit infeksi, penurunan tingkat kecerdasan, penurunan produktivitas kerja, bahkan meningkatkan risiko kematian ibu dan anak.

Baca juga: Selain Susu, Inilah 10 Makanan Sumber Kalsium

Pentingnya Kalsium pada Pasien Terapi Kortikosteroid

Dalam jurnal berjudul Effects of calcium supplementation on clinical fracture and bone structure: results of a 5-year, double-blind, placebo-controlled trial in elderly women mendukung penggunaan suplemen kalsium oleh wanita patuh dengan penggunaannya.

Sebab, pada kelompok ini, terutama dalam pengawasan klinis, pemberian suplemen kalsium relatif aman. Ini juga merupakan terapi yang efektif untuk mengurangi risiko fraktur karena osteoporosis. 

Ini terutama jika mereka berada di bawah perawatan seorang dokter, suplementasi kalsium adalah terapi yang aman dan efektif untuk mengurangi risiko patah tulang osteoporosis.

Asupannya juga bisa dikonsumsi oleh para pasien terapi kortikosteroid, mengingat prosedur jangka panjang yang dilakukan dapat memicu pengeroposan tulang. Penggunaan suplemen kalsium sudah diteliti lebih lanjut. 

Hasilnya menunjukkan bahwa efektif dalam menurunkan risiko patah tulang pada wanita lansia yang patuh dengan penggunaan suplementasi kalsium.

Dari hasil penelitian tersebut, pasien yang mengonsumsi suplemen kalsium memiliki kekuatan tulang lebih kuat dibandingkan dengan pasien yang diobati dengan plasebo.

Dari 92.000 efek samping yang tercatat, konstipasi menjadi satu-satunya kejadian yang dialami oleh 13,4 persen pasien dengan suplemen kalsium.

Baca juga: 5 Manfaat Kalsium untuk Tumbuh Kembang Anak

Berapa Asupan Kalsium Harian yang Direkomendasikan?

Seperti pada ulasan sebelumnya, kalsium menjadi salah satu elemen nutrisi terpenting yang dapat menunjang kesehatan tulang dan gigi. Mempertahankan asupan kalsium minimal 1000-1200 miligram per hari direkomendasikan bagi orang tua atau lansia untuk mengobati dan mencegah osteoporosis.

Untuk mendapatkan manfaatnya, kamu bisa mengonsumsi suplemen kombinasi kalsium dan vitamin D3. Suplemen ini dilengkapi dengan kalsium hidrogen fosfat 500 mg dan ditawarkan dengan harga yang terjangkau. Di dalamnya juga terkandung vitamin D3 (cholecalciferol), yang berperan membantu tubuh dalam penyerapan mineral kalsium.

Pada pasien terapi kortikosteroid, kandungan kalsium di dalamnya dapat membantu mencegah osteoporosis pada tulang akibat prosedur pengobatan yang dilakukan. Untuk mendapatkannya, kamu bisa download Halodoc segera dan cek kebutuhan suplemen di Toko Kesehatan pada aplikasi tersebut, ya!

Referensi:

Clinical Nutrition Research. 2015 Jan; 4(1): 1–8. Diakses pada 2022. The Role of Calcium in Human Aging.
IPB Repository. Diakses pada 2022. Prevalensi Defisiensi Asupan Gizi Mikro Penduduk Dewasa Indonesia Menggunakan Metode Probabilitas serta Elastisitas Konsumsi Pangan.
JAMA Internal Medicine. Diakses pada 2022. Effects of calcium supplementation on clinical fracture and bone structure: results of a 5-year, double-blind, placebo-controlled trial in elderly women.
BMJ. Diakses pada 2022. Calcium intake and bone mineral density: systematic review and meta-analysis.
US Pharm. Diakses pada 2022. Pros and Cons of Calcium Supplements.
The American Journal of Clinical Nutrition. Diakses pada 2022. Phosphate and carbonate salts of calcium support robust bone building in osteoporosis.