Risiko Kanker Meningkat jika Ibu Tak Beri ASI, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Risiko Kanker Meningkat jika Ibu Tak Beri ASI, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Air susu ibu (ASI) adalah makanan sekaligus minuman yang harus didapatkan oleh bayi yang baru lahir hingga berusia paling tidak 6 bulan secara eksklusif. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kesehatan sang bayi, tetapi juga meningkatkan kesehatan ibu yang menyusuinya.

Banyak berita yang beredar apabila seorang ibu yang tidak beri ASI pada anaknya mempunyai risiko lebih tinggi terhadap kanker. Beberapa kanker yang mungkin terjadi adalah kanker payudara dan kanker ovarium. Namun, apakah hal tersebut benar adanya? Berikut pembahasan mengenai hal tersebut!

Baca juga: SIDS Rentan Menyerang Bayi, Ini Alasannya

Ibu Tak Beri ASI Tingkatkan Risiko Kanker

ASI sangat penting untuk mencukupi nutrisi pada tubuh bayi ibu agar tetap sehat. Kandungan pada ASI jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan susu formula. Seorang ibu yang tak beri ASI pada anaknya disebutkan dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara dan kanker ovarium.

Selain itu, bayi yang tidak mendapatkan asupan ASI disebutkan juga dapat meningkatkan risiko terhadap insiden morbiditas menular, serta terjadinya obesitas, diabetes tipe 1 dan 2, leukimia, serta sindrom kematian bayi secara mendadak. Namun, apakah semua itu terbukti?

Hubungan ibu tak beri ASI dengan risiko kanker adalah karena pengaruh hormonal dari periode amenore dan infertilitas yang saling berhubungan. Hal ini mengurangi paparan siklus haid seumur hidup dan mengubah hormon tertentu, seperti androgen, yang dapat memengaruhi risiko terjadinya kanker.

Selain itu, peningkatan kadar steroid seks sangat berhubungan dengan risiko kanker payudara pasca terjadinya menopause. Juga, pengelupasan jaringan payudara yang terjadi terus menerus selama menyusui dapat mengurangi risiko kanker payudara melalui penghapusan sel dengan cara perusakan dan mutasi DNA.

Lalu, ibu yang tak beri ASI pada anaknya juga dapat meningkatkan risiko terhadap kanker ovarium. Walau begitu, ibu yang memberikan ASI pada anaknya dapat menurunkan risiko terkena kanker tersebut belum jelas. Salah satu kesimpulannya adalah menyusui berhubungan dengan periode amenore yang lebih lama dan menurunkan kadar gonadotropin. Akhirnya, paparan estradiol plasma pada tubuh akan menurun.

Jika kamu mempunyai pertanyaan terkait ibu tak beri ASI yang dapat tingkatkan risiko kanker, dokter dari Halodoc dapat membantu. Caranya, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang kamu miliki! Pun, kamu dapat melakukan pemeriksaan fisik dengan pemesanan online di rumah sakit pilihan melalui aplikasi tersebut.

Baca juga: Kelahiran Bayi Prematur, Apakah Berisiko Mengalami SIDS?

Manfaat ASI bagi Tumbuh Kembang Bayi

ASI memang sangat bermanfaat bagi bayi yang baru lahir hingga berusia 2 tahun. Jika dibandingkan dengan bayi yang diberikan susu formula, bayi dengan konsumsi ASI memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi pada tahun pertama sejak dilahirkan. Pasalnya, sistem imun bawaan pada ASI dapat melindungi Si Kecil.

Faktor imun bawaan pada ASI dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi. Kandungan oligosakarida dapat mencegah terjadinya gangguan pada pernapasan. Selain itu, glikoprotein juga dapat mencegah terjadinya pengikatan patogen pada usus, seperti Vibrio cholerae, E.coli, dan rotavirus.

Baca juga: 5 Cara Tepat Agar Meningkatkan Kualitas ASI

Kandungan Glycosaminoglycans pada susu juga dapat mencegah terjadinya virus HIV menyerang tubuh, mengurangi risiko penularannya, dan membentuk kekebalan bawaan dari virus yang dapat menyerang. Maka dari itu, ASI sangat penting untuk diberikan oleh bayi ibu. Hal tersebut untuk selalu menjaga kesehatan bayi demi kelangsungan hidupnya.

Referensi:

wcrf.org .Diakses pada 2019.Lactation and the risk of cancer
ncbi.nlm.nih.gov .Diakses pada 2019.The Risks of Not Breastfeeding for Mothers and Infants