• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Salah Kaprah tentang FOMO yang Perlu Diluruskan
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Salah Kaprah tentang FOMO yang Perlu Diluruskan

Salah Kaprah tentang FOMO yang Perlu Diluruskan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 02 Desember 2021
Salah Kaprah tentang FOMO yang Perlu Diluruskan

“FOMO adalah salah satu masalah yang sedang marak terjadi pada anak muda. Kondisi ini dapat membuat pengidapnya kerap mengecek media sosial karena merasa takut ketinggalan. Namun, ada beberapa hal yang masih salah pengertian tentang FOMO dan perlu diluruskan.”

Halodoc, Jakarta – Banyak anak muda sekarang ketergantungan dengan media sosial karena fenomena FOMO dan tentu saja hal ini dapat menimbulkan dampak buruk bagi hidupnya. FOMO sering dikaitkan dengan perasaan tidak ingin ketinggalan sesuatu, sehingga seseorang terus-menerus mengecek media sosialnya. Ternyata, ada pengertian yang salah tentang FOMO yang perlu diluruskan. Untuk lebih lengkapnya, baca ulasan berikut ini!

Pemahaman yang Salah Tentang FOMO

FOMO, atau Fear of Missing Out, adalah perasaan takut kehilangan yang mengacu pada perasaan atau persepsi jika orang lain bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami sesuatu yang baik dibandingkan orang tersebut. Rasa takut ini diperparah dengan hadirnya media sosial.

Secara umum, FOMO dapat menyebabkan pengidapnya berasumsi jika dirinya memiliki peringkat sosial yang rendah. Hal ini melibatkan rasa iri yang mendalam, sehingga dapat memengaruhi harga diri seseorang dan bahkan menimbulkan rasa cemas. Gangguan kesehatan mental ini sangat umum terjadi pada seseorang dengan usia 18 hingga 33 tahun. Bahkan, satu survei menyebut jika dua pertiga orang mengalami FOMO secara teratur.

Namun, tahukah kamu ada pemahaman yang salah terkait FOMO di masyarakat Indonesia? Faktanya, tidak banyak orang yang paham jika fenomena FOMO lebih berhubungan dengan rasa takut dibandingkan keinginan. Adanya rasa takut tersebut membuatnya menjadi seseorang yang obsesif kompulsif, terutama pada media sosial ataupun gadget. 

Faktanya, FOMO tidak selalu berhubungan dengan internet, karena masalah ini sudah terjadi sebelum internet marak digunakan atau bahkan sudah ada. Intinya, FOMO adalah masalah yang membuat pengidapnya takut melewatkan sesuatu, apa pun hal tersebut.

Salah satu yang jarang orang tahu, seseorang dengan ketakutan ini juga takut untuk melewatkan kesempatan yang diinginkan karena belum tentu ada kesempatan lainnya nanti, seperti halnya promo diskon.

Alasan Seseorang Mengalami FOMO

Secara historis, banyak orang yang peduli tentang posisi dirinya secara sosial. Namun, dengan munculnya media sosial, FOMO menjadi masalah yang sangat sulit diatasi, terutama bagi anak muda. Hal ini dapat membuatnya terlihat selalu ada di media sosial, kerap memeriksa pembaruan status, dan update terbaru dari teman-temannya. Pengidapnya juga merasa kurang keren jika tidak melakukan apa yang orang lain lakukan.

Penelitian lainnya juga menyebut jika seseorang dengan FOMO cenderung lebih menghargai media sosial. Disebutkan juga jika rasa takut kehilangan tersebut yang membuat platform media sosial sukses. Beberapa orang merasa perasaan takut mendorongnya untuk menggunakan teknologi agar orang lain tahu yang dilakukannya sekaligus seberapa menyenangkannya hal tersebut.

Lalu, Bagaimana Cara Mengatasi FOMO?

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi FOMO adalah dengan mempraktekkan metode yang disebut reframing. Yaitu latihan mental yang dirancang untuk membantu melihat suatu situasi dengan berbeda. Tentu hal ini sangat membantu untuk mengubah pola pikir negatif. Berikut beberapa cara yang perlu dilakukan:

  • Cari tahu segala hal yang membuat pikiran menjadi negatif.
  • Atasi pikiran negatif dengan sesuatu yang lebih masuk akal.
  • Jadwalkan waktu untuk tidak berhubungan dengan gadget dan lakukan sesuatu yang positif.
  • Jadilah realistis tentang pengaturan waktu.
  • Rutin latihan mindfulness.

Dengan menerapkan beberapa cara yang efektif untuk mengatasi FOMO, diharapkan masalah ini benar-benar tidak kembali lagi. Tentu saja hal ini sangat baik untuk produktivitas harian agar tidak terganggu dengan kebiasaan mengecek media sosial. Alangkah lebih baik lagi jika kamu berdiskusi dengan psikolog mengenai kondisi yang kamu alami.

Kamu juga dapat melakukan pemeriksaan kesehatan mental di beberapa rumah sakit yang memiliki psikolog atau psikiater melalui aplikasi Halodoc. Untuk pemesanan pemeriksaan ini, kamu bisa melakukannya hanya dengan menggunakan smartphone yang men-download aplikasi Halodoc sebelumnya. Untuk itu, unduh aplikasinya sekarang juga!

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg
Referensi:
Very Well Family. Diakses pada 2021. How FOMO Impacts Teens and Young Adults.
Very Well Mind. Diakses pada 2021. How to Deal With FOMO in Your Life.