• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Screening Corona Kini Bisa Dilakukan di Puskesmas, Ini 4 Tahapannya

Screening Corona Kini Bisa Dilakukan di Puskesmas, Ini 4 Tahapannya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Hingga saat ini, Pemerintah Indonesia terus melakukan upaya untuk mengatasi dan mencegah penyebaran virus corona (COVID-19). Salah satu upaya terbaru yang sedang digalakan adalah membuka layanan screening corona di puskesmas seluruh Indonesia. Melalui keterangan dari situs resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dikatakan bahwa puskesmas akan berperan dalam melakukan screening pada masyarakat dari hasil tracking atau penelusuran. 

Metode screening corona yang dilakukan di puskesmas adalah hasil penelusuran terhadap masyarakat yang diduga melakukan kontak dengan pasien positif COVID-19. Dalam pelaksanaannya, puskesmas akan melakukan tahapan pemeriksaan corona yang telah berstandar. Lalu, seperti apa tahap-tahap screening corona yang dilakukan di puskesmas? Simak lebih lanjut setelah ini. 

Baca juga: Ini Cara Virus Corona Menyerang Tubuh

Pemeriksaan Epidemiologi, Rapid Test, hingga Pemantauan Pasien

Seperti telah disebut sebelumnya, pelaksanaan screening corona di puskesmas memiliki beberapa tahap, sebagai berikut:

1. Wawancara dan Pemeriksaan Epidemiologi

Sebelum rangkaian uji dilakukan, petugas puskesmas akan melakukan wawancara dan pemeriksaan epidemiologi terlebih dahulu ke pasien. Dalam tahap ini, masyarakat yang datang ke puskesmas akan ditanya-tanya riwayat aktivitasnya selama beberapa waktu belakangan. Sebaiknya, ceritakan semua histori perjalanan, aktivitas, dan kontak dengan orang lain sejujur-jujurnya.

Apakah pernah bepergian ke luar negeri, apakah pernah berkontak dengan orang yang sekarang dinyatakan positif corona, atau apakah pernah menghadiri suatu acara yang dihadiri banyak sekali orang. Jika dicurigai ada indikasi ada risiko kuat terpapar COVID-19, petugas puskesmas akan melanjutkan ke tahapan selanjutnya, yaitu screening dengan menggunakan rapid test.

2. Rapid Test Antibodi

Setelah dilakukan wawancara dan penyelidikan epidemiologi dicurigai ada indikasi COVID-19, petugas puskesmas akan melakukan screening. Metode screening yang dilakukan puskesmas saat ini adalah dengan menggunakan tes cepat antibodi atau rapid test dan test swab (akan dijelaskan setelah ini). Untuk rapid test, prosedur dilakukan dengan mengambil sampel darah, yang bisa dilakukan dari pembuluh darah kapiler di ujung jari. 

Baca juga: Ini Masker yang Tepat untuk Cegah Virus Corona

3. Throat Swab (Tes Swab)

Selain rapid test yang dilakukan dengan pengambilan sampel darah dari ujung jari, screening corona yang dilakukan di puskesmas juga mencakup throat swab atau tes swab. Seperti namanya, tes swab dilakukan dengan mengambil sampel cairan pada tenggorokan ataupun pangkal hidung dengan cara di-swab

Kemudian, setelah didapatkan sampel cairan tenggorokan melalui tes swab dan sampel darah dari rapid test, sampel akan dibawa ke laboratorium. Di laboratorium, sampel akan diperiksa oleh petugas, dengan menggunakan PCR. Pemeriksaan lab ini dilakukan oleh puskesmas dengan standar yang sudah ditetapkan. Lalu, hasilnya akan diinformasikan kepada pasien, apakah positif atau negatif corona.

4. Pemantauan dan Edukasi

Jika hasil rapid test dan swab menyatakan negatif corona, masyarakat akan diminta untuk pulang dan menerapkan pola hidup sehat guna meningkatkan kekebalan tubuh, serta membatasi jarak fisik dengan orang lain dan mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak perlu. Sementara itu, jika ditemukan hasilnya positif corona, tetapi gejala yang muncul tergolong ringan, puskesmas akan menyarankan pasien untuk melakukan isolasi mandiri. 

Tak hanya itu, puskesmas dan rumah sakit setempat juga akan memberi edukasi, informasi, dan pemantauan terhadap pasien. Edukasi dan informasi yang diberikan mencakup hal-hal apa saja yang harus dilakukan pasien selama isolasi diri di rumah. Semua itu akan dilakukan secara online, dengan memanfaatkan teknologi.

Baca juga: 3 Fakta Terbaru Penyebaran Virus Corona

Langkah ini dilakukan karena adanya keterbatasan tenaga kesehatan dan kapasitas layanan di puskesmas serta rumah sakit, untuk menangani pasien COVID-19. Pemanfaatan teknologi untuk edukasi dan pemantauan dalam menangani pasien COVID-19 juga dilakukan sebagai bentuk antisipasi kontak, mengingat stok Alat Perlindungan Diri (APD) semakin menipis.

Selain memanfaatkan teknologi untuk memantau kondisi pasien positif COVID-19, puskesmas juga telah menggunakan sistem online dalam pelayanan masyarakat. Saat ini, puskesmas di Indonesia telah mendapat pelatihan secara online dan sudah menjalankan program ini dengan baik. Jadi, jika kamu merasa berisiko tinggi tertular corona, misal pernah bepergian ke luar negeri atau pernah berkontak dengan pasien positif corona, kamu bisa pergi ke puskesmas terdekat, untuk melakukan pemeriksaan.

Kalau ingin lebih mudah lagi, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter lewat chat, seputar risiko tertular corona. Dokter di aplikasi Halodoc juga akan membantu menyelidiki secara epidemiologi, apakah kamu memiliki risiko tinggi untuk tertular corona atau tidak. 

Referensi:
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Diakses pada 2020. Puskesmas Ikut Sediakan Layanan Periksa COVID-19.