Sebabkan Kematian, Begini Cara Mendiagnosis Botulisme

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Sebabkan Kematian, Begini Cara Mendiagnosis Botulisme

Halodoc, Jakarta - Botulisme adalah penyakit yang terbilang langka namun cukup berbahaya. Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, botulisme dapat mengancam nyawa. Botulisme terjadi akibat bakteri Clostridium botulinum yang ada di tanah. Racun yang dihasilkan bakteri ini menyerang manusia melalui makanan seperti madu yang diberikan kepada bayi, luka, dan makanan lain yang terkontaminasi.

Racun botulinum bekerja dengan menghambat fungsi saraf dan menyebabkan paralisis pernapasan dan muskuloskeletal. Racun bekerja dengan menghalangi produksi atau pelepasan asetilkolin pada sinapsis dan persimpangan neuromuscular. Kasus kematian biasanya terjadi akibat kegagalan pernapasan. Gejala dari botulisme meliputi penglihatan ganda, penglihatan kabur, kelopak mata terkulai, bicara cadel, kesulitan menelan, mulut kering, dan kelemahan otot.

Mendiagnosis Botulisme

Gejala dari botulisme tampak mirip dengan sindrom Guillain-Barré, stroke, dan myasthenia gravis, sehingga untuk memastikannya, dokter perlu melakukan serangkaian diagnosis. Untuk mendiagnosis botulisme, dokter memeriksa tanda-tanda kelemahan atau kelumpuhan otot, seperti kelopak mata yang terkulai dan suara yang melemah.

Dokter juga bertanya tentang makanan yang terakhir kali dimakan oleh pengidap dalam beberapa hari terakhir, dan bertanya apakah mungkin ia telah terpapar bakteri melalui luka. Dalam kasus botulisme pada bayi, dokter mungkin bertanya apakah anak tersebut mengonsumsi madu dan mengalami konstipasi atau kelesuan sebelumnya atau tidak.

Analisis darah, tinja atau muntah untuk bukti paparan racun membantu mengkonfirmasi diagnosis botulisme pada bayi atau botulisme akibat keracunan melalui makanan. Tetapi karena tes-tes ini mungkin memakan waktu berhari-hari, tes yang dilakukan dokter adalah cara utama untuk mendiagnosis botulisme.

Baca Juga:  Hati-Hati, Makanan yang Diolah Tidak Benar Bisa Mengandung Bakteri Penyebab Botulisme

Pengobatan Botulisme

Pengobatan ditempuh berdasarkan penyebabnya. Untuk kasus botulisme bawaan makanan, dokter membersihkan sistem pencernaan dengan mendorong muntah dan memberikan obat untuk menginduksi pergerakan usus. Jika kamu memiliki botulisme pada luka, dokter perlu mengangkat jaringan yang terinfeksi melalui pembedahan. Selain itu, beberapa cara ini bisa dilakukan untuk mengatasi botulisme, antara lain:

  • Pemberian Antitoksin

Jika botulisme terjadi karena makanan atau luka, maka injeksi antitoksin mampu mengurangi risiko komplikasi. Antitoksin menempel pada racun yang masih beredar dalam aliran darah dan mencegah racun merusak saraf. Namun, antitoksin tidak dapat membalikkan kerusakan yang telah terjadi. Untungnya, saraf mengalami regenerasi. Banyak orang pulih sepenuhnya, tetapi butuh berbulan-bulan dan terapi rehabilitasi untuk pulih total.

  • Pemberian Antibiotik

Antibiotik direkomendasikan untuk pengobatan botulisme akibat luka. Namun, obat-obatan ini tidak disarankan untuk jenis botulisme lain karena dapat mempercepat pelepasan racun.

  • Bantuan Pernapasan

Jika mengalami kesulitan bernapas, kamu memerlukan ventilator mekanis selama beberapa minggu karena efek toksin bisa hilang secara bertahap. Ventilator memaksa udara masuk ke paru-paru melalui pipa yang dimasukkan ke saluran napas melalui hidung atau mulut.

  • Rehabilitasi/Fisioterapi

Saat kamu pulih, kamu membutuhkan terapi untuk meningkatkan kemampuan bicara, menelan, dan fungsi-fungsi lain yang terpengaruh oleh penyakit ini.

Baca Juga:  Alasan Botulisme Bisa Sebabkan Gangguan Saraf

Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal botulisme atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!