• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Sebelum Memulai Terapi Testosteron, Perhatikan Hal Ini

Sebelum Memulai Terapi Testosteron, Perhatikan Hal Ini

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta – Testosteron atau yang dikenal juga sebagai hormon pria adalah hormon yang tidak hanya berperan penting dalam fungsi reproduksi, tapi juga memengaruhi berbagai fungsi tubuh lainnya, seperti produksi sel darah merah, pertumbuhan rambut wajah di dan tubuh, dan masih banyak lagi. Namun, seiring bertambahnya usia, kadar testosteron seorang pria secara bertahap akan menurun.

Menurunnya kadar testosteron bisa membuat pria mengalami berbagai masalah, baik dalam kehidupan seksual, masalah fisik maupun emosional. Nah, terapi testosteron bisa menjadi pilihan cara untuk meningkatkan kembali kadar testosteron yang rendah. Sebelum mencoba terapi testosteron, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan terlebih dahulu.

Baca juga: Berapa Kadar Testosteron yang Normal pada Pria?

Tanda-Tanda Kadar Testosteron Rendah

Kadar testosteron umumnya mencapai puncaknya selama masa remaja dan awal masa dewasa. Setelah usia 30 atau 40 tahun, kadar testosteron akan menurun sekitar 1 persen setiap tahun. 

Gejala testosteron rendah kadang-kadang bisa terlihat jelas, tapi bisa juga tidak terlalu terasa. Berikut tanda-tanda kadar testosterone yang rendah:

  • Dorongan seks atau libido yang rendah.
  • Disfungsi ereksi.
  • Mudah lelah dan tingkat energi yang buruk.
  • Massa otot menurun.
  • Rambut rontok di tubuh dan wajah.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Depresi.

Selain kadar testosteron yang rendah, gejala dan tanda-tanda di atas juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor lainnya, seperti efek samping pengobatan, sleep apnea obstruktif, masalah tiroid, diabetes dan depresi. Ada kemungkinan juga kondisi-kondisi tersebut menyebabkan kadar testosteron menurun. Jadi, cara mendiagnosis kadar testosteron yang rendah perlu menggunakan tes darah.

Pada pria yang lebih tua, rendahnya kadar testosteron bisa disebabkan oleh penuaan secara alami atau penyakit, seperti hipogonadisme. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi testosteron dalam jumlah yang normal karena adanya masalah pada testis atau kelenjar pituitari yang mengontrol testis. 

Nah, terapi penggantian testosteron bisa membantu memperbaiki tanda-tanda dan gejala rendahnya testosteron pada pria yang memiliki kondisi tersebut.

Baca juga: Ketahui Dampak dari Gangguan Testosteron Bagi Pria

Bentuk-Bentuk Terapi Testosteron

Terapi testosteron tersedia dalam beberapa bentuk, yang semuanya bisa meningkatkan kadar testosteron:

  • Tempelan di kulit (transdermal), bentuk terapi testosteron ini berupa tempelan kulit yang dikenakan di lengan atau tubuh bagian atas. Perawatan ini dilakukan sekali sehari.
  • Gel. Terapi testosteron juga hadir dalam bentuk gen bening. Testosteron ini bisa diserap langsung ke dalam kulit saat kamu mengoleskannya sehari sekali.
  • Tempelan di dalam mulut. Ada juga terapi testosteron dalam bentuk tablet yang digunakan dengan cara menempelkannya pada gusi atas, di atas gigi seri. Terapi ini bisa diterapkan dua kali sehari yang akan melepaskan testosteron ke dalam darah melalui jaringan mulut.
  • Suntikan dan Implan. Testosteron juga bisa disuntikkan langsung ke otot, atau ditanamkan di jaringan lunak. Lalu, tubuh kamu perlahan-lahan akan menyerap testosteron ke dalam aliran darah.

Sebenarnya tersedia juga testosteron oral. Namun, para ahli percaya testosteron oral bisa berdampak buruk pada hati. Sedangkan testosteron dalam bentuk-bentuk diatasi bisa melewati hati dan bisa mengalir ke dalam darah secara langsung.

Efektifkah Terapi Testosteron?

Terapi testosteron bisa membantu membalikkan efek hipogonadisme, tapi belum jelas apakah terapi tersebut bermanfaat bagi pria yang lebih tua dan sehat.

Selain itu, meskipun beberapa pria mengaku mereka merasa lebih muda dan bertenaga setelah mengonsumsi obat testosteron, hanya sedikit bukti yang mendukung manfaat penggunaan testosteron pada pria yang sehat.

Pedoman dari American College of Physicians menunjukkan bahwa terapi testosteron bisa meningkatkan fungsi seksual pada pria, tapi hanya ada sedikit bukti bahwa terapi ini meningkatkan fungsi lain, seperti vitalitas dan energi.

Risiko Terapi Testosteron

Mengobati rendahnya kadar testosteron karena penuaan normal dengan terapi testosteron tidak disarankan. Pasalnya, terapi testosteron bisa menyebabkan beberapa risiko berikut:

  • Memburuknya sleep apnea, gangguan tidur yang berpotensi serius ketika pernapasan berulang kali berhenti dan muncul.
  • Munculnya jerawat atau reaksi kulit lainnya.
  • Memicu pertumbuhan prostat non-kanker dan pertumbuhan kanker prostat yang sudah ada.
  • Memperbesar payudara.
  • Membatasi produksi sperma atau menyebabkan testis mengecil.
  • Memicu produksi sel darah merah yang terlalu banyak, yang bisa meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah.

Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa terapi testosteron bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Namun, masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk hal itu.

Jadi, sebelum mencoba terapi testosteron, tanyakanlah terlebih dahulu dengan dokter apakah pengobatan tersebut tepat untuk kondisi kamu. Bicarakan dengan dokter tentang risiko dan manfaatnya. Dokter akan mengukur kadar testosteron kamu setidaknya dua kali sebelum merekomendasikan terapi testosteron.

Bila rendahnya kadar testosteron yang kamu alami tidak disebabkan oleh kondisi medis tertentu, dokter akan menyarankan cara alami untuk meningkatkan kadar hormon tersebut, seperti menurunkan berat badan dan berolahraga.

Baca juga: 6 Cara Mengatasi Kekurangan Hormon Testosteron pada Pria

Bila kamu mengalami tanda-tanda kadar testosteron rendah, kamu bisa memeriksakannya ke dokter dengan buat janji di rumah sakit pilihan kamu melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasinya sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Testosterone therapy: Potential benefits and risks as you age.
WebMD. Diakses pada 2021. Is Testosterone Replacement Therapy Right for You?