• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Seberapa Efektif Penggunaan dari Vaksin HIV?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Seberapa Efektif Penggunaan dari Vaksin HIV?

Seberapa Efektif Penggunaan dari Vaksin HIV?

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 19 Mei 2022

“Uji klinis untuk mencari tahu efektivitas vaksin HIV masih berlangsung. Penting untuk melakukan upaya pencegahan lainnya.”

Seberapa Efektif Penggunaan dari Vaksin HIV?Seberapa Efektif Penggunaan dari Vaksin HIV?

Halodoc, Jakarta – Human immunodeficiency virus alias HIV masih menjadi momok hingga kini. Virus ini dapat merusak sel-sel dalam sistem kekebalan tubuh, dan melemahkan kemampuan untuk melawan penyakit. Setelah puluhan tahun sejak penyakit ini diidentifikasi, harapan akan adanya vaksin HIV mulai terlihat.

National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) pada Maret 2022 lalu mengumumkan dimulainya uji klinis tiga vaksin HIV mRNA. Akankah vaksin yang diuji ini berhasil dan efektif mencegah infeksi HIV? Simak ulasannya.

Uji Klinis Vaksin HIV mRNA Masih Berlangsung

Melansir laman National Institutes of Health, NIAID telah memulai uji klinis fase 1 untuk mengevaluasi tiga vaksin HIV eksperimental berdasarkan platform messenger RNA (mRNA).

Ini adalah teknologi yang digunakan dalam beberapa vaksin COVID-19. NIAID mensponsori penelitian yang disebut HVTN 302, dan NIAID-funded HIV Vaccine Trials Network (HVTN), yang berbasis di Fred Hutchinson Cancer Research Center in Seattle.

Anthony S. Fauci, direktur MD NIAID, mengungkapkan bahwa menemukan vaksin HIV adalah tantangan ilmiah yang menakutkan. Dengan keberhasilan vaksin untuk virus corona yang aman dan sangat efektif, kini peneliti ingin mempelajari apakah teknologi mRNA dapat mencapai hasil yang serupa terhadap infeksi HIV.

Vaksin mRNA bekerja dengan mengirimkan sepotong materi genetik. Materi tersebut akan menginstruksikan tubuh untuk membuat fragmen protein dari patogen target (seperti virus).

Itu nantinya akan dikenali dan diingat oleh sistem kekebalan, sehingga dapat meningkatkan respons substansial jika kemudian terpapar patogen tersebut. Tiga kandidat vaksin HIV yang sedang diteliti adalah BG505 MD39.3 mRNA, BG505 MD39.3 gp151 mRNA, dan BG505 MD39.3 gp151 CD4KO mRNA.

Dipimpin oleh peneliti utama Jesse Clark, MD, dari University of California Los Angeles, dan Sharon Riddler, MD, dari University of Pittsburgh, penelitian HVTN 302 akan melibatkan 108 orang dewasa berusia 18 hingga 55 tahun di 11 lokasi.

Setiap peserta akan secara acak ditugaskan ke salah satu dari enam kelompok yang masing-masing menerima tiga vaksinasi dari salah satu vaksin eksperimental. 

Tiga kelompok pertama (masing-masing 18 peserta), yang disebut Grup A, akan menerima suntikan intramuskular 100 mikrogram (mcg) kandidat vaksin yang ditugaskan pada kunjungan awal, pada bulan kedua dan lagi pada bulan keenam. Peserta di Grup A akan dievaluasi dua minggu setelah vaksinasi awal untuk memastikan kriteria keamanan telah terpenuhi.  

Respon keamanan dan kekebalan akan diperiksa melalui sampel aspirasi jarum halus darah, dan kelenjar getah bening yang diambil pada titik waktu tertentu selama uji coba. Staf klinis akan memantau dengan cermat keselamatan peserta selama penelitian. Uji klinis diharapkan akan selesai pada Juli 2023.

Melakukan Upaya Pencegahan Lain Juga Penting

Karena vaksin HIV saat ini masih tahap uji klinis, efektivitasnya tentu belum bisa dipastikan. Terlebih, HIV juga dapat terus bermutasi, seperti halnya virus lain. 

Sembari menunggu perkembangan vaksin HIV, penting untuk melakukan upaya pencegahan lainnya, seperti:

  • Melakukan hubungan seksual yang aman. Dengan memakai kondom dan tidak gonta-ganti pasangan.
  • Tidak berbagi jarum suntik. Penggunaan narkoba suntik misalnya, dapat meningkatkan risiko penularan HIV.
  • Minum obat PrEP. Bagi yang berisiko tinggi terinfeksi HIV, dokter dapat memberikan obat pre-exposure prophylaxis (PrEP).

Penularan HIV dari ibu ke bayi juga bisa dicegah, asalkan rutin menjalani skrining HIV selama kehamilan dan pengobatan antiretroviral. Risiko penularan bisa diminimalkan jika terapi antiretroviral dilakukan sejak awal kehamilan. 

Karena HIV dapat ditemukan dalam ASI, menyusui juga harus dihindari. Berdiskusilah lebih lanjut dengan dokter jika terinfeksi HIV saat hamil dan menyusui, untuk mendapatkan instruksi yang lebih mendetail.

Jika kamu yakin telah terpapar HIV, baik melalui hubungan seks tanpa kondom atau aktivitas berisiko tinggi lainnya, kamu dapat mencegah HIV dengan mengonsumsi obat post-exposure prophylaxis (PEP) selama 28 hari.

Itulah pembahasan mengenai perkembangan vaksin HIV dan tips pencegahan lainnya yang perlu dilakukan. Jika kamu merasa telah terpapar, segera periksakan diri ke dokter.

Dokter biasanya akan meresepkan obat yang diperlukan. Kamu bisa download Halodoc untuk cek kebutuhan medis yang diresepkan dokter, tanpa perlu keluar rumah.

Referensi:
NHS UK. Diakses pada 2022. HIV and AIDS.
National Institutes of Health. Diakses pada 2022. NIH Launches Clinical Trial Of Three mRNA HIV Vaccines.
CDC. Diakses pada 2022. HIV Prevention.
Very Well Health. Diakses pada 2022. 8 Simple Steps to Prevent HIV.