Sedang Viral, Kenali Tanda-Tanda Eksibisionisme

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Sedang Viral, Kenali Tanda-Tanda Eksibisionisme

Halodoc, Jakarta - Baru-baru ini jagat maya dihebohkan dengan pemberitaan mengenai pria yang melakukan teror. Ia melakukan aksinya dengan melempar spermanya ke wajah wanita-wanita yang ditemui di jalan di daerah Tasikmalaya. Aksi ini dilakukannya secara random pada wanita yang ia temui di jalan. Setelah melakukan aksi amoral tersebut, pria tersebut kemudian kabur dengan motor. 

Aksi pelemparan sperma ke wanita tersebut merupakan kondisi kelainan seksual yang disebut eksibisionisme. Gangguan ini termasuk dalam kondisi yang ditandai dengan dorongan, fantasi, atau tindakan mengekspos alat kelamin atau bagian tubuh intim lainnya kepada orang yang tidak menyetujuinya, terutama orang asing. 

Eksibisionisme, Sebuah Kelainan Seksual

Kelainan seksual eksibisionisme ini dianggap sebagai gangguan paraphilic, yang mengacu pada pola rangsangan seksual atipikal yang persisten dan intens. Selain itu, gangguan ini juga disertai dengan tekanan atau gangguan klinis yang signifikan. 

Baca juga: 5 Hal yang Memicu Seseorang Mengidap Sodomasokisme

Terdapat beberapa subtipe gangguan eksibisionisme. Kondisi tersebut tergantung  pada usia korban dan kepada siapa pengidap memilih untuk menunjukkan alat kelamin mereka. Misalnya preferensi pengidap untuk menunjukkan alat kelamin kepada anak-anak praremaja, orang dewasa, atau semuanya. 

Beberapa pelaku mungkin menyangkal bahwa mereka memamerkan alat kelamin kepada orang yang tidak curiga terhadap aksinya. Pelaku juga menyangkal bahwa tindakan ini bisa menyebabkan korban tertekan. Jika mereka benar-benar mengekspos diri mereka berulang kali kepada orang yang tidak setuju atau korban, maka dapat dipastikan bahwa pelaku mengalami kelainan seksual eksibisionisme. 

Prevalensi kelainan eksibisionisme tidak diketahui. Namun, diperkirakan bahwa gangguan tersebut memengaruhi sekitar 2-4 persen populasi pria. Kondisi ini kurang umum dialami wanita, meskipun estimasi prevalensi belum diketahui. 

Baca juga: 5 Kelainan Seksual yang Perlu Diketahui

Perhatikan Tanda-Tanda Eksibisionisme

Diagnosis kelainan eksibisionisme dapat dibuat jika kriteria atau gejala berikut terjadi:

  • Selama setidaknya enam bulan, seseorang memiliki fantasi, perilaku, atau dorongan yang berulang dan membangkitkan gairah seksual. Kondisi tersebut juga melibatkan dorongan pamer alat kelamin kepada orang yang tidak menaruh curiga akan aksi tersebut.

  • Pelaku telah bertindak atas dorongan seksual ini pada orang-orang yang tidak setuju/korban, atau dorongan/fantasi tersebut menyebabkan kesulitan yang nyata atau kesulitan antarpribadi di tempat kerja atau dalam situasi sosial sehari-hari. 

Faktor Risiko Terjadinya Eksibisionisme

Terjadinya kelainan seksual ini karena adanya pengembangan gangguan eksibisionisme pada pria, termasuk gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan alkohol, dan minat pedofilia. Faktor-faktor risiko lain yang mungkin berkaitan dengan eksibisionisme termasuk pelecehan seksual dan emosional selama masa kanak-kanak dan keasyikan seksual di masa kecil. 

Beberapa orang yang menampilkan perilaku ini terlibat dalam paraphilias lain juga, dan akibatnya dianggap hiperseksual. Berdasarkan theory of courtship disorder, seperti yang diterapkan pada paraphilias, mengatakan bahwa eksibisionisme menganggap respons terkejut korban terhadap perilaku pelaku sebagai bentuk minat seksual. 

Baca juga: Termasuk Gangguan Seksual, Bisakah Pedofilia Disembuhkan?

Dalam benak para eksibisionis, ia terlibat dalam bentuk godaan. Namun, perilaku itu tidak berbahaya, dan beberapa pelaku eksibisionis dapat berkurang seiring bertambahnya usia.

Kebanyakan orang dengan gangguan kelainan eksibisionisme tidak mencari pengobatan sendiri dan tidak menerima perawatan sampai mereka ditangkap dan diharuskan untuk rehabilitasi oleh pihak berwenang. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mungkin memiliki gangguan kelainan seksual ini, perawatan dini sangat disarankan. Cobalah untuk mendiskusikannya pada dokter melalui aplikasi Halodoc mengenai penanganan yang tepat.

Referensi:

Psychology Today. Diakses pada 2019. Exhibitionism.