Segala Hal Tentang Pheochromocytoma yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
pheochromocytoma, tumor jinak

Halodoc, Jakarta - Kamu mendapati ada tumor jinak pada bagian tengah kelenjar adrenal? Jika hal ini terjadi, berarti kamu tengah mengidap pheochromocytoma. Pada pengidap pheochromocytoma, tumor yang tumbuh dan berkembang ini akan mengganggu kerja hormon, sehingga pengidap akan mengalami hipertensi. Jika pheochromocytoma masih terasa asing di telinga, berikut segala hal yang perlu kamu ketahui tentang penyakit ini.

Baca juga: Ini Hal yang Dapat Menyebabkan Hipertensi Sekunder

Pheochromocytoma, Penyakit yang Seperti Apa?

Pheochromocytoma merupakan tumor jinak, hanya 10 persen kasus pheochromocytoma yang berkembang menjadi tumor ganas. Meskipun jinak, penyakit yang satu ini tidak bisa disepelekan begitu saja. Karena jika tumbuh dan berkembang hingga menyebabkan hipertensi, beberapa organ seperti otak, jantung, ginjal, dan paru-paru bisa saja mengalami kerusakan yang fatal.

Pheochromocytoma dapat muncul tanpa disertai dengan adanya gejala. Namun, ketika tumor ini perlahan berkembang dengan meningkatkan produksi hormon pada kelenjar adrenal, gejala baru akan muncul pada pengidapnya. Beberapa gejala yang muncul, meliputi:

  • Jantung berdebar-debar.

  • Mengalami sakit kepala.

  • Wajah terlihat pucat.

  • Mengalami mual dan muntah-muntah.

  • Mengalami konstipasi.

  • Keluar keringat berlebihan.

  • Sulit tidur karena merasa cemas.

  • Mengalami penurunan berat badan.

  • Mengalami nyeri pada perut atau nyeri dada.

  • Mengalami sesak napas.

  • Mengalami kejang-kejang.

Kemunculan pheochromocytoma akan ditandai dengan adanya hipertensi, apalagi jika kamu mengidap hipertensi pada usia yang masih relatif muda. Ketika tumor jinak berkembang semakin besar, gejala yang muncul akan menjadi semakin parah. Untuk mencegah berkembangnya tumor, segera temui dokter di rumah sakit pilihan melalui aplikasi Halodoc jika kamu menemui serangkaian gejala tersebut untuk menghindari terjadinya komplikasi yang berbahaya.

Baca juga: Nefropati Diabetik Bisa Picu Hipertensi Sekunder, Benarkah?

Penyebab dan Faktor Risiko Pemicu Pheochromocytoma

Pheochromocytoma dapat terjadi ketika ditemukan adanya tumor yang berkembang pada sel kromafin, yaitu sel yang berada di tengah kelenjar adrenal. Sel ini mempunyai dua kelenjar yang berada di atas ginjal. Belum ditemukan apa yang menjadi penyebab pasti dari pheochromocytoma ini. Namun, sejumlah faktor risiko dapat menjadi pemicu terbentuknya tumor. 

Pengidap pheochromocytoma akan mengalami gangguan kerja pada sel kromafin, yaitu sel yang berfungsi untuk menghasilkan hormon adrenalin dan noradrenalin. Ketika hal ini terjadi, pengidap akan mengalami gangguan produksi pada hormon tersebut, sehingga terjadilah serangkaian perubahan pada gula darah, tekanan darah, dan detak jantung.

Baca juga: 4 Pemeriksaan Medis untuk Diagnosis Hipertensi Sekunder

Beberapa faktor pemicu terjadinya pheochromocytoma, antara lain:

  • Terlalu banyak aktivitas yang dapat membuat tubuh merasa sangat kelelahan.

  • Merasa stres dan cemas, sehingga pikiran tidak dapat fokus dan tubuh mengalami kurang tidur yang dapat berakibat pada tekanan darah.

  • Melakukan tindakan operasi.

  • Penyalahgunaan narkotika dan zat-zat adiktif lainnya.

  • Mengonsumsi makanan yang mampu mengubah tekanan darah, yaitu makanan yang diawetkan, makanan yang terlalu asam, serta makanan yang terlalu matang.

Ketika faktor pemicu tersebut tidak kamu hindari, gejala akan mulai muncul. Jika gejala yang muncul tidak segera ditangani, sejumlah komplikasi bisa saja kamu alami. Komplikasi yang terjadi merupakan akibat dari tumor yang berkembang. Sejumlah komplikasi yang dapat terjadi, yaitu stroke, gagal ginjal, penyakit jantung, kerusakan saraf mata, serta mengalami gangguan pernapasan akut. Meskipun komplikasi ini jarang sekali terjadi, tidak ada salahnya kamu selalu waspada akan kondisi kesehatanmu.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. What Is Pheochromocytoma?
National Organization for Rare Disorders. Diakses pada 2019. Pheochromocytoma.