• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Sering Kelelahan, Benarkah Gejala Awal Hemiplegia?

Sering Kelelahan, Benarkah Gejala Awal Hemiplegia?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Hemiplegia adalah kondisi ketika tubuh mengalami kelumpuhan atau hilangnya kemampuan otot untuk bergerak. Kondisi ini biasanya hanya terjadi pada salah satu sisi tubuh. Ketika seseorang mengalami hemiplegia, ia akan mengalami berbagai macam gejala. Gejala utamanya adalah hilangnya kemampuan untuk menggerakan salah satu atau beberapa otot. Hal ini kerap dirasakan oleh pengidap sebagai sering kelelahan.

Padahal sebenarnya, gejala hemiplegia cukup bervariasi. Terkadang juga pengidap juga dapat merasakan sensasi mati rasa atau kebas sebelum terjadi hemiplegia. Selain itu, gejala hemiplegia lainnya yang biasa terjadi adalah:

  • Kehilangan keseimbangan tubuh.
  • Kesulitan dalam aktivitas berjalan, menelan, atau berbicara.
  • Berkurangnya presisi gerakan.
  • Kesulitan ketika menggenggam suatu benda.
  • Gangguan koordinasi gerak tubuh.

Baca juga: Ketindihan saat Tidur Bisa Jadi Gejala Hemiplegia?

Penyebab dan Faktor Risiko Hemiplegia

Sebagian besar kasus hemiplegia atau kelumpuhan pada otot disebabkan oleh stroke. Pada tingkatan tertentu setelah mengalami stroke, sekitar 9 dari 10 pengidap stroke mengalami kondisi ini. Meski bisa memengaruhi bagian tubuh manapun, umumnya hemiplegia terjadi pada satu sisi tubuh yang berlawan dengan sisi otak yang rusak karena stroke.

Ada berbagai faktor risiko yang bisa menyebabkan seseorang mengalami hemiplegia, yaitu:

  • Hipertensi (tekanan darah tinggi.
  • Penyakit jantung.
  • Stroke.
  • Stroke perinatal pada bayi dalam 3 hari.
  • Gangguan kehamilan seperti kesulitan persalinan, atau trauma saat kelahiran.
  • Cedera otak traumatis.
  • Diabetes.
  • Tumor otak.
  • Infeksi, terutama encephalitis dan meningitis. Beberapa infeksi serius, terutama sepsis dan abses pada leher, juga dapat menyebar ke otak jika tidak ditangani
  • Leukodystrophies.
  • Vaskulitis.

Baca juga: Ternyata, Ini Penyebab Utama Terjadinya Hemiplegia

Diagnosis dan Pengobatan Hemiplegia

Seperti penyakit lainnya, dokter akan memastikan diagnosis hemiplegia dengan melakukan wawancara medis secara mendetail. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, untuk menentukan bagian tubuh yang mengalami hemiplegia. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang seperti sinar X, CT scan, MRI, dan lainnya untuk membantu menegakkan diagnosis.

Perlu diketahui bahwa hemiplegia yang tak ditangani dengan tepat bisa menimbulkan berbagai komplikasi. Contohnya adalah atrofi otot, masalah kandung kemih (inkontinensia urine), deep vein thrombosis, kesulitan bernapas, hingga depresi. Jadi, ketika kamu mengalami gejala awal hemiplegia seperti yang disebutkan sebelumnya, segera download aplikasi Halodoc untuk membicarakannya pada dokter lewat chat, atau buat janji dengan dokter di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Baca juga: Masih Muda, Bisa Juga Kena Stroke

Lalu, setelah diagnosis hemiplegia dipastikan, dokter akan melakukan pengobatan. Ada berbagai metode pengobatan atau perawatan yang bisa digunakan untuk memperbaiki gerakan pada pengidap hemiplegia, misalnya pada lengan dan tungkai kaki. Pengobatannya bisa meliputi modified constraint-induced therapy. Terapi ini bertujuan untuk mendorong penggunaan bagian tubuh yang mengalami kelumpuhan, agar bisa berfungsi kembali.

Selain itu, pengobatan hemiplegia juga bisa menggunakan stimulasi listrik. Tujuan terapi ini adalah untuk memperkuat bagian tubuh yang melemah, meningkatkan kewaspadaan sensori, hingga meningkatkan jangkauan gerak. Setidaknya dibutuhkan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun untuk mencapai pemulihan sepenuhnya dari hemiplegia yang dialami. 

Selain pengobatan medis, ada beberapa hal yang mesti dilakukan pengidap hemiplegia secara mandiri di rumah, seperti:

  • Tetap aktif bergerak dan menggunakan otot.
  • Gunakan sepatu yang datar.
  • Gunakan alat bantu, misalnya tongkat atau alat bantu jalan yang direkomendasikan oleh dokter.
  • Perkuatlah otot kaki dan keseimbangan, melalui berbagai latihan.
  • Perhatikan setiap pijakan langkah ketika berjalan.
  • Minta orang lain untuk membantu memasang alat bantu pegangan di dinding rumah.

Referensi:
Very Well Health. Diakses pada 2019. Hemiplegia and Hemiparesis
National Stroke Association. Diakses pada 2019. Paralysis.