Sering Kesemutan, Benarkah Gejala dari Neuropati Perifer?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
gejala neuropati perifer

Halodoc, Jakarta - Kamu tentu pernah mengalami kesemutan saat terlalu lama duduk. Mungkin kamu menganggapnya biasa, karena rasa kesemutan akan segera menghilang dalam beberapa saat. Namun, perlu kamu tahu bahwa tidak semua kesemutan merupakan suatu hal yang normal. Kesemutan dapat menjadi tanda awal dari penyakit dan kerusakan saraf tepi neuropati perifer.

Bagaimana Membedakannya?

Kesemutan yang normal terjadi, umumnya ketika kamu dengan sengaja menutup aliran darah, misalnya terlalu lama duduk menyilangkan kaki atau duduk bersila. Namun, pada kondisi ini, kesemutan akan hilang setelah kaki diluruskan.

Sementara itu, kesemutan yang diakibatkan oleh penyakit neuropati perifer, gejala kesemutan muncul dengan sendirinya. Misalnya, kesemutan tiba-tiba terjadi saat duduk di kursi atau bahkan saat berdiri tanpa kamu menutup aliran darah.

Frekuensi kesemutan pada setiap orang bisa berbeda-beda. Ada yang setiap hari bisa mengalami kesemutan. Namun, memang kesemutan pada penyakit neuropati perifer terjadi secara berulang, serta hilang dan timbul.

Baca juga: 6 Gejala yang Dapat Mendeteksi Neuropati Perifer

Rasa kesemutan dan panas pada lengan dan kaki bisa jadi merupakan gejala awal dari kerusakan saraf. Perasaan-perasaan ini sering berawal di jari kaki dan kaki. Kamu dapat merasakan sakit, biasanya terjadi di kaki. Pengidap dapat merasakan mati rasa bukan hanya di kaki dan lengan yang membuat kamu merasa tidak sadar melangkah di atas benda tajam.

Kamu juga tidak dapat merasakan apapun ketika menyentuh benda yang terlalu panas atau dingin.  Apabila kesemutan dibiarkan dapat menyebabkan mati rasa. Di tahap lanjut, neuropati perifer dapat menyebabkan gangguan penurunan motorik, sensasi rasa, hingga depresi.  

Selain kesemutan, sering mengalami kram, dan kebas juga dapat menjadi tanda neuropati perifer. Kondisi ini terjadi ketika adanya gangguan atau kelainan saraf yang memengaruhi saraf di luar otak dan saraf tulang belakang. Dengan kata lain, neuropati perifer memengaruhi saraf-saraf pada anggota gerak, seperti lengan, tungkai, tangan, kaki, dan jari. Saraf-saraf ini merupakan bagian dari sistem saraf perifer yang berfungsi menghantarkan sinyal dari dan ke otak.

Baca juga: Waspada Neuropati Dapat Menyerang Ibu Hamil

Berikut adalah gejala lain dari neuropati perifer:

  • Kram otot dan kedutan.
  • Kelemahan atau kelumpuhan pada salah satu atau beberapa otot.
  • Sulit mengangkat kaki, sehingga mengalami kesukaran dalam berjalan.
  • Otot mengecil.
  • Parestesia, yaitu sensasi kesemutan atau rasa seperti tertusuk-tusuk pada bagian yang mengalami gangguan.
  • Rasa perih dan menyengat, biasanya pada bagian kaki dan tungkai.
  • Menurunnya kemampuan untuk merasakan rasa sakit.
  • Pembengkakan kaki yang tidak dirasakan.
  • Perubahan suhu tubuh, terutama di bagian kaki.
  • Kehilangan keseimbangan atau koordinasi.
  • Merasakan sakit dari stimulasi yang seharusnya tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali.

Untuk meredakan nyeri pada neuropati perifer, pengidap dapat menggunakan obat antidepresan seperti amitriptyline atau duloxetine, serta obat antikejang seperti gabapentin atau pregabalin. Jika pengidap tidak bisa mengonsumsi sejumlah obat tersebut, bisa juga menggunakan salep yang mengandung capsaicin 3-4 kali sehari dan tidak boleh dioleskan pada kulit yang radang atau luka terbuka.

Baca juga: Neuropati Perifer Lebih Rentan Terjadi pada Wanita, Benarkah?

Pada sejumlah kasus, pengidap neuropati perifer juga mungkin akan mengalami keringat berlebih (hiperhidrosis). Kondisi tersebut dapat ditangani dengan suntik botulinum toxin (botox). Sedangkan pada pengidap yang mengalami gangguan berkemih, bisa pula menggunakan kateter.

Selain obat-obatan di atas, gejala yang dialami juga dapat dikurangi dengan fisioterapi, seperti terapi listrik berkekuatan rendah (TENS) atau penggunaan alat bantu berjalan, seperti tongkat atau kursi roda. Namun, apapun informasi penanganan kondisi neuropati perifer yang kamu ketahui, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.