Sering Makan Mie Instan Tingkatkan Risiko Kolesistitis, Benarkah?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Sering Makan Mie Instan Tingkatkan Risiko Kolesistitis, Benarkah?

Halodoc, Jakarta – Kolesistitis adalah peradangan pada kantung empedu. Kantung empedu merupakan organ kecil berbentuk buah pir di sisi kanan perut di bawah hati. Kantung empedu menampung cairan pencernaan yang dilepaskan ke usus kecil.

Dalam kebanyakan kasus, batu empedu yang menghalangi tabung keluar dari kantung empedu menyebabkan kolesistitis. Ini menghasilkan penumpukan empedu yang dapat menyebabkan peradangan. Penyebab lain dari kolesistitis, termasuk masalah saluran empedu, tumor, penyakit serius, dan infeksi tertentu.

Jika tidak diobati, kolesistitis dapat menyebabkan komplikasi serius yang terkadang mengancam jiwa, seperti pecahnya kandung empedu. Perawatan untuk kolesistitis sering melibatkan pengangkatan kandung empedu.

Baca juga: Begini Metode untuk Menangani Kasus Batu Empedu

Penyebab Kolesistitis

Penyebab utama kolesistitis adalah batu empedu atau endapan empedu yang terperangkap di celah kandung empedu. Ini kadang-kadang disebut pseudolite, atau "batu palsu".

Penyebab lain termasuk:

  • Cedera pada perut akibat luka bakar, sepsis atau trauma, ataupun karena pembedahan

  • Syok

  • Defisiensi imun

  • Puasa yang berkepanjangan

  • Vaskulitis

  • Infeksi pada empedu juga dapat menyebabkan peradangan pada kantong empedu.

  • Tumor dapat menghentikan empedu agar tidak keluar dari kantung empedu dengan benar, sehingga terjadi akumulasi empedu. Ini dapat menyebabkan kolesistitis.

Lantas, apakah mengonsumsi mie instan bisa meningkatkan risiko kolesistitis? Journal of Nutrition, mengaitkan konsumsi mie instan dengan risiko jantung, terutama pada perempuan. Para peneliti melakukan penelitian di Korea Selatan, di mana konsumsi mie instan adalah yang tertinggi di dunia, dengan lebih dari 10.700 orang berusia antara 19 hingga 64 tahun.

Baca juga: Pengidap Batu Empedu Ternyata Berisiko Alami Kolesistitis

Hasilnya, perempuan yang sering mengonsumsi mie instan ternyata lebih cenderung mengalami sindrom metabolik kelompok faktor risiko, termasuk obesitas dan tekanan darah tinggi, kolesterol, serta gula darah yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Efek berbahaya sebagian besar ditemukan pada wanita dan bukan pria. Bagian dari studi itu menjelaskan, wanita yang makan mie instan setidaknya dua kali seminggu menunjukkan 68 persen lebih tinggi risiko sindrom metabolik yang merupakan sindrom yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, termasuk risiko kolesistitis.

Kandungan natrium yang tinggi dalam produk mie instan jelas, tapi penyebab utamanya adalah mie itu sendiri. Dalam penelitian lain oleh Dr. Braden Kuo, direktur laboratorium motilitas gastrointestinal di Rumah Sakit Umum Massachusetts di Universitas Harvard, menemukan hasil yang meresahkan setelah menguji pencernaan mie.

Ia menggunakan kamera kecil untuk mempelajari pemecahan mie ramen instan di perut, dan menemukan betapa sulitnya bagi tubuh untuk mencerna mie yang berisi bahan pengawet. Pengawet yang disebut TBHQ yang ditemukan di banyak makanan olahan memperpanjang umur simpan makanan berlemak dan membuatnya lebih sulit untuk dicerna.

Baca juga: Inilah 6 Gejala Batu Empedu ketika Menyumbat Saluran Pencernaan

Sekali atau dua kali sebulan bukan masalah, tapi beberapa kali seminggu mengonsumsi mie instan bisa sangat tidak baik untuk kesehatan. Sindrom metabolik sendiri kerap dikaitkan dengan penyakit batu empedu.

Kandung empedu secara fisiologis berkonsentrasi dan menyimpan empedu selama puasa dan memberikan sekresi empedu berirama baik selama puasa. Selain itu, dalam fase postprandial untuk melarutkan lemak makanan dan vitamin yang larut dalam lemak. Gangguan pada empedu bisa meningkatkan risiko kolesistitis.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai kolesistitis dan hubungannya dengan makan mie instan, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.