• Home
  • /
  • Sering Marah-Marah Tingkatkan Risiko Hipertensi?

Sering Marah-Marah Tingkatkan Risiko Hipertensi?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Sering Marah-Marah Tingkatkan Risiko Hipertensi?

Halodoc, Jakarta - Marah-marah yang diakibatkan oleh stres dapat menyebabkan tekanan darah meningkat sementara. Namun, apakah marah-marah akibat stres dapat menyebabkan darah tinggi jangka panjangan? Ini belum diketahui secara pasti. Belum diketahui apakah marah jangka pendek dapat menyebabkan masalah hipertensi dalam jangka panjang. 

Reaksi tubuh terhadap stres dapat memengaruhi tekanan darah. Tubuh menghasilkan gelombang hormon saat kamu berada dalam situasi stres. Hormon-hormon ini sementara meningkatkan tekanan darah dengan menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah menyempit. 

Baca juga: 3 Tips Olahraga untuk Pengidap Hipertensi

Kemarahan Tidak Menyebabkan Hipertensi Jangka Panjang

Belum ada bukti bahwa sering marah dan stres dengan sendirinya menyebabkan hipertensi jangka panjang. Namun, bereaksi terhadap stres dan amarah dengan cara yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko hipertensi, serangan jantung, dan stroke. Perilaku tertentu terkait dengan hipertensi, seperti:

  • Merokok.
  • Minum terlalu banyak alkohol.
  • Makan makanan yang tidak sehat.

Selain itu, penyakit jantung mungkin terkait dengan kondisi kesehatan tertentu yang juga berhubungan dengans tres, seperti:

  • Kegelisahan.
  • Depresi.
  • Isolasi dari teman dan keluarga.

Namun, tidak ada bukti bahwa kondisi ini secara langsung berkaitan dengan hipertensi. Sebaliknya, hormon-hormon yang dihasilkan tubuh ketika kamu sedang stres dan marah secara emosional dapat merusak arteri yang menyebabkan penyakit jantung. 

Baca juga: Atasi Tekanan Darah Tinggi dengan 5 Buah Ini

Beberapa gejala seperti yang disebabkan oleh depresi juga dapat menyebabkan kamu lupa minum obat untuk mengendalikan hipertensi atau kondisi jantung lainnya. Peningkatan tekanan darah yang berkaitan dengan marah dan stres bisa sangat dramatis. Namun, ketika amarah dan stres hilang, tekanan darah akan kembali normal. Lonjakan sementara dalam tekanan darah bahkan dapat merusak pembuluh darah, jantung, dan ginjal dengan cara yang mirip dengan hipertensi jangka panjang. 

Kelola Stres dan Amarah Untuk Menurunkan Tekanan Darah

Mengurangi tingkat stres dan amarah mungkin tidak secara langsung menurunkan tekanan darah dalam jangka panjang. Namun, menggunakan strategi untuk mengelola stres dapat membantu meningkatkan kesehatan tubuh dengan cara lain. Menguasai teknik manajemen stres dapat menyebabkan perubahan perilaku sehat, termasuk mengurangi tekanan darah. 

Berolahraga tiga hingga lima kali seminggu selama 30 menit dapat mengurangi tingkat stres. Selain itu, jika kamu memiliki hipertensi, melakukan kegiatan fisik yang dapat membantu mengelola stres dan meningkatkan kesehatan tubuh dapat membuat perbedaan jangka panjang dalam menurunkan tekanan darah. 

Baca juga: 7 Jenis Makanan yang Harus Dihindari Pengidap Hipertensi

Ada banyak pilihan untuk mengelola stres. Sebagai contoh:

  • Sederhanakan jadwal. Jika kamu selalu merasa tergesa-gesa, maka luangkan waktu beberapa menit untuk meninjau kalender dan daftar tugas. Cari kegiatan yang menyita waktu, tetapi tidak terlalu penting bagi kamu. Jadwalkan lebih sedikit waktu untuk kegiatan ini.

  • Bernapaslah dengan santai. Menarik napas panjang dan dalam dapat membantu kamu rileks. 

  • Olahraga. Aktivitas fisik merupakan penghilang stres alami. Pastikan kamu mendapat persetujuan dari dokter melalui aplikasi Halodoc sebelum memulai program olahraga, terutama jika kamu telah didiagnosis mengalami hipertensi. 

  • Tidur yang cukup. Terlalu sedikit tidur dapat membuat masalah kamu tampak lebih buruk dari yang sebenarnya. Jadi, sebenarnya mungkin kamu butuh cukup tidur. 

  • Ubah perspektif. Saat menghadapi masalah, tahan kecenderungan untuk mengeluh. Akui perasaan mengenai situasinya, dan kemudian fokuskan untuk menemukan solusi. Tujuan dari cara di atas adalah untuk menemukan apa yang cocok kamu. Bersikaplah terbuka dan mau bereksperimen. Pilih strategi, ambil tindakan, dan mulailah menikmati manfaatnya. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Stress and high blood pressure: What's the connection?
Medical News Today. Diakses pada 2020. Angry outbursts may raise the risk of heart attack.