Si Kecil Alami Kriptorkismus, Apakah Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
si-kecil-alami-kriptorkismus-apakah-berbahaya-halodoc

Halodoc, Jakarta – Ibu dan suami yang sedang menanti-nantikan kehadiran seorang anak pasti sudah tidak sabar lagi menunggu hari Si Kecil lahir ke dunia. Layaknya orangtua pada umumnya, ibu dan suami pun tentunya berharap Si Kecil bisa lahir dengan sehat dan sempurna. Namun, bagaimana bila ibu melahirkan bayi laki-laki yang memiliki kelainan pada testisnya? Kriptokismus adalah suatu kelainan di mana testis pada bayi laki-laki tidak turun ke dalam skrotum saat lahir. Kondisi ini tentu membuat ibu dan ayah menjadi khawatir. Namun, apakah kriptorkismus berbahaya? Cari tahu jawabannya di sini.

Mengenal Kriptorkismus

Testis terbentuk dan berkembang di dalam rongga perut (abdomen) selama janin di dalam kandungan. Nantinya, sekitar dua bulan menjelang kelahiran atau pada trimester ketiga kehamilan, testis bayi akan turun secara alami melalui suatu saluran bernama inguinal canal menuju ke skrotum. Namun, pada bayi yang mengalami kriptorkismus, testisnya tidak berada pada skrotum seperti yang seharusnya, melainkan masih tetap berada di dalam rongga perut atau di inguinal canal pada saat ia dilahirkan.

Kriptorkismus lebih sering terjadi pada bayi yang lahir secara prematur. Dokter biasanya tidak akan langsung melakukan tindakan untuk memperbaiki kelainan pada testis ini. Sebab, pada sebagian besar kasus, testis bisa turun dan menempati posisi seharusnya yaitu di skrotum, dalam waktu 3–6 bulan. Namun, bila testis bayi belum turun ke skrotum hingga usianya 6 bulan, maka tindakan penanganan berupa operasi perlu dilakukan. Meskipun tidak menimbulkan rasa nyeri, tetapi kriptorkismus tetap perlu ditangani dengan cermat karena bisa meningkatkan risiko kanker testis

Baca juga: 6 Faktor Risiko Kriptorkismus pada Si Kecil

Komplikasi Serius yang Bisa Terjadi pada Bayi dengan Kriptorkismus

Kondisi kelainan testis pada kasus kriptorkismus sebaiknya tidak dianggap remeh, karena bisa menyebabkan komplikasi yang cukup berbahaya. Salah satu komplikasi yang bisa dialami bayi dengan kriptorkismus adalah kemandulan atau infertilitas, yang ditandai dengan rendahnya jumlah sperma yang berkualitas baik. Komplikasi lainnya yang bisa terjadi adalah kanker testis. Namun, risiko mengalami kanker testis lebih besar terjadi pada bayi kriptorkismus di rongga perut dibanding kriptorkismus yang terjadi di inguinal canal.

Baca juga: Testis Besar Sebelah, Indikasi Terkena Varikokel?

Tindakan Pengobatan untuk Menangani Kriptorkismus

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tindakan penanganan baru akan dilakukan apabila sampai usia 6 bulan atau lebih, testis bayi tidak turun ke skrotum. Biasanya, tindakan penanganan dilakukan saat bayi berusia 6–12 bulan. Tujuannya adalah untuk memindahkan testis kedalam skrotum seperti yang seharusnya. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menangani Kriptorkismus adalah dengan menyuntikkan hormon chorionic gonadotropin (HCG) untuk merangsang testis turun ke skrotum. Namun, terapi hormon tersebut bukanlah pilihan utama, karena hasilnya tidak seefektif bila dibandingkan operasi.

Operasi memang menjadi pilihan utama untuk menangani kriptorkismus. Jenis operasi yang dilakukan untuk memindahkan testis kedalam skrotum adalah orkidopeksi. Namun, layaknya tindakan operasi pada umumnya, operasi pemindahan testis tersebut juga memiliki beberapa risiko, antara lain:

  • Perdarahan;

  • Infeksi;

  • Testis kembali naik;

  • Jaringan testis mengecil dan mati (atrofi testis). Kondisi ini bisa terjadi karena adanya gangguan pada suplai darah;

  • Kerusakan pada saluran testis menuju uretra, sehingga cairan mani sulit keluar; dan

  • Hernia inguinalis, yaitu kondisi di mana dinding perut bagian bawah atau kanal inguinal melemah, sehingga usus bisa masuk.

Meski memiliki banyak risiko, tetapi tingkat keberhasilan operasi dalam mengembalikan posisi testis ke skrotum sangat besar.

Pada kasus bayi yang tidak memiliki testis sama sekali, penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan implantasi testis. Sedangkan pada bayi yang setidaknya masih memiliki satu testis yang sehat, maka kriptorkismus bisa ditangani dengan terapi hormon. Kriptorkismus perlu ditangani dengan baik demi kematangan pengidap secara fisik saat pubertas.

Baca juga: Kenali Pemeriksaan Fisik untuk Diagnosis Kriptorkismus

Itulah bahaya kriptorkismus yang perlu diwaspadai para orangtua. Bila ibu masih ingin mengetahui tentang kelainan testis ini lebih lanjut, tanyakan saja kepada dokter dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Hubungi dokter melalui melalui fitur Talk to A Doctor untuk bertanya-tanya seputar kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Medical News Today (2019). What is cryptorchidism, or an undescended testicle?
Stanford Children’s Health (2019). Undescended Testes in Children