• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Siapa Saja yang Berisiko Mengidap Ablasi Retina?

Siapa Saja yang Berisiko Mengidap Ablasi Retina?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Halodoc, Jakarta - Pernah mengalami timbulnya kilatan cahaya, bintik hitam, atau sebagian penglihatan seperti tertutup tirai abu-abu? Hati-hati, kondisi ini bisa jadi menandai gejala ablasi retina. 

Ablasi retina merupakan kondisi ketika terlepasnya retina dari jaringan penyokongnya. Retina punya peran penting pada mata. Organ ini berfungsi memproses cahaya yang ditangkap oleh mata. 

Setelah itu, retina akan mengubah cahaya menjadi sinyal listrik dan diteruskan ke otak. Sinyal ini selanjutnya diproses oleh otak, dan diinterpretasikan sebagai gambar yang dilihat oleh mata. Nah, bila retina terganggu seperti mengalami abrasi, maka tentunya akan timbul sederet keluhan pada mata. 

Pertanyaannya, siapa sih yang berisiko mengidap ablasi retina? 

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Ablasi Retina?


Lansia dan Kelompok Lainnya

Rasanya lansia atau mereka yang berusia 50 tahun ke atas rasanya perlu harap-harap cemas terhadap kondisi ini. Pasalnya, dalam kebanyakan kasus ablasi retina umumnya dialami oleh mereka yang berusia 50 tahun ke atas. Di usia ini gel vitreus biasanya sudah menyusut dan telah ditarik dari retina. 

Vitreous ini merupakan gel yang mengisi ruang antara lensa mata dan retina di dalam bola mata manusia. Nah, seiring usia bertambah, gel ini mulai menyusut atau mencair sehingga memicu beragam keluhan pada mata. Akan tetapi, ablasi retina tak cuma rentan dialami oleh lansia saja.

Nah, berikut beberapa kelompok lainnya yang memiliki risiko mengidap ablasi retina. 

  • Riwayat keluarga yang mengidap ablasi retina.
  • Pernah mengalami ablasi retina.
  • Memiliki miopia atau rabun jauh sangat besar, misalnya minus 10.
  • Pernah menjalani prosedur pembedahan di mata, seperti operasi katarak.
  • Riwayat cedera serius pada mata.
  • Riwayat mengidap penyakit mata lainnya, seperti uveitis atau peradangan pada lapisan tengah mata.

Baca juga: 2 Jenis Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Ablasi Retina


Awasi Penyebabnya

Terlepasnya retina mata dari pembuluh darah yang menyalurkan oksigen dan nutrisi, merupakan penyebab utama dari ablasi retina. Lalu, hal apa saja sih yang bisa memicu kondisi ini? 

  • Eksudatif. Pada tipe ini terjadi penumpukan cairan dibawah retina tanpa disertai adanya robekan atau lubang. Jenis ini terjadi akibat cairan dari pembuluh darah keluar dan terkumpul di bawah retina. Misalnya, dipicu oleh hipertensi, tersumbatnya vena retina sentral, cedera mata, peradangan pembuluh darah (vaskulitis), degenerasi makula, dan tumor.
  • Rhegmatogenous. Tipe ablasi retina ini merupakan jenis yang paling umum. Lepasnya retina terjadi akibat robekan atau lubang pada retina yang memungkinkan cairan untuk lewat dan terkumpul di bawah lapisan retina. Kondisi ini bisa membuat retina menjauh dari jaringan dibawahnya. Penyebab paling umum dari tipe ini adalah penuaan. Seiring bertambahnya usia, vitreous atau gel yang mengisi bagian dalam mata yang mengalami perubahan konsistensi menjadi lebih cair. 
  • Traksional. Tipe ini terjadi ketika terdapat jaringan parut pada retina yang menyebabkan tertariknya retina menjauh dari bagian belakang mata. Tipe ini biasanya terjadi pada orang diabetes yang tidak terkontrol. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases and Conditions. Retinal Detachment.
Healthline. Diakses pada 2020. Retinal Detachment. 
WebMD. Diakses pada 2020. What is a Detached Retina?