• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Siapa Saja yang Berisiko Terserang Jantung Koroner?

Siapa Saja yang Berisiko Terserang Jantung Koroner?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Siapa Saja yang Berisiko Terserang Jantung Koroner?

“Penyakit jantung koroner terjadi ketika arteri koroner menjadi terlalu sempit. Penyakit jantung koroner cenderung berkembang ketika kolesterol menumpuk di dinding arteri dan menciptakan plak.  Usia, pola makan, dan mengidap penyakit tertentu dapat menempatkan seseorang pada risiko terserang jantung koroner.”

Halodoc, Jakarta – Penyakit jantung koroner terjadi ketika arteri koroner menjadi terlalu sempit. Arteri koroner adalah pembuluh darah yang memasok oksigen dan darah ke jantung. Penyakit jantung koroner cenderung berkembang ketika kolesterol menumpuk di dinding arteri dan menciptakan plak. 

Plak ini menyebabkan arteri menyempit, sehingga mengurangi aliran darah ke jantung. Gumpalan terkadang dapat menghalangi aliran darah dan menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Arteri koroner membentuk jaringan pembuluh darah di permukaan jantung yang memberinya oksigen. Jika arteri ini menyempit, jantung mungkin tidak menerima cukup darah yang kaya oksigen, terutama selama aktivitas fisik. Siapa saja yang berisiko terserang jantung koroner?

Usia dan Gaya Hidup yang Meningkatkan Risiko

Penyakit jantung koroner dapat menyebabkan angina. Ini adalah jenis nyeri dada yang terkait dengan penyakit jantung. Angina dapat menyebabkan sensasi berikut ini: 

  • Perasaan tertindih.
  • Sensasi tekanan.
  • Sensasi berat.
  • Gangguan pencernaan.
  • Maag.
  • Tubuh melemah.
  • Berkeringat.
  • Mual.
  • Kram.

Penyakit jantung koroner juga dapat menyebabkan sesak napas. Jika jantung dan organ lain tidak menerima oksigen yang cukup, segala bentuk aktivitas dapat menjadi sangat melelahkan, yang dapat menyebabkan seseorang terengah-engah. Siapa saja yang berisiko terserang jantung koroner?

Baca juga: Hati-Hati, 5 Hal Ini Bisa Menyebabkan Penyakit Jantung di Usia Muda

1. Memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi.

2. Memiliki kadar lipoprotein densitas rendah, atau kolesterol “jahat” yang tinggi.

3. Memiliki kadar lipoprotein densitas tinggi yang rendah, atau kolesterol “baik”.

4. Mengidap diabetes.

5. Mengalami obesitas.

6. Merokok, yang meningkatkan peradangan dan meningkatkan simpanan kolesterol di arteri koroner.

7. Kadar asam amino homosistein yang tinggi.

8. Kadar fibrinogen yang tinggi, protein darah yang mendorong penggumpalan trombosit untuk membentuk gumpalan darah.

9. Riwayat keluarga dengan jantung koroner.

10. Menopause.

11. Pria berusia di atas 45 tahun.

Baca juga: Tekanan Darah Tinggi Membahayakan Kesehatan, Ini Buktinya

Seiring waktu, penyakit jantung koroner dapat melemahkan otot jantung dan berkontribusi pada gagal jantung dan aritmia. Gagal jantung berarti jantung tidak dapat memompa darah dengan baik ke seluruh tubuh sedangkan Aritmia adalah perubahan irama detak jantung yang normal.

Penyakit jantung koroner identik dengan gaya hidup tidak sehat. Untuk mengatasi dan mencegahnya, kamu perlu mengadopsi gaya hidup sehat mulai dari pola makan seimbang sampai aktif berolahraga. Informasi selengkapnya mengenai penyakit jantung koroner bisa ditanyakan lewat aplikasi Halodoc. Kalau kamu butuh membeli obat juga bisa dilakukan di Toko Kesehatan Halodoc ya!

Seberapa Berbahaya Penyakit Jantung Koroner?

Penyakit jantung koroner dapat ditangani, tapi tidak dapat disembuhkan secara total. Itu berarti, kalau kamu mengidap kondisi ini kamu harus belajar hidup dengannya seumur hidup. Besar kemungkinan kamu telah mengidap kondisi ini sejak lama. 

Tidak jarang seseorang didiagnosis dengan penyakit jantung koroner setelah mengalami serangan jantung atau setelah berbulan-bulan mengalami gejala seperti nyeri dada, mati rasa, atau sesak napas sebelumnya.

Penyakit jantung koroner kerap memberikan ketakutan pada pengidapnya karena cemas kalau sewaktu-waktu gejalanya kambuh atau semakin parah. Namun, kemajuan terbaru dalam kedokteran, intervensi, dan pembedahan, bersamaan dengan keinginan pasien untuk membuat perubahan gaya hidup dapat menurunkan risiko jantung koroner. 

Pengobatan dan praktik pengurangan risiko seperti berhenti merokok, mengikuti pembatasan diet, olahraga teratur, dan pengelolaan stres memungkinkan orang dengan jantung koroner dapat menjalani kehidupan yang normal. 

Baca juga: 8 Pola Makan untuk Pengidap Penyakit Jantung Koroner

Diet jantung adalah istilah tidak resmi untuk diet jantung sehat akan membantu meningkatkan pemulihan bila digabungkan dengan olahraga teratur. Diet ini berfokus pada konsumsi makanan kaya nutrisi seperti buah-buahan dan sayuran, serta daging tanpa lemak dan biji-bijian. 

Hindari makan makanan dengan garam berlebihan, gula, lemak trans, dan lemak jenuh. Sertakan makanan dengan serat larut seperti gandum, kacang-kacangan, beri, dan biji rami. Serat larut membantu mengurangi kolesterol dan mengelola kadar gula yang lebih baik. 

Asam lemak omega-3 membantu mengurangi pembentukan plak, menurunkan tekanan darah, membantu mengontrol kadar trigliserida dan mengurangi risiko aritmia. Untuk olahraga, pilih aktivitas aerobik seperti jalan kaki, bersepeda, berenang, atau jogging ringan, lima hingga tujuh kali seminggu.

Referensi:
MedlinePlus. Diakses pada 2021. Coronary Artery Disease.
Medical News Today. Diakses pada 2021. What to know about coronary heart disease.