Sindrom Horner Bisa Jadi Gejala Stroke, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Sindrom Horner Bisa Jadi Gejala Stroke, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar istilah sindrom Horner? Kalau belum bagaimana dengan stroke, tak asing bukan dengan penyakit ini? Stroke juga dikenal sebagai the silent killer, lantaran penyakit ini sangat berbahaya dan bisa membunuh secara diam-diam akibat kelumpuhan otak. 

Stroke sendiri merupakan kondisi yang mesti mendapat perhatian serius. Dalam dunia medis, penyakit ini merupakan keadaan darurat karena sel otak dapat mati hanya dalam hitungan menit. Hal yang mesti ditegaskan, penyakit yang satu ini bisa menyebabkan kerusakan otak, bahkan koma. 

Kembali ke pertanyaanya di atas, apa sih sindrom horner itu? Kira-kira apa kaitannya dengan penyakit stroke? Lalu, benarkah sindrom ini bisa menjadi salah satu gejala dari penyakit stroke? 

Penasaran? Yuk, simak ulasannya di bawah ini. 

Baca juga: Ini 4 Komplikasi yang Disebabkan oleh Sindrom Horner

Sindrom Horner Menandai Stroke, Masa Sih?

Ketika seseorang mengalami stroke, maka dirinya akan mengalami berbagai keluhan pada tubuh. Sebab, penyakit ini memang bisa menimbulkan sederet gejala pada tubuhnya. Nah, berikut ini beberapa gejala yang umumnya dialami oleh pengidap stroke:

  • Kesulitan berbicara atau kebingungan. Stroke dapat merusak kemampuan untuk mengekspresikan diri atau mengerti sesuatu hal. Misalnya, kebingungan mencari kata-kata atau menggunakan kata-kata yang salah saat berbicara.

  • Lengan dan kaki menjadi lemah. Gejala lainnya berupa lengan dan kaki (atau keduanya) menjadi lemah secara tiba-tiba. Terkadang juga mati rasa, bahkan lumpuh. 

  • Penglihatan menjadi buram. Stroke bisa menyebabkan penglihatan menjadi kabur, gandang, hingga hilangnya penglihatan pada satu mata. Seperti dilansir Health, sekitar 44 persen dari 1.300 orang di Inggris, kehilangan penglihatannya ketika gejala stroke menyerang.

  • Rasa sakit. Rasa sakit sebenarnya bukanlah gejala khas dari penyakit ini. Akan tetapi, menurut sebuah studi seperti dilansir Health, sekitar 62 persen wanita lebih sering mengalami stroke nontradisional daripada pria. Salah satu yang gejala yang paling umum adalah rasa sakit. 

  • Pusing atau kehilangan keseimbangan. Stroke bisa menimbulkan masalah saat berjalan, pusing, atau mual. 

  • Melemahnya otot wajah. Wajah akan terlihat menurun pada satu sisi. Dalam beberapa kasus bisa membuat pengidapnya tidak mampu tersenyum karena mulut atau mata terkulai.

Baca juga: 5 Fakta Tentang Stroke yang Harus Diketahui

Kembali ke judul utama, benarkah sindrom Horner bisa menandai adanya stroke dalam tubuh? Sindrom Horner sendiri merupakan gabungan dari gejala-gejala dan tanda-tanda yang disebabkan oleh rusaknya jalur jaringan saraf dari otak ke wajah. 

Nah, rusaknya saraf ini menyebabkan terjadinya kelainan pada salah satu bagian mata. Sindrom ini terjadi pada mereka yang mengidap penyakit, seperti stroke atau cedera saraf tulang belakang.

Gejala sindrom Horner hanya memengaruhi satu sisi wajah saja. Hampir serupa dengan gejala penyakit stroke. Di samping itu, gejala sindrom Horner juga bisa dilihat dari ukuran pupil. Di sini kedua pupil mata akan terlihat berbeda amat jelas. Salah satu pupil akan sangat mengecil, bahkan sampai berukuran seperti titi. 

Nah, andaikan mengalami gejala-gejala di atas, segeralah temui atau tanyakan pada dokter untuk mendapatkan saradan dan penanganan yang tepat. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. 

Lalu, kira-kira apa sih yang menyebabkan sindrom Horner?

Ketika Rusaknya Jaringan Saraf Simpatis

Pada dasarnya, banyak hal yang bisa memicu terjadinya sindrom Horner. Namun, penyebab utama terjadinya sindrom ini adalah kerusakan pada jaringan sistem saraf simpatis. Sistem saraf simpatis ini bertugas untuk mengatur detak jantung, ukuran pupil, perspirasi, tekanan darah, dan fungsi lainnya.

Jaringan saraf yang diserang pada sindrom Horner dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan susunan orde neuron. Gangguan pada orde neuron pertama yang dikaitkan dengan Sindrom Horner, antara lain stroke, tumor, gangguan mielin, trauma leher, kista, atau kavitas pada kolumna spinalis (syringomyelia).

Kedua, penyebab gangguan pada orde neuron meliputi kanker paru, tumor selubung mielin (schwannoma), kerusakan pembuluh aorta, operasi toraks (dada), dan trauma. 

Baca juga: Ini Faktor yang Jadi Pemicu Anak Terkena Sindrom Horner

Ketiga, biasanya disebabkan oleh kerusakan pada arteri karotis yang terletak pada kedua sisi leher, kerusakan vena jugular, tumor atau infeksi pada dasar tengkorak, migraines, sakit kepala jenis cluster.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa kapan dan di mana saja mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. What is Horner’s Syndrome? 
Mayo Clinic (2018). Diakses pada 2019. Diseases & Conditions. Stroke. 
Web MD. Diakses pada 2019. What is Horner Syndrome?