• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Begini Skema Bayi Tabung di Tengah COVID 19

Begini Skema Bayi Tabung di Tengah COVID 19

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Pasangan yang tengah menjalani program kehamilan seperti bayi tabung pasti tengah merasakan dampak psikologi di tengah pandemi virus corona. Di satu sisi mereka harus rutin menjalani pemeriksaan guna mengetahui perkembangan embrio dan kesuburan masing-masing pasangan. Namun di sisi lain, mereka tidak bisa pergi ke instalasi kesehatan tersebut karena wabah virus corona.

Baca juga: Terapi Plasma Darah untuk Atasi Virus Corona

Prosedur bayi tabung sendiri dilakukan dengan melakukan pembuahan di luar rahim ibu, atau lebih dikenal dengan IVF (In Vitro Fertilization). Proses pelaksanaannya akan memerlukan beberapa tahapan agar berhasil mencapai kehamilan, serta kelahiran yang sehat. Karena adanya COVID-19 ini, serangkaian proses akan terhambat, karena tatap muka dengan dokter semakin terbatas. Bagaimana skema bayi tabung di tengah virus corona ini? Apakah program dapat dilanjutkan?

Baca juga: Pentingnya Lakukan Tes Swab pada Ibu Hamil

Begini Skema Bayi Tabung di Tengah Virus Corona

Dilansir dari media lokal, dokter spesialis kandungan Ivan Sini menerangkan bahwa paket IVF selama pandemi dilakukan secara selektif saja. Dilakukan Secara selektif berarti calon orangtua akan melakukan screening secara ketat sebelum memulai prosedur bayi tabung. Selain itu, calon orangtua juga harus melakukan rapid test atau Polymerase Chain Reaction (PCR) guna memastikan kesehatannya berada dalam kondisi yang baik, serta tidak terinfeksi COVID-19.

Setelah melakukan screening ketat, calon orangtua harus memenuhi persyaratan administrasi untuk bisa melakukan program bayi tabung. Pelaksanaannya sendiri dapat dilakukan di luar instalasi kesehatan, seperti di rumah atau hotel guna mencegah penularan virus. Selain urusan kesehatan, melakukan IVF di luar instalasi kesehatan akan memberikan rasa nyaman pada calon orangtua.

Prosedurnya sendiri membutuhkan waktu selama dua minggu, lebih cepat dibandingkan dengan program bayi tabung pada saat sebelum pandemi mewabah. Selama pemantauan, dokter akan melakukan pemeriksaan kesehatan calon orangtua melalui layar gawai, yang seharusnya dilakukan dengan tatap muka langsung sebanyak dua atau tiga kali. Mengenai prosedur ini, calon orangtua dapat langsung bertanya dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya!

Meski harus dilakukan lewat layar gawai, kunjungan ke instalasi kesehatan juga perlu dilakukan guna memeriksa kualitas sperma dan sel telur calon orangtua. Calon orangtua juga perlu melakukan tes darah dan USG. Setelah dinyatakan baik, kemudian dokter akan melakukan prosedur pengambilan sperma dan sel telur. Pembuahannya sendiri akan dilakukan di laboratorium hingga sel telur berkembang menjadi embrio.

Baca juga: Begini Skema Herd Immunity Guna Menekan Penyebaran Corona

Kemungkinan yang Bisa Saja Terjadi

Setelah melewati serangkaian tahapan tersebut, calon orangtua tidak dapat melihat embrio yang telah terbentuk, karena alasan kesehatan. Pada situasi seperti sekarang ini, dokter akan merekomendasikan untuk menyimpan embrio lebih dulu, dan tidak melakukan prosedur penanaman pada rahim calon ibu. Hal tersebut merupakan upaya pencegahan, mengingat belum ada fakta yang menyebutkan efek samping COVID-19 terhadap janin pada kandungan.

Penyimpanan embrio akan dilakukan secepat mungkin, mengingat faktor usia dari calon orangtua berperan besar dalam kualitas sperma dan sel telur. Jika prosedurnya ditunda, kehamilan akan semakin sulit terjadi karena faktor usia calon orangtua. Prosedur ini direkomendasikan bagi wanita berusia 35 tahun ke atas, karena sel telur sudah semakin berkurang menginjak usia 35 tahun.

Setelah semua prosedur dijalankan, dokter akan melakukan prosedur penanaman pada rahim calon ibu setelah pandemi berakhir. Penanaman sendiri merupakan fase krusial yang menentukan kesuksesan prosedur IVF. Setelah ditanam pada rahim, pada waktu 2-3 bulan ke depan, calon ibu harus dalam keadaan yang tenang dan bahagia agar prosedur membuahkan hasil.

Referensi:

New York Times. Diakses pada 2020. Getting Pregnant Was a Challenge. Then the Coronavirus Happened.
New York Times. Diakses pada 2020. Couples are being told to delay fertility treatments during the coronavirus pandemic. Some worry they’ll miss the chance to have kids.
Vox. Diakses pada 2020. Can you still do IVF during the coronavirus pandemic?