Prosedur Pemeriksaan Spirometri untuk Deteksi Cystic Fibrosis

 Pengidap Cystic Fibrosis

Halodoc, Jakarta - Kondisi fibrosis kistik merupakan kondisi genetik ketika paru-paru dan sistem pencernaan tersumbat oleh lendir yang tebal dan lengket. Penyakit ini juga adalah penyakit keturunan atau kelainan yang didapat seseorang dari kedua orangtuanya akibat adanya mutasi gen. Hampir setengah dari anak-anak yang memiliki orangtua dengan kelainan genetik ini merupakan pembawa sifat (carrier), yang mungkin bisa menurunkan kelainan ini pada keturunannya. Sementara itu, seperempat di antaranya menjadi pengidap fibrosis kistik.

Untuk mengetahui adanya penyakit fibrosis kistik pada tubuh seseorang, perlu dilakukannya pemeriksaan spirometri. Pemeriksaan ini merupakan salah satu tes fungsi paru terbaik yang sering digunakan oleh tim medis. Pemeriksaan ini menggunakan alat yang disebut dengan spirometer. Alat ini adalah suatu mesin yang mengukur seberapa baik fungsi paru kamu, mencatat hasilnya, dan menampilkannya dalam bentuk grafik.

Spirometer merupakan alat yang berperan penting dalam penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) termasuk fibrosis kistik. Mulai dari saat penyakit ini didiagnosis hingga sepanjang pengobatan serta pengendaliannya.

Baca juga: 6 Tes Kesehatan yang Wajib Dilakukan Bayi Baru Lahir

Sebelum melakukan pemeriksaan spirometri, terdapat beberapa prosedur yang perlu kamu lewati. Sekitar 24 jam sebelum melakukan spirometri, kamu disarankan untuk berhenti merokok dan minum alkohol. Selain itu, kamu juga sebaiknya tidak menjalani olahraga berat atau makanan dalam porsi besar beberapa jam sebelum pemeriksaan spirometri. Saat kamu akan melakukan tes, sebaiknya hindari juga mengenakan pakaian yang ketat. Selain itu, kemungkinan dokter juga akan meminta kamu untuk menghentikan penggunaan obat tertentu sebelumnya.

Berikut prosedur tes spirometri:

  • Kamu akan diminta duduk pada tempat yang telah disediakan. Setelah itu, dokter akan menaruh semacam klip di hidung yang berfungsi untuk menutup kedua hidung kamu.

  • Sungkup atau masker pernapasan akan dipasangkan pada mulut kamu, kemudian kamu diminta untuk menarik napas dalam-dalam. Kamu juga akan diminta menahan napas selama beberapa detik, lalu menghembuskan napas sekuat mungkin ke dalam masker pernapasan.

  • Biasanya, tes ini dilakukan setidaknya tiga kali untuk memastikan hasil yang konsisten. Setelah dilakukan pemeriksaan dan didapatkan hasil, dokter aman menilai fungsi paru kamu.

Baca juga: 10 Pertanyaan tentang Emfisema yang Perlu Kamu Ketahui

Setelah pemeriksaan spirometri awal selesai dilakukan, kemungkinan dokter akan memberikan kamu obat bronkodilator hirup untuk melebarkan jalan napas. Kemudian, setelah 15 menit akan dilakukan pemeriksaan spirometri ulang. Lalu, dokter akan membandingkan hasil kedua pengukuran tersebut untuk menilai efektivitas bronkodilator dalam memperbaiki jalan napas kamu.

Pemeriksaan ini akan menyebabkan efek samping. Adapun efek samping yang kemungkinan terjadi saat tes spirometri adalah merasa sedikit pusing dan terkadang sesak napas setelah melakukan tes. Tes ini juga dapat membantu dokter dalam menentukan tingkat keparahan penyakit pada paru-paru yang kamu alami sebagai metode untuk menilai respons pengobatan kamu.

Baca juga: Napas Tidak Normal? Ketahui tentang Paradixical Breathing

Apabila kamu memiliki masalah paru-paru atau pernapasan, coba tanyakan pada dokter melalui aplikasi Halodoc jika kemungkinan diperlukan tes spirometri untuk mengetahui adanya gangguan. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.