• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Stres Berat Menjadi Pemicu Konstipasi, Ini Faktanya

Stres Berat Menjadi Pemicu Konstipasi, Ini Faktanya

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
undefined

Halodoc, Jakarta - Stres berat dapat menyebabkan atau memperburuk gejala gastrointestinal, seperti mual, sakit perut, dan perubahan gerakan usus, termasuk sembelit. Perlu kamu ketahui bahwa saraf dan pencernaan secara terus-menerus saling berkomunikasi. 

Hubungan antara stres dan konstipasi ini penting untuk fungsi tubuh, seperti pencernaan. Pikiran dan emosi dipicu oleh stres dapat memiliki efek pada parut dan usus. Begitu juga sebaliknya, apa yang terjadi di usus dapat menyebabkan stres dan gangguan jangka panjang. Konstipasi kronis, diare, dan jenis-jenis kondisi usus lainnya dapat memicu kecemasan, menyebabkan lingkaran setan yang ganas. 

Baca juga: Pahami 6 Gejala yang Menjadi Indikasi Terkena Konstipasi

Hubungan Antara Stres dan Konstipasi

Konstipasi merupakan kondisi seseorang mengalami kesulitan buang air besar atau jarang buang air besar. Gejala ini dapat bervariasi pada setiap orang, meliputi:

  • Kurang dari tiga kali buang air besar per minggu.
  • Tinja kering, keras, atau kental.
  • Buang air besar yang sulit atau menyakitkan untuk dilewati.
  • Merasa tidak mampu mengosongkan isi perut.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan konstipasi. Penyebab konstipasi umumnya adalah dehidrasi, kurangnya aktivitas fisik, dan pola makan yang buruk, misalnya tidak makan cukup serat. Stres juga dapat memicu konstipasi. Ketika stres psikologis mengarah ke gejala fisik, mereka dikenal sebagai gejala somatik. 

Efek yang dimiliki hormon stres pada tubuh menyebabkan sembelit. Selain itu, saat seseorang mengalami stres, mereka lebih cenderung makan makanan yang tidak sehat, kurang berolahraga atau tidur, atau lupa untuk minum air yang cukup. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan sembelit. 

Berikut beberapa cara stres dapat menyebabkan sembelit:

  • Dalam situasi yang penuh tekanan, kelenjar adrenal tubuh melepaskan hormon yang disebut epinefrin. Ini menyebabkan tubuh mengalirkan aliran darah dari usus ke organ-organ vital, seperti jantung, paru-paru, dan otak. Akibatnya gerakan usus melambat dan konstipasi pun terjadi. 
  • Saat menanggapi stres, tubuh melepaskan lebih banyak faktor pelepas kortikotropin dalam usus. Hormon ini bekerja langsung pada usus, yang dapat memperlambat dan menyebabkannya meradang. Usus memiliki berbagai jenis reseptor kortikotropin, beberapa di antaranya mempercepat proses di usus, sementara yang lain dapat memperlambatnya. 
  • Stres menyebabkan peningkatan permeabilitas usus. Permeabilitas ini memungkinkan senyawa peradangan masuk ke usus, yang dapat menyebabkan perasaan kenyang di perut. Ini adalah keluhan umum pada orang-orang yang memiliki konstipasi. 
  • Stres dapat memengaruhi bakteri baik di usus. Namun, ini belum dikonfirmasi oleh penelitian. Namun, banyak orang yang percaya bahwa stres dapat mengurangi jumlah bakteri baik dalam tubuh, sehingga memperlambat pencernaan. 

Baca juga: Anak Alami Konstipasi, Orangtua Lakukan 3 Hal Ini

Perlu diketahui juga bahwa stres dan sembelit dapat memengaruhi anak-anak. Dalam penelitian ditemukan bahwa orang muda yang mengalami tekanan hidup, seperti sakit parah, gagal ujian, atau kehilangan pekerjaan, lebih mungkin mengalami konstipasi. 

Penanganan Konstipasi yang Dapat Dilakukan

Beberapa cara terbaik untuk meredakan sembelit adalah memperbaiki pola makan, makan banyak serat, dan tetap terhidrasi. Olahraga teratur juga dapat membantu, karena aktivitas fisik mendorong gerakan di usus, yang membantu meringankan sembelit. 

Perubahan gaya hidup lebih sehat juga cenderung bermanfaat bagi kesehatan mental dan mengurangi tingkat stres sehari-hari. Misalnya saja alkohol, rokok, dan makanan tinggi gula dan lemak, semuanya dapat meningkatkan risiko konstipasi dan stres. 

Dengan mendapatkan terapi oleh profesional juga dapat dilakukan untuk membantu mengidentifikasi sumber stres yang menyebabkan sembelit. Terapi ini mungkin diperlukan untuk membantu orang-orang dengan riwayat trauma atau kondisi kesehatan mental, seperti depresi atau kecemasan. Untuk mendapatkan terapi ini, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu pada psikolog melalui aplikasi Halodoc. 

Baca juga: Ternyata, Konstipasi Dapat Menjadi Gejala dari 2 Penyakit Ini

Melakukan kegiatan yang disenangi atau hobi setiap hari juga akan membantu. Contohnya kegiatan meditasi, yoga, menulis jurnal, membaca buku, atau mendengarkan musik yang menenangkan. 

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2020. How is stress linked with constipation?
Healthline. Diakses pada 2020. Is Stress Causing My Constipation?