Stres Memicu ASI Terlambat Keluar, Mitos atau Fakta?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Stres Memicu ASI Terlambat Keluar, Mitos atau Fakta?

Halodoc, Jakarta – Tidak hanya pola makan, ternyata mood juga memengaruhi kualitas dan kuantitas ASI. Sejatinya, menyusui juga membutuhkan mood yang baik dan stres sangat bisa menghentikan produksi ASI. 

Dalam keadaan rileks, ASI lebih deras mengalir, dan tekanan fisik maupun mental dapat memperlambat pelepasan oksitosin ke dalam aliran darah ibu saat menyusui. Jika ibu menghasilkan lebih sedikit susu karena kekurangan oksitosin, relaksasi adalah kuncinya. Ingin tahu lebih dalam mengenai hubungan produksi ASI dan stres, baca lebih lanjut di sini!

Baca juga: Ibu Wajib Tahu Pentingnya ASI Eksklusif

Stres dan Menyusui

Baru pulih dari proses melahirkan dan kemudian harus merawat bayi membuat ibu kerap mengalami stres. Belum lagi masalah pekerjaan, penyakit, atau masalah keuangan dapat berakibat fatal bagi siklus dan tubuh. 

Bagaimana stres bisa memengaruhi ASI? Ketika ibu mengalami stres, tubuh merespons dengan melepaskan kortisol, adrenalin, dan norepinefrin. Walaupun hormon-hormon ini dapat sementara waktu membantu tubuh menghadapi situasi yang membuat stres, lama-kelamaan, hormon-hormon ini dapat memiliki efek negatif pada tubuh, baik secara fisik maupun emosional.

Stres tidak secara langsung memengaruhi pasokan susu. Jumlah susu yang dihasilkan oleh tubuh tergantung pada seberapa sering bayi menyusu. Semakin banyak susu yang diminum, semakin banyak tubuh memproduksi susu. 

Selain itu, faktor lain yang bisa memengaruhi produksi ASI adalah pola makan dan minum ibu di keseharian. Jika ibu sedang mengidap penyakit tertentu dan mengonsumsi obat-obatan, ini juga dapat mengurangi suplai ASI. Pun, hormon kortisol dapat masuk ke dalam ASI dan memengaruhi isinya.

Penelitian yang dilakukan oleh University of New Mexico, menunjukkan kalau bayi yang diberikan ASI oleh ibu yang sedang mengalami stres dapat memengaruhi saluran usus bayi. Kortisol dari ASI ibu ini dapat memicu sinyal neurotransmitter pada otak bayi, sehingga memengaruhi area yang mengatur emosi. 

Baca juga: Ibu Pekerja, Inilah Cara Sukses Pumping di Kantor

Tips Mengurangi Stres

Mengurangi tingkat stres dapat bermanfaat bagi ibu dan bayi. Cobalah mengurangi stres dengan:

  1. Cari waktu untuk berolahraga secara teratur, seperti mendaftar di kelas olahraga bayi / ibu atau berjalan-jalan dengan Si Kecil.

  2. Olahraga melepaskan endorfin yang dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan dan membantu ibu mengelola stres dengan lebih baik.

  3. Keluar dari rumah dan bertemu dengan seorang teman untuk berbicara.

  4. Luangkan 15 hingga 20 menit sehari untuk melakukan sesuatu yang disukai, seperti membaca buku.

  5. Cobalah tidur siang ketika bayi tidur atau menyusu sambil berbaring untuk mendapatkan istirahat tambahan.

  6. Jika ibu mengalami kesulitan dalam mengingat hal-hal, insomnia, kelelahan ekstrem, kurang nafsu makan atau tidak dapat menikmati hal-hal yang pernah ibu lakukan, situasi stres sangat mungkin menyebabkan depresi

Jika ibu sedang mengalami kondisi down saat ini, segera hubungi Halodoc. Dokter ataupun psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Sejatinya menjalankan apa yang diuraikan pada tips di atas memang bukan sesuatu yang mudah. Jika ibu saat ini sedang berada dalam situasi sulit, cobalah untuk tetap rileks saat menyusui. Tutup pintu kamar anak, dengarkan musik yang menenangkan dan fokuslah pada ikatan khusus yang ibu miliki dengan bayi. 

Jika ibu harus kembali bekerja atau harus jauh dari rumah, gunakan pompa payudara untuk tetap memungkinkan ibu bisa terus memberikan susu kepada bayi. 

Referensi:

US National Library of Medicine (2019). Are Cortisol in Human Breast Milk Associated with Infant Crying
Very Well Family (2019). How to Cope With the Stress of Breastfeeding
WebMD (2019). How to Increase Your Milk Supply