Stroke Iskemik atau Hemoragik, Manakah yang Lebih Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Stroke Iskemik atau Hemoragik, Manakah yang Lebih Berbahaya?

Halodoc, Jakarta – Stroke adalah kondisi dimana ketika aliran darah ke otak terganggu. Tanpa darah, sel-sel otak akan mulai mati. Ini dapat menyebabkan gejala serius, cacat yang bertahan lama, bahkan kematian. 

Stroke iskemik dan hemoragik sama-sama berbahaya bila tanpa perawatan cepat. Adapun stroke iskemik terjadi ketika aliran darah ke otak tersumbat oleh bekuan darah. Sedangkan stroke hemoragik, terjadi ketika pembuluh darah yang lemah pecah dan berdarah ke dalam otak. Cari tahu informasi lebih lengkap mengenai kedua jenis stroke ini di sini.

Baca juga: Mengapa Pengidap Stroke Bisa Alami Penurunan Kesadaran?

Jenis Stroke yang Lebih Berbahaya

Menurut American Heart Association, kebanyakan stroke disebabkan oleh gumpalan yang memotong aliran darah ke otak (iskemik). Namun, sekitar 13 persen disebabkan oleh pembuluh darah yang melemah kemudian pecah dan berdarah ke otak (hemoragik). 

Walaupun dua kondisi tersebut sama berbahaya, tetapi stroke hemoragik bisa dibilang adalah jenis yang paling mematikan dan tidak bisa diobati. Stroke hemoragik sangat berbahaya karena darah di dalam otak kadang-kadang dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut, seperti hidrosefalus, peningkatan tekanan intrakranial, dan kejang pembuluh darah.

Jika tidak ditangani secara serius dan cepat, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan otak yang parah dan bahkan kematian. Inilah sebabnya mengapa pendarahan kecil sekalipun di otak memerlukan pengobatan darurat.

Ada beberapa penjelasan mengapa seseorang mengalami pendarahan di otak, dan yang paling umum termasuk:

  1. Malformasi arteri.

  2. Aneurisma yang pecah.

  3. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.

  4. Gangguan pendarahan.

  5. Cedera traumatis di kepala.

  6. Trombosis sinus dural.

  7. Tumor otak.

Seseorang akan meningkatkan risiko mengalami stroke hemoragik bila:

  1. Berusia di atas 65 tahun.

  2. Memiliki kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, atau diabetes yang tidak terkendali.

  3. Obesitas.

  4. Pernah mengalami stroke sebelumnya.

  5. Memiliki keluarga dengan riwayat stroke.

  6. Merokok.

  7. Rutin mengonsumsi makanan yang tidak sehat.

  8. Jarang berolahraga.

Stroke hemoragik juga dapat menyebabkan komplikasi, mulai dari kejang, masalah memori dan kemampuan berpikir, problem pada jantung, serta kesulitan menelan dan mengunyah makanan. Kalau sekiranya anggota keluarga kamu mengalami hal ini bisa langsung tanyakan ke Halodoc

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Stoke Iskemik dan Penanganannya

Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, stroke ini yang paling sering dialami oleh orang. Kondisi ini dapat terjadi ketika zat berlemak yang disebut plak terkumpul di arteri dan menjadi mempersempit pembuluh darah. Ini disebut aterosklerosis, dan memperlambat aliran darah. 

Baca juga: Apa Saja Penyebab Stroke? Ini 8 Jawabannya

Saat darah mengumpul, arteri menjadi tersumbat.  Selain kondisi aterosklerosis, beberapa hal lain yang dapat meningkatkan peluang seseorang mengalami stroke stroke iskemik,yaitu:

  1. Detak jantung tak teratur.

  2. Serangan jantung.

  3. Masalah dengan katup jantung.

  4. Mengalami cedera pembuluh darah di leher.

  5. Punya masalah pembekuan darah.

Tujuan utama untuk pengobatan stroke iskemik adalah mengembalikan pernapasan, detak jantung, dan tekanan darah pengidap menjadi normal. Jika diperlukan, dokter akan mencoba mengurangi tekanan di otak dengan obat-obatan.

Pengobatan utama untuk stroke iskemik adalah aktivator plasminogen jaringan intravena (tPA), yang memecah gumpalan. Ini paling efektif diberikan empat setengah jam ketika terkena serangan stroke. Kalau lebih dari waktu tersebut akan tidak efektif dan malah menyebabkan perdarahan.

Jika tPA tidak berfungsi, bekuan dapat diangkat melalui operasi. Mekanisme pengangkatan bekuan darah dapat dilakukan hingga 24 jam setelah timbulnya gejala stroke. Perawatan jangka panjang, termasuk aspirin atau antikoagulan juga dilakukan untuk mencegah pembekuan lebih lanjut.

Pengidapnya perlu untuk melakukan perawatan inap di rumah sakit untuk observasi selama beberapa hari. Jika stroke menyebabkan kelumpuhan atau kelemahan parah, dibutuhkan rehabilitasi sesudahnya untuk mendapatkan kembali fungsi tubuh.

Referensi:

Very Well Health. Diakses pada 2019. Types of Strokes with Severe Outcomes.
Medical Xpress. Diakses pada 2019. Deadliest type of stroke seeing urge of new research.
Michigan Health. Diakses pada 2019. Ischemic Vs Hemorrhagic Stroke: What’s the Difference?
Healthline. Diakses pada 2019. What are the Different Types of Strokes?
American Stroke Association. Diakses pada 2019. Ischemic Stroke (Clots).