• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Studi Sebut Vaksinasi Corona Turunkan Risiko Hingga 94 Persen

Studi Sebut Vaksinasi Corona Turunkan Risiko Hingga 94 Persen

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Studi Sebut Vaksinasi Corona Turunkan Risiko Hingga 94 Persen

Halodoc, Jakarta – Baru-baru ini, Israel mengumumkan hasil studi terkait vaksin corona, yaitu vaksin Pfizer. Melansir pemberitaan media, studi tersebut menemukan bahwa vaksinasi corona bisa menurunkan risiko infeksi virus hingga 94 persen. Angka tersebut didapat setelah pemberian 2 dosis vaksin Pfizer. 

Selain bisa menurunkan risiko dan gejala COVID-19, penelitian yang dilakukan oleh fasilitas layanan kesehatan terbesar di Israel, Clalit, menunjukkan hal menggembirakan lain. Katanya, vaksin Pfizer menunjukkan efek yang sama pada semua kelompok umur yang menerima vaksin. Data awal menunjukkan penurunan 94 persen pada kasus simptomatik (gejala) dan 92 persen pada kasus parah.

Baca juga: Begini Pendistribusian Vaksin Corona di Indonesia

Mengenal Vaksin Corona Pfizer 

Studi tersebut dilakukan dengan mencocokkan data penerima vaksin berdasarkan kesehatan umum, tempat tinggal, risiko infeksi, serta risiko sakit parah. Hasilnya, terlihat bahwa vaksin virus corona Pfizer menunjukkan efektivitas nyata dalam seminggu setelah dosis kedua diberikan. Namun, pihak Israel mengingatkan bahwa studi ini masih berdasarkan data awal. 

Vaksin corona dari Pfizer menjadi vaksin yang cukup banyak dipesan oleh negara-negara di seluruh dunia. Vaksin yang dikembangkang bersama dengan BioNTech ini diketahui menggunakan mRNA (messenger-RNA), yaitu teknologi terbaru berbasis versi sintetis molekul virus SARS-CoV-2. Melalui metode ini, vaksin corona dibuat dengan cara khusus. 

Vaksin yang dibuat dengan metode mRNA diolah dengan suatu teknik genetika khusus yang dibuat dengan memberikan suatu potongan protein spike yang biasa terletak di permukaan luar virus corona. Hal tersebut nantinya akan berpengaruh terhadap hasil vaksin setelah memasuki tubuh manusia. Jadi, setelah vaksin disuntikkan, sistem kekebalan tubuh akan merespons dan menciptakan antibodi terhadap protein spike.

Baca juga: Berapa Banyak Dosis Vaksin Pfizer yang Dibutuhkan untuk Mencegah Corona?

Kemudian, jika suatu saat orang yang sudah mendapat vaksin tersebut terpapar virus corona, antibodi yang telah tercipta akibat pemberian vaksin akan siap melawan virus tersebut. Metode mRNA juga berarti kode genetik untai tunggal yang dapat diterjemahkan sel sebagai perintah untuk membuat protein baru. Pada vaksin corona ini, mRNA bertugas menginstruksikan sel-sel di dalam tubuh untuk membuat antibodi yang spesifik terhadap protein spike virus.

Nah, saat virus yang sebenarnya menyerang, sistem kekebalan tubuh akan mengenalinya dan bersiap untuk menyerang agar infeksi tidak terjadi. Selain itu, vaksin Pfizer juga mengandung bahan lemak yang disebut lipid, trometamin, trometamin hidroklorida, asam asetat, natrium asetat, dan sukrosa. Vaksin corona yang satu ini juga memiliki keunikan lainnya. 

Dalam hal penyimpanan, vaksin Pfizer perlu disimpan di dalam suhu sekitar -75 derajat Celsius. Namun, pada saat akan digunakan, vaksin corona bisa disimpan pada lemari pendingin hingga 5 hari. Setelahnya, vaksin akan dinyatakan tidak layak untuk digunakan. Untuk mengakomodasi syarat penyimpanan itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menciptakan serangkaian persyaratan penanganan dan penyimpanan vaksin yang kompleks yang dikenal sebagai "rantai dingin" atau cold chain, yang mencakup freezer ultra-dingin dan banyak es kering.

Uji coba, studi, dan pengembangan vaksin corona masih terus dilakukan di seluruh dunia. Sambil menunggu hasil yang menunjukkan vaksin terbaik untuk melawan virus ini, pastikan untuk selalu menjaga kesehatan dan menerapkan pola hidup bersih. Hindari penularan virus corona dengan rutin mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, serta selalu kenakan masker saat beraktivitas di luar rumah. 

Baca juga: 6 Vaksin Corona yang Digunakan di Indonesia

Jika mengalami gejala sakit dan butuh saran dokter, coba pakai aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Ayo, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!

Referensi:
CNN Health. Diakses pada 2021. What We Know About Moderna's Coronavirus Vaccine and How It Differs From Pfizer's.
Forbes. Diakses pada 2021. Pfizer-BioNTech And Moderna Covid-19 Vaccines: Here Are 5 Differences.
New York Post. Diakses pada 2021. Symptomatic cases drop 94% with Pfizer vaccine, study shows.