Sudah Vaksin, Dipastikan Aman dari Polio?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Sudah Vaksin, Dipastikan Aman dari Polio?

Halodoc, Jakarta - Belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan penyakit polio. Penyakit menular ini terjadi karena virus dan bisa mengakibatkan kelumpuhan permanen hingga kematian. Kemunculannya terjadi tanpa adanya gejala, oleh karena itu setiap orang diwajibkan mendapatkan vaksin sebagai satu-satunya tindakan pencegahan dari penularan penyakit polio. 

Imunisasi wajib diberikan pada balita, pemberiannya dengan cara suntik (IPV) maupun tetes (OPV). Secara garis besar, keduanya tidak berbeda, sama-sama menggunakan virus polio yang sudah dilemahkan atau dinonaktifkan. Pemberian vaksin dilakukan sebanyak 4 kali, yaitu ketika bayi baru lahir, lalu diberikan kembali pada bulan kedua, ketiga, dan keempat. Dosis penguatnya diberikan ketika anak mencapai usia 18 bulan. 

Sudah Melakukan Vaksin, Benarkah Pasti Aman dari Polio?

Pemberian vaksin polio pada bayi baru lahir diberikan secara oral atau tetes. Setelahnya, vaksin bisa diberikan dengan cara oral maupun suntik. Hanya saja, setidaknya setiap anak harus mendapatkan satu kali vaksin polio suntik. Vaksin dinilai menjadi satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan polio. Lalu, benarkah tubuh sudah sepenuhnya aman dari polio setelah divaksin?

Baca juga: Belum Ada Obat untuk Sembuhkan Polio

Melalui vaksin, tubuh dinyatakan terlindungi dari bahaya polio. Meski begitu, kamu perlu memastikannya kembali dengan langsung bertanya pada dokter, apakah tubuh masih kebal terhadap penyakit mematikan tersebut meski vaksin telah dilakukan ketika kecil. Kamu bisa bertanya pada dokter melalui fitur Tanya Dokter atau bertemu langsung di rumah sakit. Gunakan saja aplikasi Halodoc agar lebih mudah dalam terhubung dengan dokter.

Adakah Efek Samping Setelah Vaksin Polio?

Setelah vaksin polio, biasanya muncul reaksi pada anak yang memang menjadi efek samping dari pemberian vaksin ini. Tidak jarang, setelah anak diberikan vaksin suntik, maka timbul bekas kemerahan pada area yang disuntik, diikuti dengan sedikit pembengkakan. Biasanya, anak juga mengalami demam ringan. Biasanya, demam mereda setelah anak diberi paracetamol.

Baca juga: Inilah 3 Tipe Pengidap Polio yang Harus Diketahui

Sementara pemberian vaksin secara tetes atau melalui oral biasanya berdampak pada terjadinya diare ringan tanpa diikuti dengan demam. Namun, efek samping ini jarang terjadi. Supaya tetap aman dan anak terhindar dari efek samping vaksin yang dirasa kurang nyaman, ibu dan ayah bisa bertanya dulu pada dokter sebelum vaksin dilakukan. 

Perhatikan Hal Ini Sebelum Melakukan Vaksin Polio pada Anak

Vaksin polio wajib diberikan pada anak. Namun, ibu dan ayah harus memerhatikan beberapa hal sebelum memutuskan untuk memberikan vaksin pada sang buah hati. Pertama, perhatikan apakah ada reaksi alergi pada anak. Jika anak menunjukkan reaksi alergi yang parah pada imunisasi suntik, dianjurkan untuk tidak diberikan vaksin suntik lagi. 

Begitu pula jika anak memiliki alergi terhadap kandungan neomycin, streptomycin, dan polymyxin B, pemberian vaksin sebaiknya tidak dilakukan. Kedua, jangan lakukan imunisasi atau tunda pemberiannya apabila anak sedang sakit. Jika sakit pada anak hanya seperti pilek dan batuk tanpa diikuti dengan demam, vaksin boleh diberikan. 

Baca juga: Ketahui Manfaat Memberikan Imunisasi pada Anak

Sederhananya, vaksin polio baik secara oral maupun suntik sebenarnya aman untuk diberikan pada anak. Meski begitu, tidak ada salahnya untuk selalu bertanya pada dokter mengenai efek samping dan adanya kemungkinan reaksi alergi pada anak. Pemberian vaksin yang tepat membantu melindungi anak dari bahaya penyakit yang hingga kini masih belum ada obatnya. 


Referensi: 

Kids Health. Diakses pada 2019. Polio Vaccine.
CDC. Diakses pada 2019. Polio Vaccination.
CDC. Diakses pada 2019. Who Should Not Get Vaccinated with These Vaccines?