Suka Pamer Alat Kelamin, Eksibisionis Bisa Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Suka Pamer Alat Kelamin, Eksibisionis Bisa Sembuh?

Halodoc, Jakarta – Baru-baru ini viral aksi seorang pria tidak dikenal yang suka memamerkan alat kelaminnya kepada wanita. Pria ini melancarkan aksinya di jalanan maupun angkutan umum di kawasan Jalan Juanda, Depok. Hal ini tentunya meresahkan warga Depok, terutama kaum hawa.  Seperti yang telah diketahui, seseorang yang suka memamerkan alat kelaminnya disebut juga eksibisionis.

Baca Juga: Perlu Tahu, 5 Tanda Disfungsi Seksual pada Wanita

Eksibisionisme ditandai dengan dorongan, fantasi, atau tindakan mengekspos alat kelamin kepada orang yang tidak menyetujui, terutama orang asing. Kondisi ini dianggap sebagai gangguan seksual paraphilia yang mengacu pada pola rangsangan seksual atipikal secara persisten dan intens yang disertai tekanan atau gangguan klinis yang signifikan. Kondisi ini sering memengaruhi pria dan kurang umum pada wanita.

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Eksibisionis?

Gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan alkohol, dan minat pedofilia sering menjadi faktor pemicu eksibisionisme pada pria. Faktor-faktor lain yang terkait dengan eksibisionisme adalah pelecehan seksual, emosional selama masa kanak-kanak. dan kecanduan seksual di masa kecil. Beberapa orang yang menampilkan perilaku eksibisionis sering terlibat dalam kondisi paraphilia lain, sehingga dianggap hiperseksual.

Eksibisionis menganggap respons terkejut korban terhadap perilaku mereka merupakan bentuk minat seksual. Meski begitu, perilaku eksibisionis sebenarnya tidak berbahaya dan mereka  menganggap bahwa perilakunya hanya sekadar godaan saja. Jika pelaku eksibisionisme sampai menyentuh bahkan melakukan pemerkosaan, maka hal tersebut dianggap sebagai kejahatan seksual.

Kondisi eksibisionisme dapat muncul pada masa remaja akhir atau dewasa awal. Serupa dengan preferensi seksual lainnya, preferensi dan perilaku seksual eksibisionis bisa berkurang seiring bertambahnya usia.

Baca Juga: 6 Hal Ini Terjadi pada Tubuh Jika Tidak Berhubungan Intim

Tanda Seseorang Mengidap Eksibisionisme

Seseorang yang dianggap mengidap eksibisionisme apabila perilakunya ditandai gejala berikut ini:

  • Memiliki fantasi, perilaku atau dorongan yang berulang dan membangkitkan gairah seksual dengan memamerkan alat kelamin kepada orang yang tidak menaruh curiga;
  • Orang tersebut telah bertindak atas dorongan seksual dengan orang yang tidak setuju atau fantasi tersebut menyebabkan kesulitan antarpribadi di tempat kerja atau di dalam situasi sosial sehari-hari;
  • Gangguan eksibisionis dikategorikan ke dalam subtipe berdasarkan apakah seseorang lebih suka mengekspos dirinya kepada anak-anak praremaja, orang dewasa, atau keduanya.

Apakah Eksibisionis Bisa Disembuhkan?

Kebanyakan orang dengan eksibisionisme tidak mencari pengobatan sendiri dan tidak menerima perawatan sampai pelaku ditangkap dan diurus oleh pihak berwenang. Apabila kamu, keluarga maupun kerabat dekat diduga mengalami kondisi ini, perawatan dini sangat disarankan. Perawatan untuk eksibisionisme biasanya meliputi psikoterapi dan pengobatan. Kamu juga bisa bertanya-tanya seputar gangguan eksibisionisme kepada psikolog melalui aplikasi Halodoc

Penelitian menunjukkan bahwa terapi perilaku efektif dalam mengobati eksibisionisme yaitu memberikan alat kepada pelaku untuk mengendalikan impuls mereka dan menemukan cara yang lebih diterima untuk mengatasi dorongan seksualnya. Terapi perilaku kognitif membantu pelaku eksibisionis dalam mengidentifikasi pemicu dan mengelola dorongan ini dengan cara lebih sehat. 

Baca Juga: Ini Alasan Terapi Psikologi Bantu Pulihkan Disfungsi Seksual

Pendekatan psikoterapi lainnya termasuk pelatihan relaksasi, pelatihan empati, pelatihan keterampilan koping, dan restrukturisasi kognitif, yaitu mengidentifikasi dan mengubah pemikiran yang mengarah pada eksibisionisme. Obat-obatan yang dapat mengobati eksibisionisme termasuk obat-obatan antidepresan yang dapat menghambat hormon seksual, seperti golongan obat selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), yaitu fluoxetine, sertraline, dan paroxetine. Tentunya akan lebih baik jika berdiskusi dan memeriksakan ke dokter agar mendapatkan anjuran obat yang tepat.

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2019. Exhibitionism.
MSD Manuals. Diakses pada 2019. Exhibitionistic Disorder.