• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Tak Hanya Orang Dewasa, Anak Juga Rentan Depresi Selama Pandemi

Tak Hanya Orang Dewasa, Anak Juga Rentan Depresi Selama Pandemi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Sampai saat ini, jumlah pasien COVID-19 di Indonesia masih terus naik dan belum ada tanda-tanda penurunan. Pandemi yang tak kunjung surut ini tentu membuat sebagian besar orang rentan mengalami depresi. Namun, bukan hanya orang dewasa saja, anak-anak ternyata juga rentan mengalami depresi di masa pandemi seperti ini. 

Melansir dari Verywell Family, penelitian terbaru yang diterbitkan oleh JAMA Pediatrics, para peneliti di China menemukan bahwa 1 dari 5 anak menunjukkan tanda-tanda depresi selama masa karantina. Selain peningkatan depresi, kecemasan juga meningkat pada anak-anak selama masa karantina. Meski penelitian ini di China, para orangtua di Indonesia pun tetap harus waspada dan lebih peka terhadap kondisi anak-anak di rumah. 

Baca juga: Pentingnya Imunitas dan Protokol Kesehatan Anak di Masa Pandemi

Tanda-Tanda Depresi pada Anak

Ketidakmampuan untuk melihat teman-temannya dan melakukan aktivitas yang Si Kecil sukai di luar rumah lama-kelamaan tentu dapat berdampak serius pada kondisi psikologis anak-anak. Bukan itu saja, sebagian besar anak-anak juga bisa merasa tertekan dengan pandemi itu sendiri. 

Sama seperti orang dewasa, Si Kecil juga punya rasa takut untuk jatuh sakit, takut akan keselamatan orang yang mereka cintai sampai khawatir dengan situasi keuangan keluarga mereka. Itu mengapa para orangtua juga harus lebih peka terhadap kondisi Si Kecil di rumah. Nah, berikut ini tanda-tanda depresi pada anak yang harus ibu waspadai:



  • Sering merasa sedih atau mengalami suasana hati yang buruk.
  • Gampang marah atau menjadi pemarah sepanjang waktu.
  • Tidak tertarik pada hal-hal yang sebelumnya mereka nikmati.
  • Lelah sepanjang waktu.
  • Sulit tidur atau tidur lebih lama dari biasanya.
  • Tidak bisa berkonsentrasi.
  • Kurang berinteraksi dengan teman dan keluarga.
  • Ragu-ragu.
  • Tidak terlalu percaya diri.
  • Makan lebih sedikit dari biasanya atau makan berlebihan.
  • Merasa kosong atau tidak dapat merasakan emosi (mati rasa).
  • Melukai diri sendiri.

Apabila ibu melihat salah satu tanda di atas pada Si Kecil, sebaiknya hubungi dokter anak atau psikolog lewat aplikasi Halodoc untuk memastikan kondisinya. Tidak perlu ke rumah sakit langsung, ibu bisa menghubungi dokter atau psikolog terlebih dahulu lewat Halodoc kapanpun ibu butuhkan. 

Baca juga: Ini Tips Menemani Anak Belajar dari Rumah Selama Pandemi

Mencegah Depresi pada Anak Selama Pandemi

Selain peka dengan tanda-tanda depresi pada anak, ibu juga harus melakukan upaya tertentu untuk mencegah timbulnya kondisi ini. Melansir dari Verywell Family, berikut sejumlah upaya yang bisa ibu coba untuk mencegah depresi pada anak selama pandemi:

1. Gunakan Bahasa yang Membangun

Hindari penggunaan bahasa yang menjatuhkan saat bicara pada anak-anak. Misalnya, “Kamu enggak bisa sekolah tahun ini, nak” atau “Mau enggak mau, kita semua harus diam di rumah saja saat seperti ini”. Nah, kalimat-kalimat tersebut bisa membuat anak seakan-akan menjadi korban. Akibatnya, anak mungkin merasa putus asa dan tidak berdaya dalam menghadapi situasi ini. 

Cobalah gunakan bahasa dan kata-kata yang membangun, seperti “Nak, biar kita semua tetap sehat, sekarang sabar dulu di rumah, ya” atau “Nak, walaupun sekarang belum bisa pergi ke sekolah seperti biasa, kamu tetap bisa sekolah online kok, biar kamu dan teman-teman tetap sehat dan aman”. 

2. Tanyakan Perasaan Si Kecil

Ibu juga harus sering-sering bertanya tentang perasaan Si Kecil. Berhati-hatilah untuk tidak meremehkan atau mengabaikan perasaan anak. Penting bagi anak-anak untuk mengetahui bahwa perasaan takut, frustasi, marah, atau kesepian juga bisa diterima oleh orang lain, terutama orangtuanya. Kuncinya adalah memastikan bahwa mereka memiliki keterampilan dan seseorang yang mereka butuhkan untuk menghadapi emosinya.

Tanyakan pada Si Kecil tentang hal apa saja yang bisa membuatnya senang atau sedikit meringankan bebannya. Bantu mereka bereksperimen untuk menemukan keterampilan koping mana yang paling cocok untuk mereka.

3. Buat Rutinitas

Kebanyakan anak menjadi lebih baik ketika rutinitasnya sudah terstruktur. Jadi, meskipun mereka tidak pergi ke sekolah pada jam-jam normal atau tidak memiliki rencana untuk pergi di akhir pekan, mereka tetap punya rutinitas baru di rumah. Luangkan waktu untuk belajar, mengerjakan tugas, dan bermain. Ibu juga dapat menjadwalkan waktu keluarga untuk bermain game, menonton film, atau berolahraga.

4. Buat Aktivitas Menyenangkan di Rumah

Aktivitas menyenangkan kebanyakan memang dilakukan di rumah. Namun, masa pandemi seperti ini tentu membuat ibu tidak bisa melakukan hal tersebut bersama Si Kecil. Coba olah kreativitas yang ibu miliki untuk menemukan hal-hal menyenangkan di rumah bersama Si Kecil. 

Baca juga: Tips Mengatasi Depresi pada Anak

5. Bantu Anak Agar Tetap Bisa Bersosialisasi

Bantu anak-anak agar tetap terhubung dengan teman-temannya. Berinteraksi dengan teman-temannya dapat meningkatkan perasaannya secara signifikan. Jika anak tidak bersekolah secara langsung, ibu dapat membuat grup obrolan video sehingga Si Kecil dan teman-temannya dapat mengadakan "kumpul-kumpul virtual".

Referensi:
Verywell Family. Diakses pada 2020. 1 in 5 Kids Showed Signs of Depression During Quarantine, Study Finds.
National Health Services. Diakses pada 2020. Depression in children and young people.