• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Takut Ditinggalkan, Gejala dari Gangguan Kepribadian Dependen

Takut Ditinggalkan, Gejala dari Gangguan Kepribadian Dependen

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Kenyataannya memang setiap manusia membutuhkan orang lain sehingga disebut dengan makhluk sosial. Maka dari itu, konsep gotong royong dapat dengan mudah mencapai hasil yang diinginkan karena dikerjakan bersama-sama. Namun, kemandirian juga perlu diterapkan karena beberapa hal dapat dilakukan sendiri.

Jika kamu merasa tidak dapat sendiri meski dalam waktu sebentar, mungkin saja telah mengalami gangguan kepribadian dependen. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa cemas yang berlebihan ketika tidak ada seseorang di sisinya. Selain itu, seseorang dengan gangguan ini mungkin juga mengalami gejala berupa takut ditinggalkan. Berikut bahasan lebih lengkapnya!

Baca juga: Tidak Bisa Mandiri, Kenali Gangguan Kepribadian Dependen

Gejala Gangguan Kepribadian Dependen

Dependent personality disorder atau gangguan kepribadian dependen adalah suatu gangguan kecemasan yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk menyendiri. Pengidapnya akan merasakan rasa cemas yang parah saat tidak ada seseorang di sekitarnya. Seseorang dengan gangguan ini sangat mengandalkan orang lain untuk menimbulkan rasa nyaman, kepastian, hingga dukungan.

Pengidap gangguan kepribadian dependen harus diyakinkan oleh orang lain agar berani melakukan sesuatu. Selain itu, kondisi ini dapat membuat seseorang kerap menimbulkan gejala yang salah satunya adalah takut untuk ditinggalkan. Ia bahkan mengharuskan orang lain untuk tetap berada pada jarak pandangnya dan takut untuk berpisah dengan alasan apa pun.

Selain rasa cemas, seseorang dengan gangguan kepribadian dependen juga dapat mengalami beberapa dampak buruk, seperti gugup, gelisah, serangan panik, hingga putus asa. Seseorang dengan gangguan kecemasan juga dapat mengalami gejala yang sama. Maka dari itu, sangat penting untuk mendapatkan diagnosis yang benar tanpa mengambil kesimpulan sendiri agar tidak salah mendapatkan penanganan.

Jika kamu ingin jawaban yang lebih jelas terkait segala gejala yang timbul akibat gangguan kepribadian dependen, psikolog atau psikiater dari Halodoc siap membantu. Caranya mudah sekali, cukup dengan download aplikasi Halodoc di smartphone yang kamu gunakan untuk mendapatkan kemudahan akses kesehatan.

Baca juga: Ini 3 Gangguan Kepribadian yang Mesti Diwaspadai

Cara Diagnosis Gangguan Kepribadian Dependen

Diagnosis dari kelainan ini harus dibedakan dari gangguan kepribadian ambang, karena keduanya memiliki gejala yang sama. Dikutip dari Web MD, seseorang yang mengidap gangguan kepribadian ambang menimbulkan gejala berupa takut ditinggalkan dengan perasaan marah dan hampa. Namun berbeda dengan gangguan kepribadian dependen, rasa takut tersebut timbul bersamaan dengan sikap tunduk dan segera mencari hubungan lainnya agar rasa ketergantungannya tidak hilang.

Jika sebagian besar atau semua gejala dari gangguan tersebut timbul, dokter akan melakukan evaluasi dengan mengambil riwayat medis dan kejiwaan secara menyeluruh. Pemeriksaan ini mungkin juga melibatkan pemeriksaan fisik dasar. Selain itu, dokter mungkin menggunakan berbagai tes diagnostik untuk menyingkirkan penyakit fisik sebagai penyebab gejalanya.

Apabila dokter tidak menemukan alasan fisik untuk gejala yang timbul, maka rujukan ke psikiater atau psikolog dapat dilakukan. Hal ini untuk memastikan diagnosis dan mengobat penyakit mental yang terjadi. Ahli medis tersebut dapat menggunakan alat wawancara dan penilaian khusus untuk mengevaluasi seseorang yang mengidap gangguan kepribadian dependen.

Baca juga: Inilah 4 Gejala BPD Borderline Personality Disorder yang Mesti Diwaspadai

Penanganan dari Gangguan Kepribadian Dependen

Perawatan dari gangguan ini berfokus pada peringanan gejala yang timbul. Dikutip dari Healthline, hal pertama yang paling umum dilakukan untuk penanganan adalah psikoterapi. Cara ini dapat membantu kamu untuk lebih paham terkait kondisi yang terjadi dan mengajarkan bagaimana membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Metode ini umumnya dilakukan dalam jangka pendek untuk menghindari ketergantungan pada terapis.

Selain itu, konsumsi obat-obatan juga dapat membantu untuk menghilangkan rasa cemas dan depresi, tetapi biasanya dilakukan sebagai upaya terakhir. Terapis atau psikiater mungkin akan meresepkan obat untuk menekan serangan panik yang timbul akibat kecemasan yang ekstrem. Beberapa obat tersebut dapat menyebabkan ketergantungan, maka dari itu diperlukan kunjungan dokter secara teratur untuk mencegahnya.

Nah, itulah pembahasan mengenai gangguan kepribadian dependen yang dapat menyebabkan pengidapnya takut untuk ditinggalkan. Dengan mengetahui segala gejala yang timbul, kamu dapat memastikan gangguan yang terjadi benar disebabkan oleh penyakit ketergantungan tersebut atau tidak.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Dependent Personality Disorder (DPD).
Web MD. Diakses pada 2020. Dependent Personality Disorder.