• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Takut Jalani Hidup Mandiri, Awas Sindrom Cinderella Complex

Takut Jalani Hidup Mandiri, Awas Sindrom Cinderella Complex

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Stigma yang beredar di masyarakat dan pola asuh bisa membuat anak-anak tumbuh dengan mengembangkan sindrom Cinderella complex. Secara umum, kondisi ini ditandai dengan gejala utama merasa takut saat harus menjalani hidup mandiri. Mengapa begitu? 

Sindrom Cinderella Complex digunakan untuk menggambarkan kepribadian atau sikap menyerupai Cinderella, yaitu salah satu sosok puteri dari dongen klasik karya Charles Perrault. Cerita Cinderella masih digandrungi hingga saat ini. Dalam kisahnya, Cinderella diceritakan sebagai gadis muda yang hidup merana di bawah siksaan ibu dan saudara tirinya dan memiliki hidup menderita. Namun, kehidupannya berubah setelah ia menghadiri pesta dansa dan bertemu dengan seorang pangeran. Lalu, apa hubungan kisah tersebut dengan sindrom Cinderella Complex?

 Baca juga: 5 Gejala Terkena Sindrom Cinderella Complex yang Sering Diabaikan

Fakta Seputar Sindrom Cinderella Complex

Meski bersifat fantasi, ternyata di dunia nyata juga dikenal sebuah kondisi yang disebut Sindrom Cinderella Complex. Istilah sindrom Cinderella Complex (CC) pertama kali dicetuskan oleh Colette Dowling, dan kemudian digunakan sebagai istilah psikiatri modern. Itu berarti, sindrom Cinderella complex sebenarnya adalah istilah populer dan belum diteliti secara mendalam. 

Penggunaan istilah Cinderella Complex pertama kali dimuat dalam buku berjudul “The Cinderella Complex: Women's Hidden Fear of Independence”. Jadi, sindrom Cinderella Complex belum bisa dijadikan sebagai sebuah gangguan secara psikologis. Namun, secara umum istilah ini digunakan dan menyoroti masalah kemandirian pada seseorang, khususnya pada perempuan. 

Melalui bukunya, Colette Dowling menjelaskan bahwa kebanyakan perempuan tidak dididik untuk menghadapi ketakutannya. Perempuan juga tidak diajarkan mengatasi segala masalahnya sendiri. Hal itu yang diduga menjadi pemicu terjadinya masalah kemandirian. Meski belum termasuk dalam masalah psikologis, sindrom Cinderella Complex cukup dekat kaitannya dengan gangguan psikologis, yaitu gangguan kepribadian dependen. 

Baca juga: Enggak Seindah Dongeng, Hati-Hati Gejala Sindrom Cinderella Complex

Sindrom Cinderella Complex digambarkan sebagai gangguan kepribadian yang menyebabkan seseorang menjadi sangat tergantung pada orang lain. Bahkan, orang dengan sindrom ini nyaris tidak bisa untuk hidup mandiri dan melakukan hal-hal tertentu tanpa bantuan orang lain. Sindrom ini memicu keinginan untuk selalu diurusi oleh orang lain, seringnya keinginan itu muncul tanpa disadari. Orang dengan sindrom ini juga umumnya merasa sangat ingin dilindungi dan membutuhkan sosok pria sebagai tameng dalam kehidupannya.

Sindrom Cinderella Complex diduga erat kaitannya dengan pola asuh yang diterapkan sejak kecil. Perbedaan pola asuh antara anak laki-laki dan anak perempuan diduga menjadi pemicunya. Pada kebanyakan keluarga, pola asuh yang diterapkan pada anak perempuan cenderung lebih tidak mendorongnya untuk menjadi mandiri.

Selain itu, anak perempuan juga sering dibesarkan dengan pola asuh orang tua yang lebih protektif. Seseorang dikatakan mengidap Cinderella Complex jika menunjukkan beberapa gejala seperti, mendambakan pasangan yang bisa menyelamatkan, yaitu seseorang yang dapat melindungi, mengayomi, dan menyediakan segala kebutuhan hidupnya. Selain itu, pengidap sindrom ini juga takut menjalani hidup mandiri.

Baca juga: 3 Hal Ini Bisa Jadi Penyebab Sindrom Cinderella Complex

Jika merasa mengalami gejala seperti sindrom Cinderella Complex atau mengetahui orang yang memiliki gangguan ini, cobalah untuk membicarakannya dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasinya. Kamu bisa memanfaatkan aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter melalui Video/Voice Call atau Chat. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play! 


Referensi:
Womens Wellbeing and Mental Health. Diakses pada 2020. The Cinderella Complex. 
Empowher. Diakses pada 2020. Psychology Behind The Cinderella Complex. 
People. Diakses pada 2020. Many Women Yearn to Be Saved, Just Like Cinderella, Argues Colette Dowling.